Bahaya Abu Vulkanik bagi Kesehatan: Waspadai Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau

Oleh: Rusdiono Mukri (Dosen IAI Sahid Bogor)

Ikon Campus Daily web

Kamis, 10 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali mengingatkan masyarakat bahwa aktivitas gunung api tidak hanya menimbulkan ancaman berupa lava, awan panas, atau material lontaran, tetapi juga bahaya kesehatan akibat abu vulkanik.

Erupsi Anak Krakatau yang terjadi pada awal September 2026 menyebabkan sebaran abu vulkanik dan mengganggu berbagai aktivitas masyarakat. Abu bahkan berdampak pada operasional sejumlah bandar udara dan mendorong otoritas untuk mengimbau masyarakat menggunakan masker serta mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Abu vulkanik sering kali terlihat seperti debu biasa. Padahal, karakteristiknya berbeda. Abu vulkanik merupakan material sangat halus yang terbentuk ketika magma atau batuan mengalami fragmentasi selama erupsi. Ukuran partikelnya dapat sangat kecil sehingga sebagian dapat terhirup jauh ke dalam saluran pernapasan. Komposisi mineral dan kandungan silika abu juga berbeda-beda bergantung pada karakteristik gunung api dan jenis erupsinya (Horwell & Baxter, 2007).

Karena itu, masyarakat tidak seharusnya menganggap hujan abu sebagai gangguan lingkungan yang semata-mata mengotori rumah, kendaraan, dan jalan. Dalam kondisi tertentu, paparan abu vulkanik dapat menimbulkan gangguan pada sistem pernapasan, mata, kulit, bahkan memperburuk penyakit yang sebelumnya telah dimiliki seseorang.

Abu Vulkanik dan Saluran Pernapasan

Salah satu bahaya utama abu vulkanik yaitu ketika partikelnya terhirup. Partikel berukuran relatif besar cenderung tertahan di hidung dan saluran pernapasan bagian atas. Namun, partikel yang lebih halus dapat masuk lebih dalam ke saluran pernapasan.

Paparan abu dapat menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, produksi lendir, serta rasa tidak nyaman ketika bernapas. Pada orang yang memiliki penyakit pernapasan sebelumnya, seperti asma atau bronkitis, paparan abu dapat memperburuk gejala berupa batuk, mengi, sesak napas, dan gangguan pernapasan lainnya (U.S. Geological Survey, n.d.).

Penelitian mengenai dampak kesehatan abu vulkanik menunjukkan bahwa risiko kesehatan dipengaruhi oleh ukuran partikel, komposisi mineral, kandungan silika kristalin, serta karakteristik fisik dan kimia abu. Dengan demikian, tingkat bahayanya tidak selalu sama pada setiap erupsi (Gudmundsson, 2011).

Bagi masyarakat yang sehat, paparan singkat biasanya lebih sering menimbulkan gejala sementara. Namun, paparan yang tinggi atau berulang dapat menjadi lebih serius, terutama bagi kelompok rentan.

Sebab, tidak semua orang memiliki tingkat kerentanan yang sama terhadap abu vulkanik. Anak-anak, lansia, serta orang yang telah memiliki gangguan pernapasan atau penyakit kronis perlu mendapat perhatian khusus.

Orang dengan asma, misalnya, dapat mengalami peningkatan batuk, mengi, atau sesak setelah menghirup abu. Mereka yang memiliki penyakit paru atau jantung juga perlu lebih berhati-hati karena paparan partikulat dapat memperberat kondisi yang sudah ada sebelumnya (Gudmundsson, 2011).

Kajian yang lebih baru mengenai dampak kesehatan dari paparan gunung api juga menunjukkan bahwa dampaknya dapat mencakup sistem pernapasan, kardiovaskular, mata, kulit, dan kesehatan mental. Anak-anak dan kelompok usia lanjut termasuk kelompok yang dapat mengalami dampak lebih besar dalam kondisi tertentu (Simbana-Rivera et al., 2025).

Baca Juga :  Peran Manajemen Risiko dalam Menghadapi Ketidakpastian Ekonomi

Karena itu, ketika terjadi hujan abu, kelompok rentan sebaiknya tidak menunggu sampai muncul gejala berat. Upaya mengurangi paparan harus dilakukan sejak awal.

Bahaya terhadap Mata

Selain sistem pernapasan, mata merupakan bagian tubuh yang sangat mudah terkena dampak abu vulkanik. Partikel abu yang masuk ke mata dapat menyebabkan rasa mengganjal, gatal, perih, kemerahan, mata berair, dan peradangan konjungtiva.

Dalam kondisi tertentu, partikel yang kasar dapat menggores permukaan kornea sehingga menimbulkan abrasi. Karena itu, penggunaan pelindung mata menjadi penting ketika masyarakat harus berada di lingkungan yang terkena hujan abu (USGS, n.d.).

Orang yang menggunakan lensa kontak juga perlu memberikan perhatian khusus. USGS merekomendasikan penggunaan kacamata dibandingkan dengan lensa kontak ketika terjadi paparan abu karena partikel abu yang terperangkap dapat meningkatkan risiko iritasi atau goresan pada kornea.

Dampak pada Kulit

Abu vulkanik juga dapat menyebabkan iritasi kulit, terutama jika material yang jatuh bersifat asam atau bercampur dengan komponen kimia tertentu. Gejalanya dapat berupa kemerahan dan rasa tidak nyaman pada kulit.

Meskipun dampak terhadap kulit umumnya tidak menjadi masalah kesehatan paling serius dibandingkan dengan gangguan pernapasan, masyarakat tetap dianjurkan membersihkan tubuh dan pakaian setelah terpapar abu serta menghindari kontak yang tidak perlu dengan material tersebut (USGS, n.d.).

Abu Vulkanik bukan Debu Biasa

Salah satu persoalan dalam menghadapi hujan abu yaitu kecenderungan masyarakat memperlakukannya seperti debu biasa. Padahal, abu vulkanik memiliki karakteristik mineral dan ukuran partikel yang berbeda.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyebut erupsi gunung api dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit pernapasan akut maupun kronis akibat abu dan gas, iritasi mata dan kulit, serta risiko lain yang berkaitan dengan kontaminasi lingkungan. Abu dan bahan kimia hasil erupsi juga dapat mencemari makanan dan sumber air apabila tidak dikelola dengan baik (WHO, n.d.).

Risiko juga dapat meningkat ketika masyarakat melakukan aktivitas di luar ruangan dalam kondisi abu masih beterbangan. Aktivitas seperti berkendara, berolahraga, membersihkan halaman, atau bekerja di luar rumah dapat meningkatkan jumlah abu yang terhirup.

Cara Melindungi Diri

Ketika terjadi hujan abu vulkanik, prinsip utama perlindungan kesehatan yaitu mengurangi paparan. Karena itu, masyarakat sebaiknya:

  1. Mengurangi aktivitas di luar ruangan selama abu masih beterbangan.
  2. Menggunakan masker yang efektif untuk mengurangi masuknya partikel abu ke saluran pernapasan.
  3. Menggunakan kacamata pelindung apabila harus berada di luar ruangan.
  4. Menutup pintu dan jendela agar abu tidak mudah masuk ke rumah.
  5. Menutup sumber air dan makanan agar tidak terkontaminasi abu.
  6. Menghindari penggunaan lensa kontak ketika lingkungan dipenuhi abu.
  7. Membersihkan abu dengan cara yang tidak membuatnya kembali beterbangan, misalnya dengan membasahi permukaan sebelum dibersihkan.
  8. Mengikuti informasi resmi dari otoritas kebencanaan dan pemantauan gunung api.
  9. Bagi penderita asma atau penyakit pernapasan, menyiapkan obat yang biasa digunakan dan mengurangi paparan semaksimal mungkin.
Baca Juga :  Penjualan Mobil di Perusahaan Honda

Masker merupakan salah satu perlindungan penting, tetapi masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua masker memiliki kemampuan yang sama dalam menyaring partikel. Dalam kondisi abu vulkanik yang signifikan, penggunaan masker yang sesuai dan dipakai dengan benar menjadi bagian penting dari upaya mengurangi inhalasi partikel.

Sebagian besar keluhan akibat paparan abu vulkanik dapat bersifat ringan dan sementara. Namun, masyarakat perlu segera mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami sesak napas berat, nyeri dada, kesulitan bernapas yang menetap, penurunan kesadaran, atau gejala berat lainnya.

Orang yang memiliki asma, penyakit paru kronis, atau penyakit jantung juga sebaiknya lebih cepat mencari bantuan apabila kondisi mereka memburuk setelah terpapar abu.

Hal ini penting karena dampak abu vulkanik tidak hanya bergantung pada jumlah abu yang jatuh, tetapi juga pada ukuran partikelnya, komposisinya, lamanya paparan, kondisi meteorologis, serta kondisi kesehatan individu.

Pentingnya Kesiapsiagaan

Erupsi Anak Krakatau pada September 2026 menjadi pengingat bahwa masyarakat yang tinggal jauh dari kawah sekalipun dapat merasakan dampak aktivitas gunung api. Abu dapat terbawa angin dalam jarak yang cukup jauh dan mengganggu kualitas udara serta aktivitas masyarakat. Dalam kejadian terbaru tersebut, sebaran abu bahkan mengganggu penerbangan dan menyebabkan sejumlah kegiatan pendidikan serta aktivitas masyarakat dihentikan sementara di wilayah terdampak.

Karena itu, kesiapsiagaan menghadapi erupsi tidak cukup hanya dengan mengetahui zona bahaya di sekitar kawah. Masyarakat juga perlu mengetahui bagaimana melindungi kesehatan ketika abu vulkanik mencapai permukiman.

Pada akhirnya, abu vulkanik bukan sekadar debu yang mengotori lingkungan. Material tersebut dapat mengganggu saluran pernapasan, mengiritasi mata dan kulit, memperburuk penyakit tertentu, serta menimbulkan persoalan kesehatan masyarakat apabila paparannya luas dan berlangsung cukup lama.

Mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan perlindungan pernapasan dan mata, menjaga kebersihan lingkungan, serta mengikuti arahan otoritas merupakan langkah sederhana tetapi penting. Dalam situasi erupsi, kewaspadaan bukan berarti panik. Sebaliknya, kewaspadaan merupakan bentuk kesiapsiagaan untuk melindungi diri, keluarga, dan masyarakat. []

Follow WhatsApp Channel campusdaily.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Public Speaking, Keterampilan Penting untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Mahasiswa
Media Sosial Mengubah Cara Mahasiswa Berkomunikasi
Pasar Persaingan Sempurna: Karakteristik, Keuntungan, dan Strategi Perusahaan dalam Menghadapi Persaingan
Berani Bicara di Depan Umum: Panduan Praktis untuk Mahasiswa
Strategi Pengembangan dan Pembelajaran Talenta dalam Meningkatkan Kinerja Organisasi di Era Digital
Pelatihan Komunikasi Efektif Sebagai Sarana Penguatan Keterampilan Public Speaking Anak Binaan Yayasan Pundi Amal Dermawan Indonesia
Ketika Omongan Jadi Konten: Di Mana Batas Etika Public Speaking di Era Viral?
Studi Kelayakan Bisnis Berbasis Lingkungan Sebagai Upaya Menciptakan Usaha Berkelanjutan

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:43 WIB

Public Speaking, Keterampilan Penting untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Mahasiswa

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:13 WIB

Media Sosial Mengubah Cara Mahasiswa Berkomunikasi

Senin, 12 Oktober 2026 - 10:01 WIB

Pasar Persaingan Sempurna: Karakteristik, Keuntungan, dan Strategi Perusahaan dalam Menghadapi Persaingan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 06:34 WIB

Strategi Pengembangan dan Pembelajaran Talenta dalam Meningkatkan Kinerja Organisasi di Era Digital

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Pelatihan Komunikasi Efektif Sebagai Sarana Penguatan Keterampilan Public Speaking Anak Binaan Yayasan Pundi Amal Dermawan Indonesia

Berita Terbaru

Kampus

Cara Kirim Artikel Mahasiswa di Media Online

Rabu, 2 Sep 2026 - 21:30 WIB

dok.megapolitan.antaranews.com

Kampus

UI Dorong Standar Nasional Pengelolaan Asrama Mahasiswa

Senin, 19 Okt 2026 - 10:42 WIB

Opini

Media Sosial Mengubah Cara Mahasiswa Berkomunikasi

Selasa, 13 Okt 2026 - 20:13 WIB