Campus Daily | Ketika mendengar istilah public speaking, hal pertama yang biasanya muncul dalam pikiran adalah seseorang yang mampu berbicara dengan lancar, percaya diri, dan menarik di depan banyak orang. Padahal, kemampuan berbicara bukan satu-satunya hal yang menentukan keberhasilan komunikasi. Seorang pembicara juga harus mampu mendengarkan dan berpikir secara kritis. Tanpa kedua kemampuan tersebut, seseorang mungkin terlihat pandai berbicara, tetapi belum tentu mampu memahami orang lain dan memberikan respons yang tepat.
Mendengar Bukan Berarti Mendengarkan
Dalam komunikasi, mendengar dan mendengarkan memiliki makna yang berbeda. Mendengar lebih berkaitan dengan menerima suara, sedangkan mendengarkan membutuhkan perhatian dan pemahaman terhadap pesan yang disampaikan. Proses mendengarkan meliputi menerima, memahami, mengingat, mengevaluasi, dan memberikan respons.
Hal sederhana ini sering kali justru sulit dilakukan. Ketika seseorang sedang berbicara, kita terkadang sudah sibuk memikirkan jawaban yang ingin diberikan. Akibatnya, kita hanya menunggu giliran berbicara tanpa benar-benar memahami apa yang disampaikan. Padahal, komunikasi yang baik membutuhkan dua pihak yang sama-sama mau mendengarkan.
Dalam public speaking, kemampuan mendengarkan menjadi semakin penting ketika pembicara menerima pertanyaan atau tanggapan dari audiens. Pembicara yang mendengarkan dengan baik akan memahami pertanyaan terlebih dahulu sebelum memberikan jawaban. Dengan begitu, jawaban yang diberikan dapat lebih sesuai dengan apa yang sebenarnya ditanyakan.
Tidak Semua Diam Berarti Mendengarkan
Seseorang yang diam belum tentu sedang mendengarkan. Ada orang yang hanya mendengarkan secara pasif tanpa memberikan respons atau menunjukkan perhatian. Sebaliknya, active listening menunjukkan keterlibatan seseorang dalam proses komunikasi. Pendengar memberikan perhatian, tidak memotong pembicaraan, memahami isi pesan, dan memberikan respons yang sesuai.
Mendengarkan secara aktif juga berarti tidak terburu-buru menghakimi. Setiap orang dapat memiliki pengalaman dan sudut pandang yang berbeda. Oleh karena itu, sebelum memberikan penilaian, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh orang lain.
Kemampuan ini sangat berguna dalam kehidupan mahasiswa. Misalnya, ketika mengerjakan tugas kelompok, setiap anggota dapat memiliki pendapat berbeda mengenai pembagian tugas atau isi presentasi. Jika setiap orang hanya ingin pendapatnya didengar, diskusi akan sulit menghasilkan keputusan. Sebaliknya, jika anggota kelompok mau mendengarkan dan memahami pendapat satu sama lain, komunikasi akan menjadi lebih efektif.
Setelah Mendengar, Kita Harus Berpikir
Mendengarkan saja belum cukup. Informasi yang diterima juga perlu diolah melalui criticalthinking atau berpikir kritis. Berpikir kritis merupakan proses berpikir secara terarah untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menggunakan informasi sebagai dasar dalam mengambil keputusan. Foundation for Critical Thinking menjelaskan bahwa critical thinking melibatkan proses menganalisis, mengevaluasi, dan mengolah informasi secara disiplin dengan mempertimbangkan alasan serta bukti yang relevan.
Dalam public speaking, kemampuan berpikir kritis membantu seseorang memberikan jawaban yang lebih tepat. Contohnya, ketika seorang mahasiswa sedang melakukan presentasi dan mendapatkan pertanyaan yang sulit, ia tidak perlu langsung menjawab secara terburu-buru. Ia dapat memahami pertanyaan, mempertimbangkan informasi yang dimiliki, kemudian menyusun jawaban berdasarkan alasan yang jelas.
Berpikir kritis juga membuat seseorang tidak mudah menerima informasi begitu saja. Informasi yang didengar perlu dipertanyakan: apakah informasi tersebut relevan, apakah terdapat alasan yang mendukung, dan apakah kesimpulannya masuk akal? Kemampuan untuk mengajukan pertanyaan seperti ini membantu seseorang menghindari kesalahpahaman dan membuat keputusan yang lebih terarah.
Listening dan Critical Thinking Saling Melengkapi
Listening dan critical thinking sebenarnya merupakan dua kemampuan yang saling berhubungan. Listening membantu seseorang memperoleh dan memahami informasi, sedangkan critical thinking membantu seseorang mengolah, menilai, dan menentukan respons terhadap informasi tersebut. Critical listening sendiri menuntut seseorang untuk memahami pesan sekaligus memperhatikan sudut pandang, alasan, dan maksud dari pembicara.
Bayangkan seseorang sedang mengikuti diskusi. Jika ia tidak mendengarkan dengan baik, informasi yang diterima akan tidak lengkap. Jika ia tidak berpikir kritis, informasi tersebut mungkin diterima begitu saja tanpa dipertimbangkan. Akibatnya, respons yang diberikan bisa tidak sesuai dengan pembicaraan.
Sebaliknya, ketika seseorang mampu mendengarkan dengan baik kemudian berpikir secara kritis, ia dapat memberikan tanggapan yang lebih relevan. Ia tidak hanya berbicara untuk menunjukkan bahwa dirinya tahu, tetapi berbicara berdasarkan apa yang benar-benar dipahami.
Penting dalam Kehidupan Sehari-hari
Kemampuan listening dan critical thinking tidak hanya digunakan ketika melakukan presentasi. Keduanya juga dibutuhkan dalam perkuliahan, organisasi, pekerjaan, maupun kehidupan sosial.
Sebagai mahasiswa, kita sering menerima berbagai informasi dari dosen, teman, media sosial, dan internet. Tidak semua informasi tersebut harus langsung dipercaya. Kita perlu mendengarkan atau membaca dengan baik, kemudian mempertimbangkan informasi tersebut secara kritis. Critical thinking mendorong seseorang untuk mengumpulkan informasi, menilai relevansinya, mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda, dan menghasilkan kesimpulan yang memiliki alasan.
Dalam kerja kelompok, listening membantu kita memahami tugas dan pendapat anggota lain. Sementara itu, critical thinking membantu kita menentukan solusi ketika terjadi perbedaan pendapat. Dengan demikian, kedua kemampuan tersebut dapat membantu menciptakan komunikasi yang lebih terbuka dan mengurangi kesalahpahaman.
Kemampuan ini juga penting ketika seseorang menerima kritik. Orang yang mampu mendengarkan tidak langsung menganggap kritik sebagai serangan. Ia mencoba memahami maksud kritik tersebut terlebih dahulu. Setelah itu, kemampuan berpikir kritis digunakan untuk menentukan apakah kritik tersebut memang relevan dan dapat dijadikan bahan perbaikan.
Menjadi Pembicara yang Baik Dimulai dari Menjadi Pendengar
Public speaking pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang paling banyak berbicara. Pembicara yang baik juga harus mampu memberikan ruang kepada orang lain untuk berbicara dan menunjukkan bahwa pendapat mereka dihargai.
Kemampuan mendengarkan membuat seseorang lebih mudah memahami audiens, sedangkan kemampuan berpikir kritis membantu menentukan respons yang tepat. Keduanya membuat komunikasi tidak hanya berjalan satu arah, tetapi menjadi proses saling memahami.
Menjadi pendengar yang baik juga membutuhkan latihan. Seseorang dapat membiasakan diri untuk tidak memotong pembicaraan, memperhatikan pembicara, mengajukan pertanyaan ketika belum memahami sesuatu, serta mencoba menyampaikan kembali inti pembicaraan dengan kata-kata sendiri. Cara tersebut membantu memastikan bahwa pesan yang diterima memang sesuai dengan maksud pembicara.
Pada akhirnya, public speaking yang baik tidak hanya membutuhkan mulut yang mampu berbicara, tetapi juga telinga yang mau mendengar dan pikiran yang mampu berpikir. Ketika listening dan critical thinking berjalan bersama, seseorang tidak hanya menjadi pembicara yang lebih percaya diri, tetapi juga komunikator yang mampu memahami orang lain, mengolah informasi, dan memberikan respons secara tepat.
Daftar Pustaka
Elder, L., & Paul, R. (2013). A Glossary of Critical Thinking Terms and Concepts. Foundation for Critical Thinking.
Paul, R., & Elder, L. (2008). The Miniature Guide to Critical Thinking Concepts and Tools. Foundation for Critical Thinking Press.
Romli, A. S. M. (2005). Lincah Menulis Pandai Bicara. Bandung: Nuansa.
Romli, A. S. M. (2019). Listening Skills: Seni Menjadi Pendengar yang Baik. RomelteaMedia.
Zuhri, S. (2010). Public Speaking. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Editor : Fathurroji










