Realitas yang Dibentuk Layar: Relevansi Teori Kultivasi di Era Digital

Windy Aulia (Mahasiswa Ilmu Komunikasi dan Desain Universitas Pamulang)

Ikon Campus Daily web

Minggu, 21 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Portal Mahasiswa | Pernahkah kita merasa bahwa orang yang sedang berlibur ke luar negeri, memiliki gaya hidup mewah? Perasaan tersebut sering muncul bukan karena kita menyaksikannya secara langsung, melainkan karena apa yang sering kita lihat di layar ponsel kita. Di era digital saat ini, media sosial bukan hanya sekadar alat untuk berkomunikasi dan sarana hiburan, tetapi menjadi ruang yang membentuk cara kita memahami dunia.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa teori kultivasi yang dikembangkan oleh Gerbner dan kawan-kawan masih relevan di era digital saat ini. Dulu televisi menjadi media utama yang membentuk persepsi masyarakat. Namun, di era digital saat peran tersebut telah bergeser ke media sosial seperti Tiktok, Instagram, YouTube, dan platform digital lainnya. Malah, pengaruhnya bahkan lebih kuat karena adanya algoritma yang secara terus-menerus menyajikan konten yang sesuai dengan minat penggunanya. Akibatnya, realitas yang dipahami masyarakat bukan hanya dari pengalaman langsung, melainkan berasal dari apa yang terus berulang kali dilihat di layar ponsel.

Baca Juga :  Pertumbuhan Ekonomi Per Kapita sebagai Indikator Perkembangan Ekonomi Indonesia

Perkembangan teknologi telah mengubah lanskap komunikasi massa. Media sosial saat ini telah menjadi sumber informasi, hiburan, bahkan referensi gaya hidup. Oleh karena itu, media sosial saat ini yang membentuk cara berpikir dan perilaku seseorang. Jika dibandingkan dengan televisi, televisi menyajikan tayangan yang relatif sama kepada semua penonton, media sosial justru memberikan konten konten yang dipersonalkan melalui adanya algoritma. Misalnya tiktok, menampilkan halaman For your Page (FYP) berdasarkan kebiasaan pengguna dalam menonton, menyukai hingga memembagikan konten. Semakin sering pengguna tersebut berinteraksi dengan suatu konten, semakin sering juga konten yang sama akan muncul.

Kondisi tersebutlah yang membuat proses kultivasi semakin kuat. Seseorang terus-menerus melihat konten-konten konflik atau kriminalitas akan memandang dunia saat ini semakin seram dan berbahaya. Dan ketika dipaparkan dengan konten kecantikan, tubuh ideal, gaya hidup tertentu dapat memengaruhi penilaiannya terhadap dirinya sendiri. Mereka akan merasa kurang, malu tampil di depan kamera karna adanya standar yang mereka lihat di media sosial. Padahal, apa yang mereka lihat belum temtu memcerminkan kehidupan nyatanya secara utuh.

Baca Juga :  Peran Produk dalam Manajemen Jasa untuk Meningkatkan Kepuasan dan Loyalitas Pelanggan

Namun disisi lain, media sosial juga membawa dampak positif kepada penggunanya. Berbagi isu sosial, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan yang dapat menjangkau audiens secara luas sehingga dapat meningkatkan kesadaran publik. Hal ini menunjukkan bahwa kultivasi tidak selalu negatif namun bergantung pada jenis konten yang paling sering di konsumsi masyarakat.

Oleh karena itu, tantangan terbesarnya bukanlah menghindari media digital, melainkan bagaimana masyarakat mampu untuk menggunakannya secara kritis. Literasi digital sangat penting agar masyarakat mampu memahami cara kerja algoritma, memverifikasi informasi, dan menyadari bahwa apa yang mereka lihat di media sosial belum tentu sesuai dengan kenyataannya.[]

 

Follow WhatsApp Channel campusdaily.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Public Speaking, Keterampilan Penting untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Mahasiswa
Media Sosial Mengubah Cara Mahasiswa Berkomunikasi
Pasar Persaingan Sempurna: Karakteristik, Keuntungan, dan Strategi Perusahaan dalam Menghadapi Persaingan
Berani Bicara di Depan Umum: Panduan Praktis untuk Mahasiswa
Strategi Pengembangan dan Pembelajaran Talenta dalam Meningkatkan Kinerja Organisasi di Era Digital
Pelatihan Komunikasi Efektif Sebagai Sarana Penguatan Keterampilan Public Speaking Anak Binaan Yayasan Pundi Amal Dermawan Indonesia
Ketika Omongan Jadi Konten: Di Mana Batas Etika Public Speaking di Era Viral?
Studi Kelayakan Bisnis Berbasis Lingkungan Sebagai Upaya Menciptakan Usaha Berkelanjutan

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:43 WIB

Public Speaking, Keterampilan Penting untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Mahasiswa

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:13 WIB

Media Sosial Mengubah Cara Mahasiswa Berkomunikasi

Senin, 12 Oktober 2026 - 10:01 WIB

Pasar Persaingan Sempurna: Karakteristik, Keuntungan, dan Strategi Perusahaan dalam Menghadapi Persaingan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 06:34 WIB

Strategi Pengembangan dan Pembelajaran Talenta dalam Meningkatkan Kinerja Organisasi di Era Digital

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Pelatihan Komunikasi Efektif Sebagai Sarana Penguatan Keterampilan Public Speaking Anak Binaan Yayasan Pundi Amal Dermawan Indonesia

Berita Terbaru

Kampus

Cara Kirim Artikel Mahasiswa di Media Online

Rabu, 2 Sep 2026 - 21:30 WIB

dok.megapolitan.antaranews.com

Kampus

UI Dorong Standar Nasional Pengelolaan Asrama Mahasiswa

Senin, 19 Okt 2026 - 10:42 WIB

Opini

Media Sosial Mengubah Cara Mahasiswa Berkomunikasi

Selasa, 13 Okt 2026 - 20:13 WIB