Campus Daily | Banyak mahasiswa mengira presentasi yang baik cukup dengan slide yang cantik. Slide dibuat semalaman, warna dipilih dengan teliti, animasi ditambahkan di sana-sini. Namun, ketika presentasi berlangsung, audiens tetap bosan, pembicara terpaku membaca layar, atau proyektor tiba-tiba bermasalah. Slide yang bagus ternyata tidak otomatis menghasilkan presentasi yang bagus.
Persoalan ini penting karena presentasi hampir selalu hadir dalam perkuliahan dan kelak dalam dunia kerja. Artikel ini membahas bagaimana alat bantu seharusnya diposisikan dalam public speaking, yaitu sebagai pendukung pembicara, bukan penggantinya.
Pembahasan
Pertama, alat bantu perlu dipilih sesuai kebutuhan, bukan sebanyak mungkin. Mikrofon, proyektor, wireless presenter, dan perangkat lainnya memang berguna, tetapi tidak semuanya harus dipakai di setiap situasi. Di ruangan kecil dengan audiens sedikit, laptop dan proyektor biasanya sudah cukup, sedangkan mikrofon baru terasa penting ketika ruangan luas dan audiens banyak. Penelitian Azhar dan Rohimi (2025) pada mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Kudus menemukan bahwa media presentasi seperti PowerPoint membantu menyusun materi secara sistematis, menarik perhatian, dan menumbuhkan rasa percaya diri. Namun, mereka juga menemukan kendala berupa masalah teknis dan minimnya pengetahuan tentang fitur media. Artinya, alat bantu hanya menguntungkan jika dikuasai dan disiapkan dengan baik.
Kedua, slide seharusnya menjadi penanda, bukan naskah. Menurut penulis, kesalahan yang paling sering terjadi adalah memindahkan seluruh isi pembicaraan ke dalam slide. Akibatnya, audiens sibuk membaca sendiri dan pembicara kehilangan perannya. Slide yang efektif cukup memuat poin-poin singkat, dengan warna dan animasi secukupnya, lalu penjelasannya datang dari pembicara. Dengan begitu, audiens tahu ke mana harus memperhatikan, dan pembicara tetap menjadi pusat penyampaian pesan.
Ketiga, kemampuan pembicara tetap menjadi faktor penentu. Rahmadhania dkk. (2025) dalam penelitiannya pada mahasiswa FEB UNJ menyimpulkan bahwa keterampilan public speaking berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan presentasi akademik. Dengan kata lain, alat bantu secanggih apa pun tetap bergantung pada orang yang menggunakannya. Salah satu aspek yang tidak bisa digantikan alat adalah komunikasi nonverbal. Apriliyanti (2023) menunjukkan bahwa ekspresi wajah, gerakan tangan, postur tubuh, dan kontak mata dalam presentasi kelas berpengaruh positif terhadap pemahaman audiens. Contohnya, pembicara yang terus menunduk ke layar atau mencengkeram sisi meja karena gugup akan terlihat kurang meyakinkan, seindah apa pun slidenya. Alat seperti wireless presenter pun baru bermanfaat jika dipakai untuk bergerak lebih leluasa dan berinteraksi dengan audiens, bukan sekadar mengganti klik mouse.
Rekomendasi
Kesimpulan
Alat bantu memang membuat presentasi lebih terstruktur dan menarik, tetapi nilainya bergantung pada kesiapan pembicara dalam menggunakannya. Penelitian-penelitian terbaru menunjukkan bahwa media presentasi membantu, namun keterampilan berbicara dan komunikasi nonverbal tetap menentukan seberapa dipahami pesan oleh audiens. Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan “alat apa yang paling canggih?”, melainkan “apakah saya siap menggunakannya untuk menyampaikan pesan?”
Daftar Pustaka
Apriliyanti, A. (2023). Analisis penggunaan komunikasi nonverval pada persentasi kelas. Jurnal Multidisiplin Indonesia, 2(7), 1554-1560.
Azhar, M. A., & Rohimi, P. (2025). Pemanfaatan media presentasi untuk mengasah public speaking mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) di IAIN Kudus. KONTEKSTUAL: Jurnal Ilmu Komunikasi, 4(1), 11-22. https://doi.org/10.36448/jik.v4i1.4104
Rahmadhania, S. A., Marsofiyati, & Utari, E. D. (2025). Pengaruh keterampilan public speaking terhadap kemampuan presentasi akademik mahasiswa FEB UNJ. Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial, 10(8).










