Campus Daily | Mempelajari Bahasa Prancis sering kali dianggap rumit karena aturan tata bahasanya serta pelafalannya yang cukup sulit dan menantang. Namun, dalam podcast Ruang Tamu yang diselenggerakan RRI Malang dan dipandu oleh host Esty Sulistya, dua pembelajar bahasa Prancis–Trycia Ayumi dan Rosa Mystica– membongkar secara lengkap bagaimana mengatasi tantangan mempelajari bahasa Prancis serta menyelam lebih dalam terhadap kultur masyarakatnya.
Lewat obrolan selama 31 menit tersebut, sudut pandang keduanya baik dari sisi akademis maupun inisiatif yang dimiliki Rosa untuk membangun komunitasnya dikupas secara seimbang dan saling melengkapi.
Perspektif Rosa Mystica: Kerumitan Bahasa dan Solusi Komunitas
Sebagai alumni dari program studi Bahasa dan Sastra Prancis yang juga seorang founder dari komunitas “Malang Ngomong Prancis”, Rosa membagikan pengalamannya selama menjalankan komunitasnya:
- Tantangan Konjugasi Kata Kerja: Rosa sendiri menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama orang kesulitan belajar bahasa Prancis adalah konjugasi–perubahan kata kerja yang disesuaikan terhadap subjeknya. Satu kata kerja memiliki enam bentuk berbeda untuk satu jenis tense dan akan berubah lagi pada bentuk past maupun future
- Fokus Pada Listening dan Speaking: Menurut Rosa dari empat kemampuan dasar bahasa, yaitu reading, writing, listening, dan speaking, kemampuan listening dan speaking adalah dua aspek yang paling menantang dan butuh latihan lebih banyak.
- Komunitas Ruang Aman Praktik: Karena banyaknya pembelajar bahasa Prancis yang merasa takut salah ketika mempraktikkan percakapan, Rosa lantas menghadirkan komunitas Malang Ngomong Prancis sebagai wadah rileks tanpa ada kekhawatiran akan di judge. Sambil nongkrong di kafe-kafe yang ada di Malang, para anggota akan diajak membangun rasa percaya diri dengan aktif. Ke depannya komunitasnya ini juga akan merancang agenda reading night dan movie night.
Perspektif Trycia Ayumi: Kehidupan Kampus dan Etika Warga Lokal
Sebagai mahasiswi program double degree dari Universitas Brawijaya yang telah merampungkan studi satu tahun di Université Polytechnique Hauts-de-Franve (UPHF), Trycia Ayumi membagikan berbagai gambaran riil kehidupan dan cara belajar di sana:
- Sistem Kuliah dan Budaya Pembelajarannya: Perkuliahan di Prancis membagi kelas menjadi auditorium besar (Cours Magistraux/CM) dan kelompok kecil (Travaux Dirigés/TD). Di kelas kecil inilah iklim diskusi lebih terasa. Para mahasiswa dibebaskan berpendapat hingga menyanggah pernyataan yang diungkapkan oleh dosen selama mahasiswa memiliki argumen dan data pendukung yang logis.
- Tantang Logat Daerah: Meski telah memegang sertifikat DELF tingkat B2 sebelum berangkat, Trycia tetap menghadapi hambatan bahasa saat tiba di kota Valenciennes karena masyarakat lokal menggunakan logat daerah.
- Kafe dan Kultur Literasi: Di Prancis, kafe lebih berfungsi sebagai pusat diskusi publik dan tempat orang-orang bertukar gagasan terhadap berbagai isu. Selain itu kebiasaan membaca di ruang publik seperti bus dan kereta sangat tinggi karena anak-anak di sana sudah dibiasakan membaca sastra, sejarah, dan filsafat sejak sekolah dasar.
- Etika Sosial yang Khas: Menyapa dengan kata “Bonjour” saat melangkah masuk ke toko atau kafe merupakan aturan kesopanan dasar. Uniknya lagi, jika diundang ke rumah warga lokal untuk acara makan bersama, tamu disarankan untuk datang 10-15 menit setelah waktu yang ditentukan dengan tujuan memberi waktu istirahat sejenak kepada tuan rumah sebelum, menyambut kedatangan tamu.
Dari obrolan dalam podcast ini menunjukkan bahwa penguasaan Bahasa Prancis tidak bisa dilepaskan dari pemahaman kulturnya. Kombinasi antara wawasan akademis dari pengalaman Trycia selama di Prancis serta wadah latihan interaktif yang digagas oleh Rosa menjadi fondasi yang penting bagi siapa saja yang ingin lancar dan merasa percaya diri dalam berkomunikasi dalam bahasa Prancis.[]
Penulis : Wina Angel
Editor : Fathurroji










