Risiko Bekerja Sambil Kuliah: Mampukah Kita Menjaga Keseimbangan Dua Dunia?

Agym Dimas Prayogo & Nia Okta Ramadhani ( Mahasiswa Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas pamulang)

Ikon Campus Daily web

Minggu, 4 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Campus Daily | Bagi sebagian orang, kuliah merupakan fase untuk memperluas pengetahuan dan mempersiapkandiri memasuki dunia profesional. Namun, tidak semua mahasiswa mempunyai kesempatan untukmenjalani perkuliahan tanpa memikirkan pekerjaan. Ada mahasiswa yang sejak awal sudahbekerja dan memilih melanjutkan pendidikan melalui kelas karyawan. Keputusan tersebutmemberikan peluang untuk meningkatkan pendidikan sekaligus mempertahankan pekerjaan, tetapipada saat yang sama menghadirkan tanggung jawab yang tidak sedikit.

Menurut Kami, tantangan terbesar mahasiswa yang bekerja bukan semata-mata karena harusmelakukan dua aktivitas sekaligus. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana mengaturenergi, waktu, dan perhatian agar pekerjaan dan pendidikan tetap berjalan tanpa mengorbankankehidupan pribadi. Mahasiswa kelas karyawan perlu menyadari bahwa mengikuti kuliah pada hariSabtu tidak berarti kewajiban akademik hanya berlangsung satu hari. Tugas, belajar, diskusi, presentasi, dan persiapan ujian tetap membutuhkan waktu di luar jadwal perkuliahan.

1. Dua Peran, Dua Tanggung Jawab

Menjadi karyawan berarti memiliki kewajiban profesional. Ada target yang harus dicapai, pekerjaan yang harus diselesaikan, serta tanggung jawab terhadap organisasi. Sementara itu, menjadi mahasiswa berarti harus memenuhi tuntutan akademik yang juga memiliki batas waktu.

Kedua peran tersebut tidak selalu berjalan pada kondisi yang ideal. Ada kalanya pekerjaan sedangpadat ketika tugas kuliah harus segera dikumpulkan. Pada kesempatan lain, kegiatan akademikseperti presentasi atau tugas kelompok dapat membutuhkan waktu ketika pekerjaan juga sedangmembutuhkan perhatian.

Situasi tersebut membuat kemampuan menentukan prioritas menjadi penting. Mahasiswa perlumemahami bahwa tidak semua pekerjaan harus diselesaikan dalam satu waktu. Membuat daftar kebutuhan berdasarkan tingkat urgensi dapat membantu menentukan aktivitas yang harusdikerjakan lebih dahulu.

Konsep work-study-life balance juga menunjukkan bahwa keseimbangan tidak hanya berkaitandengan pekerjaan dan pendidikan. Kehidupan pribadi tetap menjadi bagian yang perludiperhatikan. Waktu untuk keluarga, interaksi sosial, dan pemulihan diri tidak seharusnyadianggap sebagai sesuatu yang tidak penting.

2. Waktu Menjadi Persoalan Utama

Ketika sebagian besar hari digunakan untuk bekerja, waktu untuk belajar menjadi lebih terbatas. Kondisi tersebut semakin terasa ketika beberapa tugas kuliah diberikan dalam waktu yang berdekatan.

Masalahnya bukan selalu karena mahasiswa tidak mau mengerjakan tugas. Sering kali persoalannya adalah tidak adanya waktu yang cukup panjang untuk menyelesaikan pekerjaanakademik. Karena itu, menunggu waktu luang justru dapat membuat tugas semakin menumpuk.

Menurut Kami, mahasiswa yang bekerja perlu mengubah cara memandang waktu. Belajar tidakharus selalu dilakukan dalam waktu berjam-jam. Waktu yang tersedia dapat digunakan secarabertahap. Misalnya, membaca materi pada satu waktu, membuat kerangka tugas pada kesempatanberikutnya, kemudian menyelesaikan bagian lainnya secara bertahap.

Penelitian yang dibahas dalam dokumen juga menekankan pentingnya pengelolaan batas antaraperan sebagai pekerja dan mahasiswa. Pengaturan batas tersebut dapat membantu seseorangmemberikan perhatian yang sesuai kepada masing-masing tanggung jawab.

Baca Juga :  Bukan Sekadar Mencari Kerja: Pentingnya Perencanaan Karier dan Suksesi bagi Mahasiswa

3. Kelelahan Tidak Bisa Diabaikan

Bekerja selama beberapa hari kemudian mengikuti perkuliahan pada akhir pekan tentumembutuhkan energi. Ketika waktu istirahat semakin sedikit, kemampuan berkonsentrasi dapatikut terganggu.

Namun, pengalaman setiap mahasiswa tentu berbeda. Jenis pekerjaan, lama perjalanan, jumlahjam kerja, beban tugas, dan kualitas istirahat dapat memengaruhi tingkat kelelahan seseorang. Oleh sebab itu, tidak tepat jika semua mahasiswa yang bekerja dianggap pasti mengalami kondisiyang sama.

Yang perlu diperhatikan adalah kemampuan mengenali batas diri. Menyelesaikan banyak kegiatanmemang penting, tetapi memaksakan diri tanpa memberikan waktu pemulihan juga bukan solusi. Istirahat merupakan bagian dari pengelolaan aktivitas, bukan penghambat produktivitas.

 4. Ketika Jadwal Kerja dan Kuliah Bertabrakan

Konflik pekerjaan dan pendidikan dapat muncul ketika dua tuntutan hadir dalam waktu yang berdekatan. Misalnya, seorang mahasiswa harus menyelesaikan tugas kelompok ketika di tempatkerja sedang ada target yang harus dicapai.

Masalah juga dapat terjadi ketika pekerjaan membutuhkan lembur atau perjalanan tertentu. Waktu yang sebelumnya direncanakan untuk belajar akhirnya harus digunakan untuk pekerjaan.

Sebaliknya, tugas kuliah yang membutuhkan koordinasi dengan anggota kelompok juga tidakselalu dapat menyesuaikan dengan jadwal kerja. Kondisi seperti ini membutuhkan komunikasiyang baik.

Menurut Kami, kemampuan berkomunikasi menjadi salah satu keterampilan penting bagimahasiswa kelas karyawan. Jika terjadi benturan yang tidak dapat dihindari, mahasiswa perlumenyampaikan kondisi tersebut secara tepat kepada pihak yang berkaitan, baik di lingkunganpekerjaan maupun pendidikan.

5. Menunda Tugas Hanya Membuat Beban Bertambah

Salah satu kebiasaan yang dapat memperberat kondisi mahasiswa yang bekerja adalah menundapekerjaan akademik. Setelah bekerja, rasa lelah sering membuat seseorang memilih untukberistirahat dan mengerjakan tugas pada waktu berikutnya.

Masalah muncul ketika kebiasaan tersebut dilakukan berulang kali. Tugas yang awalnya hanyasatu dapat bertambah menjadi beberapa tugas. Ketika tenggat waktu sudah dekat, tekanan menjadilebih besar karena semuanya harus diselesaikan dalam waktu yang terbatas.

Pembahasan Wardani et al. (2024) mengenai mahasiswa bekerja menunjukkan adanya hubunganantara stres akademik dan prokrastinasi akademik pada kelompok yang diteliti. Hal inimemperlihatkan pentingnya menyelesaikan pekerjaan akademik secara bertahap agar tidak terjadipenumpukan.

Karena itu, mahasiswa tidak harus menunggu sampai memiliki waktu kosong dalam jumlah besar. Menyelesaikan sedikit bagian tugas ketika memiliki kesempatan dapat menjadi cara yang lebihrealistis.

6. Bekerja Sambil Kuliah Tidak Otomatis Membuat Nilai Menurun

Ada anggapan bahwa mahasiswa yang bekerja akan lebih sulit memperoleh prestasi akademikyang baik. Namun, hubungan antara pekerjaan dan prestasi akademik tidak sesederhana itu.

Dalam artikel sumber, Kroupova, Havranek, dan Irsova (2024) melalui meta-analisismenunjukkan bahwa hubungan pekerjaan mahasiswa dengan pendidikan perlu dilihat berdasarkanberbagai kondisi. Jumlah jam kerja, karakter pekerjaan, fleksibilitas waktu, tuntutan akademik, kemampuan mengatur waktu, dan dukungan lingkungan merupakan beberapa hal yang dapatmemengaruhi pengalaman mahasiswa.

Dengan demikian, bekerja sambil kuliah tidak dapat langsung dianggap sebagai penyebabturunnya prestasi. Setiap mahasiswa memiliki kondisi yang berbeda. Ada yang memiliki pekerjaandengan jadwal fleksibel, sementara yang lain mungkin mempunyai tuntutan pekerjaan yang lebihtinggi.

Hal yang lebih penting adalah bagaimana mahasiswa tersebut mengelola kedua tanggungjawabnya.

Baca Juga :  Talenta Unggul Ada di Mana? Kenali Lewat Identifikasi Keterampilan dan Kompetensi

7. Jangan Sampai Kehidupan Pribadi Hilang

Ketika pekerjaan dan kuliah menjadi prioritas, kehidupan pribadi terkadang ditempatkan paling belakang. Padahal, seseorang tetap membutuhkan waktu untuk keluarga, teman, aktivitas pribadi, dan istirahat.

Jika hampir seluruh waktu digunakan untuk pekerjaan dan pendidikan, seseorang dapat merasabahwa kehidupannya hanya berputar pada dua hal tersebut. Dalam jangka panjang, kondisi sepertiini dapat membuat keseimbangan hidup menjadi semakin sulit.

Konsep work-study-life balance menempatkan kehidupan pribadi sebagai bagian darikeseimbangan yang perlu diperhatikan. Oleh karena itu, mengatur jadwal bukan hanya tentangkapan bekerja dan kapan belajar, tetapi juga kapan berhenti sejenak.

8. Ada Sisi Positif dari Bekerja Sambil Kuliah

Meskipun memiliki berbagai risiko, bekerja sambil kuliah juga dapat memberikan pengalamanyang berharga.

Bagi mahasiswa Manajemen, pengalaman kerja dapat membantu menghubungkan teori denganpraktik. Materi mengenai sumber daya manusia dapat dipahami melalui pengalaman berinteraksidengan rekan kerja. Materi pemasaran dapat dikaitkan dengan aktivitas perusahaan dalamberhubungan dengan konsumen. Sementara itu, konsep manajemen operasional dapat dilihatmelalui proses kerja sehari-hari.

Pengalaman tersebut membuat pembelajaran tidak hanya berasal dari buku atau penjelasan dosen. Dunia kerja juga dapat menjadi tempat untuk memahami bagaimana konsep manajemenditerapkan dalam situasi nyata.

9. Keseimbangan Tidak Berarti Membagi Waktu Secara Sama

Menurut Kami, salah satu kesalahpahaman mengenai keseimbangan adalah anggapan bahwawaktu untuk pekerjaan, kuliah, dan kehidupan pribadi harus dibagi sama rata.

Kenyataannya, kebutuhan setiap hari tidak selalu sama. Ada hari ketika pekerjaan membutuhkanperhatian lebih besar. Ada waktu ketika tugas kuliah harus menjadi prioritas. Ada pula saat ketikatubuh membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Karena itu, keseimbangan lebih tepat dipahami sebagai kemampuan menyesuaikan prioritasberdasarkan kondisi yang sedang dihadapi.

Mahasiswa dapat membuat jadwal mingguan, mencatat tenggat tugas, membagi pekerjaanakademik menjadi beberapa bagian, serta menentukan waktu khusus untuk belajar dan beristirahat. Cara sederhana tersebut dapat membantu mengurangi kemungkinan tugas menumpuk.

10. Bekerja dan Kuliah Adalah Proses Belajar

Pada akhirnya, bekerja sambil kuliah bukan hanya tentang menyelesaikan dua tanggung jawabsekaligus. Ada keterampilan hidup yang dapat berkembang dari proses tersebut.

Mahasiswa belajar menjadi lebih disiplin, belajar menentukan prioritas, belajar berkomunikasi, dan belajar bertanggung jawab terhadap pilihan yang telah dibuat. Pengalaman menghadapi jadwalyang padat juga dapat menjadi pembelajaran mengenai bagaimana mengelola waktu dan tenagasecara lebih realistis.

Namun, kemampuan tersebut tidak muncul dengan sendirinya. Mahasiswa perlu membangunkebiasaan yang mendukung keseimbangan, seperti menyusun rencana kegiatan, menghindaripenundaan, menjaga komunikasi, dan memberikan waktu yang cukup untuk beristirahat.

Bekerja sambil kuliah memang memiliki tantangan. Ada keterbatasan waktu, kelelahan, kemungkinan benturan jadwal, tekanan akademik, penundaan tugas, serta berkurangnya waktuuntuk kehidupan pribadi. Tetapi risiko tersebut tidak berarti bahwa mahasiswa yang bekerja pastigagal dalam pendidikan.

Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda. Jumlah jam kerja, karakter pekerjaan, jadwal kuliah, beban akademik, kemampuan mengatur waktu, dan dukungan lingkungan dapat menghasilkanpengalaman yang berbeda pula.

Karena itu, menurut Kami, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah seseorang mampubekerja sambil kuliah, tetapi bagaimana kedua aktivitas tersebut dapat dijalankan secara realistis.

Pendidikan dan pekerjaan sama-sama dapat menjadi bagian dari proses membangun masa depan. Pekerjaan memberikan pengalaman, sedangkan pendidikan memperluas pengetahuan dan kompetensi. Keduanya dapat berjalan berdampingan selama dikelola dengan perencanaan, prioritas, komunikasi, dan waktu istirahat yang memadai.

Menjalani dua peran memang tidak selalu mudah. Namun, bukan berarti seseorang harus memilihsalah satunya. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk mengetahui kapan harus bekerja, kapanharus belajar, dan kapan harus memberikan waktu bagi diri sendiri.[]

Editor : Fathurroji

Follow WhatsApp Channel campusdaily.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mahasiswa UPI Rendi Setia Maulana Raih Perak Asian Games 2026
Talenta Unggul Ada di Mana? Kenali Lewat Identifikasi Keterampilan dan Kompetensi
Bukan Sekadar Mencari Kerja: Pentingnya Perencanaan Karier dan Suksesi bagi Mahasiswa

Berita Terkait

Minggu, 4 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Risiko Bekerja Sambil Kuliah: Mampukah Kita Menjaga Keseimbangan Dua Dunia?

Selasa, 29 September 2026 - 12:39 WIB

Mahasiswa UPI Rendi Setia Maulana Raih Perak Asian Games 2026

Jumat, 18 September 2026 - 09:17 WIB

Talenta Unggul Ada di Mana? Kenali Lewat Identifikasi Keterampilan dan Kompetensi

Senin, 14 September 2026 - 12:25 WIB

Bukan Sekadar Mencari Kerja: Pentingnya Perencanaan Karier dan Suksesi bagi Mahasiswa

Berita Terbaru

Kampus

Cara Kirim Artikel Mahasiswa di Media Online

Rabu, 2 Sep 2026 - 21:30 WIB

dok.megapolitan.antaranews.com

Kampus

UI Dorong Standar Nasional Pengelolaan Asrama Mahasiswa

Senin, 19 Okt 2026 - 10:42 WIB

Opini

Media Sosial Mengubah Cara Mahasiswa Berkomunikasi

Selasa, 13 Okt 2026 - 20:13 WIB