Dampak Program MBG Berikan Tekanan Harga Bahan Pokok yang Pengaruhi Daya Beli Masyarakat

Tia Mei Saputri & Ulfi Nur Safitri (Mahasiswa Prodi Manajemen Universitas Pamulang)

Sabtu, 29 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Pengembangan Website Kampus Daily
+ Donasi

dok kemendikdasmen

dok kemendikdasmen

Kampus Daily | Di bawah arahan dan kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, program MBG (Makan Bergizi Gratis) merupakan program pemerintah yang dirancang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penyediaan makanan bergizi untuk balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak usia sekolah. Program ini menjadi prioritas pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Meskipun program MBG bukan satu-satunya penyebab kenaikan harga pangan, besarnya permintaan yang ditimbulkannya berpotensi memberikan tekanan tambahan pada komoditas pangan tertentu, terutama ketika kapasitas pasokan sulit ditingkatkan dalam jangka pendek.

Namun, di samping tujuan-tujuan tersebut, pelaksanaan program MBG dengan skala sebesar ini juga menghadirkan tantangan baru bagi ekosistem pangan nasional. Akibat peningkatan permintaan yang signifikan dan relatif konsisten terhadap komponen pangan, program ini dapat mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok. Secara khusus, jika lonjakan permintaan tidak dibarengi dengan peningkatan kapasitas pasokan yang sepadan dalam periode yang sama, situasi ini berisiko mengganggu keseimbangan dasar antara penawaran (supply) dan permintaan (demand).

Berdasarkan Petunjuk Teknis Tata Kelola Penyelenggaraan Program MBG Tahun Anggaran 2026, pemerintah menargetkan sekitar 82,9 juta penerima manfaat dengan kebutuhan sekitar 35.000-40.000 SPPG yang tersebar di 38 provinsi. Skala yang sangat besar ini menunjukkan bahwa MBG bukan sekadar program sosial, melainkan juga pembeli pangan berskala besar dalam sistem pasar lokal. Selama pelaksanaan program MBG, terdapat beberapa faktor pendorong utama yang berkontribusi terhadap kenaikan harga pangan, antara lain:

Lonjakan Permintaan Mendadak

Pembelian pangan dalam jumlah besar setiap hari, yang mencakup beras, telur, daging ayam, dan sayuran, dilakukan oleh ribuan unit SPPG. Kondisi ini menciptakan kebutuhan tambahan yang signifikan terhadap komoditas pangan tertentu, mengingat jumlah SPPG meningkat. Hal ini berpotensi menyebabkan pengalihan sebagian pasokan dari petani, peternak, distributor, dan agen untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG, sehingga mengurangi ketersediaan pasokan bagi pasar tradisional dan konsumen rumah tangga, khususnya di wilayah dengan kapasitas produksi yang rendah.

Baca Juga :  Peringatan Hari Buruh: Realitas Buruh Indonesia di Tengah Tekanan Ekonomi dan Kebijakan Publik

Fenomena mulai terlihat pada komoditas unggas. Baparnas mengamati bahwa dimulainya kembali program MBG setelah libur sekolah menyebabkan kenaikan harga di tingkat peternakan pada bulan Juli 2026. Pemantauan mingguan oleh Bapanas menunjukkan adanya kenaikan harga ayam broiler di tingkat peternak sebesar 4,11%, di samping kenaikan harga telur. Bapanas mengidentifikasi beroperasinya kembali dapur-dapur SPPG sebagai faktor utama yang mendorong peningkatan konsumsi unggas.

Menariknya, situasi ini tidak berarti program MBG merugikan para peternak. Sebaliknya, lonjakan permintaan akibat MBG dapat menjadi katalis positif dari sudut pandang produsen. Ketika harga sebelumnya terlalu rendah, program ini dapat memberikan kepastian pasar dan mendongkrak harga komoditas. Bapanas secara aktif mendorong pembelian telur dan ayam melalui program MBG pada bulan Juni 2026, menciptakan tekanan penurunan harga yang tajam di tingkat peternakan.

Persoalannya bukan sekadar apakah MBG menurunkan atau menaikkan harga, melainkan bagaimana lonjakan permintaan yang ditimbulkan dapat dikelola untuk membantu produsen tanpa membebani rumah tangga secara berlebihan.

Menu yang Kurang Terdiversifikasi

Masalah lain dapat muncul jika perencanaan menu terlalu berfokus pada produk pangan tertentu. Lonjakan permintaan akan terkonsentrasi pada produk-produk tersebut apabila komoditas tertentu seperti telur, ayam, beras, dan jenis sayuran tertentu sering digunakan.

Oleh karena itu, tidak semua produk pangan menghadapi tekanan harga yang sama. Dibandingkan dengan produk yang memiliki banyak alternatif atau rantai pasok yang lebih fleksibel, komoditas dengan permintaan tinggi namun ketersediaan terbatas dalam jangka pendek lebih rentan mengalami kenaikan harga. Akibatnya, diversifikasi menu dapat menjadi strategi pengelolaan permintaan untuk mencegah penumpukan permintaan pada komoditas tertentu, di samping sekadar menyajikan beragam hidangan dan memenuhi kebutuhan gizi.

Ketika permintaan meningkat namun pasokan tidak bisa bertambah seketika, fenomena tersebut dijelaskan melalui konsep Aggregate Demand Shock dan teori elastisitas penawaran. Dari sudut pandang ekonomi, peningkatan belanja pemerintah melalui inisiatif MBG dapat ditafsirkan sebagai masuknya permintaan ke pasar pangan tertentu. Dengan kata lain, penyesuaian pasar lebih banyak terjadi melalui kenaikan harga daripada peningkatan kuantitas ketika kapasitas produsen untuk menambah pasokan dalam jangka pendek terbatas, sementara permintaan meningkat. Produk pangan segar, termasuk sayuran, daging ayam, dan telur, memiliki pasokan jangka pendek yang cenderung inelastis. Hal ini berarti produsen unggas tidak dapat menambah jumlah ternak atau memanen sayuran dengan cepat. Penyesuaian pasar tampak sebagai kenaikan harga, bukan sekadar peningkatan volume pasar, karena pasokan tidak dapat merespons dengan cepat saat terjadi lonjakan permintaan yang pesat dari dapur MBG.

Baca Juga :  Konjungsi Korelatif dalam Menciptakan Kepastian Hukum

Program MBG merupakan investasi penting dalam meningkatkan kualitas SDM Indonesia di masa depan. Selain itu, program ini menciptakan permintaan baru bagi penyedia pangan lokal, peternak, petani, dan pedagang. Faktanya, data dari Bapanas menunjukkan bahwa selama program MBG berlangsung, peningkatan pembeli oleh dapur MBG berkontribusi pada kenaikan harga ayam dan telur di tingkat peternak, yang sebelumnya sempat mengalami tekanan harga.

Namun, manajemen rantai pasok yang efisien diperlukan untuk menikmati manfaat tersebut. Apakah keberhasilan dalam perbaikan gizi anak saat ini harus dibayar dengan penurunan daya beli masyarakat luas akibat kenaikan harga  pangan? Apakah alokasi anggaran negara untuk rantai pasok lokal yang berkelanjutan selaras dengan integrasinya, atau pasar tradisional akan terus dikesampingkan oleh kebijakan belanja tersebut?

Pada akhirnya, persoalannya bukan tentang memilih antara daya beli masyarakat dan program MBG, melainkan bagaimana keduanya dapat berjalan beriringan. Sistem rantai pasok dengan karakteristik berikut sangat penting bagi program berskala MBG, yaitu terencana, terdiversifikasi, terintegrasi dengan produsen lokal, serta mampu mengantisipasi kebijakan pemerintah. Program MBG dapat berperan sebagai katalis bagi ekonomi pangan di samping fungsinya sebagai program gizi tanpa membebani harga atau daya beli masyarakat secara berlebihan, asalkan kemampuan produksi lokal dapat diselaraskan secara efektif dengan permintaan nasional.[]

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Penerapan Riset Operasi Dalam Menentukan Lokasi Usaha Yang Optimal
Pendidikan Karakter Tidak Bisa Digantikan oleh Media Massa
Realitas yang Dibentuk Layar: Relevansi Teori Kultivasi di Era Digital
Avoidant dalam Perspektif Komunikasi Hati
Menurunnya Investasi dan Ancaman Perlambatan Ekonomi Nasional
Daya Beli Masyarakat Melemah, Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Tertahan
4 Aspek Kritis Security Awareness: Evolusi dari Manual ke Integrasi Teknologi
Peringatan Hari Buruh: Realitas Buruh Indonesia di Tengah Tekanan Ekonomi dan Kebijakan Publik

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 11:48

Dampak Program MBG Berikan Tekanan Harga Bahan Pokok yang Pengaruhi Daya Beli Masyarakat

Jumat, 26 Juni 2026 - 14:43

Penerapan Riset Operasi Dalam Menentukan Lokasi Usaha Yang Optimal

Selasa, 23 Juni 2026 - 08:26

Pendidikan Karakter Tidak Bisa Digantikan oleh Media Massa

Minggu, 21 Juni 2026 - 14:11

Realitas yang Dibentuk Layar: Relevansi Teori Kultivasi di Era Digital

Sabtu, 20 Juni 2026 - 13:11

Avoidant dalam Perspektif Komunikasi Hati

Berita Terbaru