Campusdaily.com – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI menyiapkan program beasiswa baru bagi warga Palestina yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi di Indonesia. Melalui Beasiswa Cendekia Palestina, Baznas akan memberikan kesempatan bagi lulusan S1 asal Palestina untuk menempuh pendidikan jenjang S2 di perguruan tinggi Indonesia.
Program tersebut diluncurkan di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Jakarta Pusat, Rabu (9/9/2026). Selain menjadi bentuk dukungan pendidikan bagi masyarakat Palestina, program ini juga diarahkan untuk memperkuat atmosfer internasional di perguruan tinggi Indonesia.
Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan, Idy Muzayyad, mengatakan gagasan tersebut muncul setelah adanya kajian sekaligus permintaan dari Kemdiktisaintek mengenai perlunya peningkatan jumlah mahasiswa internasional di kampus-kampus Indonesia.
“Kebetulan ini ada kajian dan juga permintaan dari Kemendiktisaintek bahwa banyak perguruan tinggi di Indonesia ini yang kualitasnya belum diakui atau belum sepenuhnya bagus karena kurangnya mahasiswa internasional yang kuliah di perguruan tinggi di Indonesia,” ungkap Idy Muzayyad dalam peluncuran program di Kemdiktisaintek, Jakarta Pusat, Rabu (9/9/2026).
Menurut Idy, kebutuhan tersebut bertemu dengan komitmen Baznas yang memang memiliki anggaran untuk membantu masyarakat Palestina. Dari situlah kemudian dirancang skema beasiswa yang diharapkan memberi manfaat ganda, baik bagi mahasiswa Palestina maupun perguruan tinggi Indonesia.
Rp22 Miliar untuk 200 Mahasiswa Palestina
Untuk merealisasikan program tersebut, Baznas menyiapkan anggaran sebesar Rp22 miliar untuk 200 mahasiswa asal Palestina yang akan menempuh pendidikan di Indonesia.
“Untuk itu kami sudah mengalokasikan insya Allah sebanyak Rp 22 miliar untuk 200 mahasiswa asal Palestina untuk kuliah di Indonesia. Nah hanya saja nanti kami mohon betul pendampingan dari Kemendiktisaintek untuk bagaimana kita benar-benar bisa mencari termasuk mitra-mitra kita,” kata Idy.
Penerima beasiswa nantinya tidak menutup kemungkinan berasal dari mereka yang telah menyelesaikan pendidikan S1 di Indonesia. Artinya, mahasiswa Palestina yang pernah menempuh pendidikan sarjana di Tanah Air juga berpeluang melanjutkan studi melalui program tersebut.
Idy mengatakan, ia bahkan sempat bertemu mahasiswa Palestina yang memperoleh beasiswa dari Universitas Lampung (Unila) dan telah menyelesaikan pendidikan S1.
Beasiswa Sekaligus Dorong Kampus Lebih Internasional
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengonfirmasi bahwa Beasiswa Cendekia Palestina tidak hanya ditujukan untuk membantu mahasiswa Palestina. Program ini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan jumlah mahasiswa asing di perguruan tinggi Indonesia.
“Ini juga program yang sangat baik, sambil kita tentu membantu saudara-saudara kita Palestina, akhirnya kampus-kampus kita akan mendapatkan mahasiswa asing ya, pemberdayaan yang tentu sangat baik, membangun atmosfer internasional di Indonesia,” ujar Brian usai acara peluncuran.
Dengan masuknya lebih banyak mahasiswa internasional, perguruan tinggi di Indonesia diharapkan memiliki lingkungan akademik yang semakin beragam. Interaksi lintas negara juga dinilai dapat membuka ruang pertukaran pengetahuan, pengalaman, serta perspektif baru di lingkungan kampus.
Baznas Punya Anggaran Rp250 Miliar untuk Palestina
Ketua Baznas RI, Sodik Mudjahid, mengungkapkan bahwa Baznas sebenarnya memiliki anggaran sekitar Rp250 miliar yang dialokasikan untuk membantu Palestina.
Namun, sesuai arahan Presiden kepada Menteri, sebagian dari anggaran tersebut diarahkan secara khusus untuk mendukung pendidikan mahasiswa Palestina di Indonesia.
“Tapi sesuai dengan arahan Bapak Presiden kepada Bapak Menteri, itu kita alokasikan sebagian sebesar Rp 22 miliar untuk khusus mahasiswa Palestina, yang sekarang sedang diatur oleh Bapak Menteri,” tutur Sodik.
Alokasi tersebut memperlihatkan bahwa dukungan kepada Palestina tidak hanya diarahkan melalui bantuan kemanusiaan, tetapi juga melalui jalur pendidikan.
Mahasiswa Gaza Masih Sulit Keluar dari Wilayahnya
Di tengah rencana penerimaan mahasiswa Palestina, persoalan akses keluar dari wilayah konflik masih menjadi tantangan, khususnya bagi warga Palestina di Gaza.
Brian Yuliarto menceritakan pengalamannya berkomunikasi dengan mahasiswa bimbingannya yang berasal dari Palestina dan sedang menempuh pendidikan S3. Mahasiswa tersebut bahkan telah berhasil memublikasikan paper Q1 sebagai salah satu syarat kelulusan.
“Barusan kemarin sebulan lalu dia cerita ‘Pak Alhamdulillah sudah publis paper Q1 sebagai syarat lulus S3’. Alhamdulillah tadi saya langsung foto ini acaranya saya langsung berikan ke dia ‘Tolong carikan calon-calon mahasiswanya supaya bisa dapat’,” tutur Brian dalam pidato pembukaan.
Namun, mahasiswa tersebut menyampaikan bahwa warga Palestina di wilayah Gaza masih menghadapi kesulitan untuk keluar dari kawasan tersebut.
“Dia bilang, ‘Kalau dari Gaza susah keluar sekarang Pak karena dikepung’. Gimana caranya, mungkin nanti kalau pas lagi ada buka perbatasan bisa keluar. Tapi dia sampaikan, ‘Banyak Pak mahasiswa Palestina yang ada di Mesir, di Jordan nanti akan saya tawarkan, termasuk yang juga sudah di Indonesia ada beberapa’,” cerita Brian.
Kondisi itu membuat proses menjaring calon penerima beasiswa harus mempertimbangkan situasi dan akses mahasiswa Palestina dari berbagai wilayah. Mahasiswa Palestina yang berada di negara lain seperti Mesir dan Jordan, maupun mereka yang sudah berada di Indonesia, dapat menjadi salah satu sasaran program.
Jadi Momentum bagi Kampus Indonesia
Menurut Brian, Beasiswa Cendekia Palestina juga dapat menjadi momentum bagi perguruan tinggi Indonesia untuk semakin terbuka terhadap mahasiswa asing dan meningkatkan kualitas internasionalnya.
Program ini diharapkan bukan hanya menghadirkan bantuan pendidikan bagi 200 mahasiswa Palestina, tetapi juga membangun lingkungan akademik Indonesia yang lebih beragam dan terhubung dengan komunitas internasional.
Di sisi lain, bagi para mahasiswa Palestina, kesempatan menempuh pendidikan S2 di Indonesia dapat menjadi jalan untuk terus mengembangkan kemampuan akademik di tengah situasi sulit yang mereka hadapi.
Dengan dukungan Rp22 miliar, Baznas kini menempatkan pendidikan sebagai salah satu jalur strategis dalam membantu Palestina. Program tersebut sekaligus mempertemukan dua kepentingan: membuka akses pendidikan bagi mahasiswa Palestina dan mendorong perguruan tinggi Indonesia semakin siap berinteraksi dalam ekosistem pendidikan global.
Sumber Berita: edukasi.kompas.com










