Di Balik Budaya Scroll dan Beli: Kehidupan yang Terjebak dalam Siklus Microtrend

Dara Annisa Isbach dan Velliana (Mahasiswa Universitas Pamulang)

Ikon Campus Daily web

Jumat, 11 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Campus Daily | Di era digital saat ini, kebiasaan “scroll dan beli” sudah menjadi bagian dari rutinitas banyak orang. Setiap kali membuka ponsel, kita disuguhi berbagai rekomendasi produk yang tampak seolah-olah dirancang khusus untuk kita: mulai dari baju, aksesori, skincare, hingga barang-barang kecil yang sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan. Semua terlihat menarik, semua seakan perlu dibeli. Lama-kelamaan, kita terbiasa mengambil keputusan tanpa benar-benar mempertimbangkan kegunaan jangka panjang dari barang tersebut apakah memang kita butuhkan atau hanya memuaskan keinginan sesaat.

Fenomena ini semakin kuat karena kehadiran microtrend, yaitu tren kecil yang muncul sangat cepat, viral sebentar, lalu hilang begitu saja. TikTok dan Instagram berperan besar dalam mempercepat perputaran tren ini. Seseorang mengunggah konten tentang satu produk, video tersebut viral, dan ribuan orang lainnya ikut terbawa arus untuk membeli produk yang sama. Belum sempat barang itu benar-benar terpakai, tren baru sudah datang lagi, mendorong kita ke dalam siklus konsumsi yang tidak pernah berhenti.

Microtrend menciptakan budaya konsumsi impulsif. Banyak orang membeli sesuatu hanya karena takut ketinggalan atau merasa perlu mengikuti perkembangan agar tetap relevan. Pada akhirnya, barang-barang tersebut sering berakhir menumpuk di kamar, terpakai hanya sekali dua kali, atau malah dijual kembali dengan harga lebih murah. Kesadaran baru muncul ketika dompet mulai menipis atau ruang penyimpanan terasa sesak pertanda bahwa kita terjebak dalam pola konsumtif yang tidak sehat.

Baca Juga :  Universitas Teuku Umar Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Banjir di Aceh

Lebih jauh lagi, budaya ini turut membentuk cara kita memandang identitas diri. Jika dulu gaya berpakaian atau barang yang kita punya mencerminkan preferensi jangka panjang, kini identitas berubah secepat tren media sosial: hari ini tampil ala “clean girl”, besok mengikuti aesthetic “coquette”, dan minggu depan mungkin berubah lagi. Kita tidak diberi cukup waktu untuk benar-benar mengenal diri sendiri karena terlalu sibuk mengejar tren yang selalu berganti.

Tekanan mental juga muncul secara halus. Paparan microtrend membuat kita merasa kurang ketika tidak memiliki barang yang sedang viral. Ada rasa tertinggal saat tidak mampu mengikuti tren terbaru, meski sebenarnya tidak ada urgensi untuk melakukannya. Jika terus dibiarkan, perasaan itu bisa menumbuhkan kecemasan dan ketidakpuasan permanen terhadap diri sendiri, seolah validasi dan nilai diri bergantung pada apa yang kita miliki.

Di balik itu semua, lingkungan turut menanggung beban berat. Konsumsi cepat yang lahir dari microtrend menghasilkan limbah yang terus bertambah. Pakaian dan aksesori yang hanya dipakai singkat sering kali dibuang begitu saja, memperparah masalah sampah dan produksi berlebih dari industri fast fashion. Setiap tren yang kita ikuti meninggalkan jejak karbon yang tidak kasat mata namun nyata dampaknya.

Baca Juga :  Manajemen Dakwah IPNU-IPPNU Ambulu: Strategi Kaderisasi dan Adaptasi di Era Digital

Meski begitu, budaya digital ini tidak sepenuhnya buruk. Yang kita perlukan adalah kesadaran. Bertanya pada diri sendiri sebelum membeli apakah kita sedang merasa butuh, atau hanya ikut arus? Apakah barang ini benar-benar mencerminkan diri kita, atau hanya tren sesaat? Dengan refleksi seperti itu, kita bisa mulai mengendalikan konsumsi dan keluar dari siklus impulsif yang diciptakan oleh microtrend.

Pada akhirnya, budaya scroll dan beli adalah cermin dari dinamika zaman. Ia menunjukkan bagaimana teknologi mampu membentuk perilaku, kebiasaan, hingga cara kita memaknai diri. Tantangannya adalah menjaga agar kita tetap bijak dan sadar, tidak membiarkan tren yang datang dan pergi menentukan siapa diri kita. Sebab di balik kilau microtrend yang cepat berganti, ada kehidupan yang jauh lebih penting untuk dijalani lebih stabil, lebih penuh makna, dan lebih sesuai dengan diri kita yang sebenarnya.[]

 

Editor : Fathurroji

Follow WhatsApp Channel campusdaily.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Public Speaking, Keterampilan Penting untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Mahasiswa
Media Sosial Mengubah Cara Mahasiswa Berkomunikasi
Pasar Persaingan Sempurna: Karakteristik, Keuntungan, dan Strategi Perusahaan dalam Menghadapi Persaingan
Berani Bicara di Depan Umum: Panduan Praktis untuk Mahasiswa
Strategi Pengembangan dan Pembelajaran Talenta dalam Meningkatkan Kinerja Organisasi di Era Digital
Pelatihan Komunikasi Efektif Sebagai Sarana Penguatan Keterampilan Public Speaking Anak Binaan Yayasan Pundi Amal Dermawan Indonesia
Ketika Omongan Jadi Konten: Di Mana Batas Etika Public Speaking di Era Viral?
Studi Kelayakan Bisnis Berbasis Lingkungan Sebagai Upaya Menciptakan Usaha Berkelanjutan

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:43 WIB

Public Speaking, Keterampilan Penting untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Mahasiswa

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:13 WIB

Media Sosial Mengubah Cara Mahasiswa Berkomunikasi

Senin, 12 Oktober 2026 - 10:01 WIB

Pasar Persaingan Sempurna: Karakteristik, Keuntungan, dan Strategi Perusahaan dalam Menghadapi Persaingan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 06:34 WIB

Strategi Pengembangan dan Pembelajaran Talenta dalam Meningkatkan Kinerja Organisasi di Era Digital

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Pelatihan Komunikasi Efektif Sebagai Sarana Penguatan Keterampilan Public Speaking Anak Binaan Yayasan Pundi Amal Dermawan Indonesia

Berita Terbaru

Kampus

Cara Kirim Artikel Mahasiswa di Media Online

Rabu, 2 Sep 2026 - 21:30 WIB

dok.megapolitan.antaranews.com

Kampus

UI Dorong Standar Nasional Pengelolaan Asrama Mahasiswa

Senin, 19 Okt 2026 - 10:42 WIB

Opini

Media Sosial Mengubah Cara Mahasiswa Berkomunikasi

Selasa, 13 Okt 2026 - 20:13 WIB