Pelatihan Komunikasi Efektif Sebagai Sarana Penguatan Keterampilan Public Speaking Anak Binaan Yayasan Pundi Amal Dermawan Indonesia

Amellisa Darma dan David Wirawan (Mahasiswa Universitas Pamulang)

Ikon Campus Daily web

Kamis, 8 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Campus Daily | ABSTRAK. Keterampilan berbicara di depan orang lain (public speaking) merupakan kompetensi penting yang perlu dilatih sejak usia anak, terutama pada anak yang memerlukan dukungan tambahan untuk membangun kepercayaan diri. Artikel ini bertujuan menganalisis pelatihan komunikasi efektif yang dilaksanakan pada 24–28 September 2025 di Yayasan Pundi Amal Dermawan Indonesia (PADI), Depok, dari sudut pandang public speaking. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus berbasis dokumen dan kajian literatur. Data utama berasal dari laporan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) oleh Irwansyah, Anjani, dan Nurlela (2025) yang dianalisis melalui reduksi data, pemetaan, dan penarikan kesimpulan. Hasil analisis menunjukkan bahwa kombinasi ceramah interaktif, diskusi kelompok, simulasi percakapan, role play, storytelling, serta refleksi dan umpan balik selaras dengan komponen utama public speaking, yaitu kesadaran komunikasi verbal dan nonverbal, keberanian tampil, kemampuan menyusun pesan, mendengarkan aktif, dan empati. Bimbingan personal fasilitator menjadi faktor pendukung yang penting. Laporan sumber belum menyajikan pengukuran kuantitatif sehingga temuan bersifat kualitatif. Artikel ini merekomendasikan pelatihan berkelanjutan yang dilengkapi instrumen penilaian terukur.

Kata kunci: komunikasi efektif, public speaking, kepercayaan diri, empati, anak binaan

1. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Komunikasi merupakan keterampilan dasar yang berperan penting dalam perkembangan sosial dan emosional anak. Kemampuan menyampaikan ide, pendapat, dan perasaan secara jelas memungkinkan anak berinteraksi secara sehat dengan lingkungannya. Komunikasi yang efektif tidak hanya menyangkut kemampuan berbicara, tetapi juga kemampuan mendengarkan, memahami pesan, dan menggunakan unsur nonverbal secara tepat.

Dalam ilmu komunikasi, kemampuan berbicara di hadapan orang lain dikenal sebagai public speaking. Lucas (2015) memandang public speaking sebagai proses komunikasi yang melibatkan pembicara, pesan, pendengar, umpan balik, dan situasi. Kompetensi ini sering diasosiasikan dengan orang dewasa, padahal fondasinya dibangun sejak anak-anak: keberanian mengemukakan pendapat, kemampuan menyusun cerita secara runtut, dan kepekaan terhadap lawan bicara. Anak yang tidak memperoleh kesempatan berlatih cenderung ragu, pasif, atau sulit mengungkapkan perasaan ketika harus berbicara di depan kelompok.

Dalam konteks pengasuhan dan pendidikan nonformal di yayasan, keterampilan komunikasi memiliki peran yang strategis karena anak-anak binaan memerlukan dukungan untuk membangun kepercayaan diri dan kemampuan mengekspresikan diri. Observasi awal pada anak binaan Yayasan Pundi Amal Dermawan Indonesia (PADI) menunjukkan bahwa sebagian peserta kesulitan menyampaikan ide di depan kelompok, kurang percaya diri, dan terbatas dalam mengekspresikan perasaan secara verbal (Irwansyah dkk., 2025). Kondisi ini menunjukkan perlunya kegiatan yang memberi anak kesempatan belajar dan berlatih berkomunikasi dalam suasana yang aman dan interaktif.

Menanggapi kebutuhan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Pamulang melaksanakan pelatihan komunikasi efektif pada 24–28 September 2025 (Irwansyah dkk., 2025). Artikel ini tidak melaporkan ulang kegiatan tersebut sebagai penelitian lapangan penulis, melainkan mengkajinya sebagai studi kasus dari sudut pandang public speaking: bagaimana rancangan pelatihan itu melatih komponen-komponen berbicara di depan umum, dan pelajaran apa yang dapat diambil untuk praktik pelatihan serupa.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah artikel ini adalah:

  1. Bagaimana rancangan dan pelaksanaan pelatihan komunikasi efektif bagi anak binaan Yayasan PADI?
  2. Bagaimana metode pelatihan tersebut berkaitan dengan komponen keterampilan public speaking?
  3. Apa faktor pendukung, keterbatasan, dan implikasi praktis dari pelatihan tersebut?

1.3  Tujuan dan Manfaat

Artikel ini bertujuan (1) mendeskripsikan rancangan dan pelaksanaan pelatihan komunikasi efektif di Yayasan PADI, (2) menganalisis keterkaitan metode pelatihan dengan komponen public speaking, dan (3) merumuskan faktor pendukung, keterbatasan, serta implikasi praktis bagi pelatihan sejenis.

Secara teoretis, artikel ini memperkaya kajian tentang penerapan konsep public speaking pada konteks pendidikan anak nonformal. Secara praktis, artikel ini dapat menjadi rujukan bagi yayasan, fasilitator, dan mahasiswa yang hendak merancang pelatihan berbicara di depan umum bagi anak dan remaja.

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Public Speaking dan Komunikasi Efektif

     Public speaking adalah kegiatan menyampaikan pesan secara lisan kepada pendengar dengan tujuan tertentu, misalnya menginformasikan, meyakinkan, atau menghibur. Lucas (2015) menekankan bahwa pembicara yang baik menyusun pesan secara terorganisasi, memperhatikan pendengar, dan menyampaikannya dengan cara yang jelas. Bagi anak-anak, bentuk paling sederhana dari kompetensi ini adalah bercerita, menyampaikan pendapat dalam diskusi, dan berbicara di depan kelas dengan urutan yang mudah diikuti.

2.2 Komunikasi Verbal dan Nonverbal

Pesan lisan selalu disertai isyarat nonverbal seperti bahasa tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, dan intonasi suara. Mehrabian (1971) meneliti bagaimana isyarat nonverbal memengaruhi cara pesan tentang perasaan dan sikap diterima ketika tidak selaras dengan kata-kata. Pada konteks anak dan remaja, Lestari (2021) menyatakan bahwa efektivitas komunikasi dipengaruhi oleh kemampuan mengontrol ekspresi nonverbal yang mendukung pesan verbal. Dengan demikian, pelatihan berbicara perlu melatih kata-kata sekaligus cara menyampaikannya.

2.3 Kepercayaan Diri dan Keberanian Tampil

Rasa gugup merupakan pengalaman yang lazim dialami pembicara. Lucas (2015) menjelaskan bahwa kegugupan dapat dikelola melalui persiapan dan latihan yang cukup. Dari perspektif psikologi, Bandura (1997) mengemukakan bahwa keyakinan diri (self-efficacy) dibentuk terutama oleh pengalaman berhasil, pengamatan terhadap keberhasilan orang lain, persuasi verbal berupa dorongan, serta kondisi fisik dan emosi. Pratama dan Fitriani (2022) melaporkan bahwa pembelajaran partisipatif dapat meningkatkan kepercayaan diri dan keterampilan berbicara secara bertahap melalui praktik langsung dan umpan balik yang terstruktur.

2.4 Mendengarkan Aktif dan Empati

Berbicara efektif tidak dapat dipisahkan dari kemampuan menyimak. DeVito (2016) menggambarkan mendengarkan sebagai proses bertahap yang mencakup menerima pesan, memahami, mengingat, mengevaluasi, dan merespons. Empati, yaitu kemampuan memahami perasaan dan sudut pandang orang lain, membantu pembicara menyesuaikan pesan dengan pendengarnya. Aprilianti (2020) menegaskan bahwa permainan peran (role play) efektif untuk melatih empati dan kemampuan membaca situasi dalam komunikasi interpersonal pada remaja.

Baca Juga :  Public Speaking, Keterampilan Penting untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Mahasiswa

2.5 Pembelajaran Berbasis Pengalaman dan Peran Pendamping

Kolb (1984) menjelaskan bahwa belajar berlangsung melalui siklus pengalaman konkret, observasi reflektif, konseptualisasi, dan percobaan aktif. Siklus ini sejalan dengan pelatihan yang memadukan penjelasan konsep, praktik, refleksi, dan pengulangan. Selain itu, aktivitas kolaboratif dapat membangun solidaritas, kerja sama, dan kepercayaan antaranggota kelompok (Suryani & Erwanto, 2023), sedangkan dukungan personal dari pendamping melalui pendekatan empatik dapat membantu perkembangan keterampilan komunikasi anak (Rahmawati, 2021).

3. METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan dan Desain

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus berbasis dokumen (document-based case study) yang dilengkapi kajian literatur. Pendekatan ini dipilih karena tujuan artikel adalah memahami dan menafsirkan suatu kegiatan pelatihan yang telah dilaksanakan, bukan mengukur pengaruhnya secara statistik.

3.2 Sumber Data

Sumber data primer adalah laporan kegiatan PKM berjudul “Pelatihan Komunikasi Efektif Mengungkapkan Ide dan Perasaan dengan Baik” yang disusun oleh Irwansyah, Anjani, dan Nurlela (2025) dari Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang. Sumber data sekunder berupa buku teks dan artikel jurnal tentang public speaking, komunikasi verbal dan nonverbal, kepercayaan diri, empati, serta pembelajaran partisipatif, sebagaimana tercantum pada daftar pustaka.

3.3 Teknik Analisis Data

Analisis data mengikuti tahapan Miles, Huberman, dan Saldaña (2014), yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada tahap reduksi, penulis memilah informasi tentang lokasi, waktu, permasalahan mitra, metode, dan hasil kegiatan. Pada tahap penyajian, informasi tersebut dipetakan ke dalam tabel dan dikaitkan dengan lima aspek analisis: (1) kesadaran komunikasi verbal dan nonverbal, (2) kepercayaan diri dan keberanian tampil, (3) ekspresi perasaan dan empati, (4) mendengarkan dan interaksi kelompok, serta (5) peran fasilitator dan umpan balik. Pada tahap penarikan kesimpulan, temuan dibandingkan dengan teori pada tinjauan pustaka.

3.4 Batasan Penelitian

Penulis tidak mengumpulkan data langsung dari peserta. Seluruh informasi tentang kegiatan berasal dari laporan yang telah dipublikasikan, sehingga temuan bergantung pada apa yang dilaporkan oleh pelaksana kegiatan. Laporan sumber juga tidak mencantumkan jumlah peserta, rentang usia, maupun hasil pengukuran sebelum dan sesudah pelatihan. Oleh karena itu, artikel ini tidak mengklaim besaran peningkatan dan membatasi kesimpulannya pada tataran kualitatif.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan dilaksanakan di Yayasan PADI, Depok, Jawa Barat, selama lima hari berturut-turut pada 24–28 September 2025 (Irwansyah dkk., 2025). Lokasi dipilih karena yayasan membutuhkan program pengembangan keterampilan komunikasi bagi anak binaan serta memiliki fasilitas pendukung berupa ruang kelas, ruang diskusi, dan area praktik. Pelatihan menggunakan pendekatan interaktif dan partisipatif agar peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga mempraktikkan keterampilan komunikasi dalam berbagai situasi.

Laporan sumber menyebutkan enam metode pelatihan. Tabel 1 memetakan setiap metode ke bentuk aktivitas dan komponen public speaking yang dilatih. Pemetaan kolom ketiga merupakan analisis penulis berdasarkan uraian metode pada laporan, bukan jadwal resmi kegiatan.

Tabel 1. Pemetaan Metode Pelatihan terhadap Komponen Public Speaking

Metode Bentuk Aktivitas Komponen Public Speaking yang Dilatih
Ceramah interaktif Penyampaian konsep komunikasi efektif, teknik berbicara, dan pentingnya mendengarkan Pemahaman dasar pesan verbal dan nonverbal; kesadaran diri sebagai pembicara
Diskusi kelompok Berbagi pengalaman dan pendapat dalam kelompok kecil Menyusun dan menyampaikan gagasan; menyimak pendapat orang lain
Simulasi percakapan Latihan meminta bantuan, mengungkapkan perasaan, dan menyampaikan pendapat dalam situasi sehari-hari Kejelasan dan kesantunan bahasa; spontanitas
Role play Skenario berbicara di depan kelas, berdiskusi, dan mengekspresikan emosi Keberanian tampil; pengendalian ekspresi; empati
Story telling Bercerita secara runtut di hadapan peserta lain Struktur pesan (awal, isi, akhir); kontak mata; intonasi
Refleksi dan umpan balik Evaluasi diri peserta dan masukan konstruktif dari fasilitator Evaluasidiri; perbaikanberkelanjutan

Sumber: dirangkum dari Irwansyah dkk. (2025); kolom ketiga adalah analisis penulis.

Laporan mencatat bahwa pada tahap awal peserta mulai mengenali bahwa komunikasi mencakup bahasa tubuh, kontak mata, dan intonasi suara, sedangkan kegiatan role play dilaksanakan pada hari ketiga dan keempat (Irwansyah dkk., 2025). Urutan ini menggambarkan alur belajar bertahap: dari pemahaman konsep, latihan terbimbing, hingga praktik dalam skenario yang menyerupai situasi nyata. Alur tersebut sejalan dengan siklus belajar berbasis pengalaman yang dijelaskan Kolb (1984).

4.2 Analisis Aspek Public Speaking

1. Kesadaran komunikasi verbal dan non

Peserta mulai memahami bahwa komunikasi tidak hanya berupa kata-kata, tetapi juga bahasa tubuh, kontak mata, dan intonasi suara (Irwansyah dkk., 2025). Temuan ini sejalan dengan Lestari (2021) bahwa ekspresi nonverbal yang terkontrol mendukung pesan verbal. Dalam public speaking, kesadaran ini merupakan langkah awal: pembicara yang menyadari postur, pandangan, dan nada suaranya lebih mudah memperbaiki penampilannya.

2. Kepercayaan diri dan keberanian tampil.

Anak-anak yang semula ragu berbicara di depan kelompok menjadi lebih berani setelah mengikuti simulasi dan melihat contoh konkret (Irwansyah dkk., 2025). Jika dibaca melalui teori Bandura (1997), rangkaian kegiatan tersebut menyediakan beberapa sumber keyakinan diri sekaligus: pengalaman berhasil melalui latihan bertahap, pengamatan terhadap teman yang tampil, dan dorongan verbal dari fasilitator. Hasil ini konsisten dengan Pratama dan Fitriani (2022) mengenai peran praktik langsung dan umpan balik terstruktur.

3. Ekspresi perasaan dan empati.

Melalui role play, peserta belajar mengenali emosi dasar seperti senang, sedih, kecewa, dan marah, serta cara mengekspresikannya secara sopan (Irwansyah dkk., 2025). Memerankan situasi dari sudut pandang orang lain melatih kepekaan terhadap perasaan lawan bicara, sebagaimana ditegaskan Aprilianti (2020). Bagi pembicara, kepekaan ini penting agar pesan disesuaikan dengan kondisi pendengar dan disampaikan dengan santun.

4. Mendengarkan dan interaksi kelompok.

Diskusi kelompok kecil dan permainan kolaboratif menciptakan suasana yang lebih suportif sehingga peserta lebih terbuka, nyaman, dan aktif (Irwansyah dkk., 2025). Suasana yang aman ini penting bagi pembicara pemula karena rasa takut dinilai sering menjadi penghambat utama. Temuan tersebut mendukung Suryani dan Erwanto (2023) bahwa aktivitas kolaboratif membangun solidaritas dan kepercayaan antaranggota kelompok. Dari sisi menyimak, latihan mendengarkan aktif membantu peserta melewati tahap menerima dan memahami pesan sebelum merespons (DeVito, 2016).

Baca Juga :  Analisis Peran Lobby dalam Mendukung Kualitas Pelayanan di Kantor BPJS Kesehatan

5. Peran fasilitator dan umpan balik.

Bimbingan individual membuat peserta merasa dihargai dan lebih termotivasi memperbaiki cara berkomunikasi (Irwansyah dkk., 2025). Pendekatan yang empatik memungkinkan masukan diberikan sesuai kebutuhan masing-masing peserta, selaras dengan temuan Rahmawati (2021). Dalam pelatihan public speaking, umpan balik yang spesifik dan suportif membantu peserta mengetahui bagian yang sudah baik dan bagian yang perlu ditingkatkan tanpa menurunkan rasa percaya diri.

4.3 Keterkaitan Permasalahan Mitra, Intervensi, dan Capaian

Laporan sumber merumuskan lima permasalahan utama mitra. Tabel 2 merangkum hubungan antara permasalahan, intervensi yang dilakukan, dan capaian yang dilaporkan.

Tabel 2. Permasalahan Mitra, Intervensi, dan Capaian yang Dilaporkan

Permasalahan Mitra Bentuk Intervensi Capaian Yang Dilaporkan
Kepercayaan diri rendah Simulasi, role play, contohkonkret, dan umpanbalik Peserta yang semula ragu menjadi lebih berani berbicara di depan kelompok
Kemampuan verbal terbatas Simulasi percakapan, storytelling, dan latihan menyampaikan pendapat Kemampuan mengungkapkan ide dan perasaan secara verbal maupun nonverbal lebih baik
Kurang keterampilan mendengarkan Ceramah interaktif dan latihan mendengarkan aktif Kemampuanmendengarkanaktifmeningkat
Minim pengalaman aktivitas kelompok Diskusi kelompok kecil dan permainan kolaboratif Peserta lebih terbuka dan bekerja sama dalam suasana yang suportif
Bimbingan terstruktur terbatas Bimbingan dan umpan balik individual dari fasilitator Peserta merasa diperhatikan dan lebih termotivasi memperbaiki komunikasi

Sumber: dirangkum dari Irwansyah dkk. (2025).

Tabel 2 memperlihatkan bahwa setiap permasalahan dijawab oleh metode yang relevan, sehingga rancangan pelatihan terlihat koheren. Meskipun demikian, capaian pada kolom ketiga merupakan deskripsi kualitatif dari pelaksana kegiatan, bukan hasil pengukuran terstandar.

4.4 Faktor Pendukung dan Keterbatasan

Berdasarkan analisis terhadap laporan, terdapat beberapa faktor pendukung keberhasilan pelatihan:

  • pendekatan yang memadukan teori dan praktik sehingga peserta langsung mencoba apa yang dipelajari;
  • beragam metode (diskusi, simulasi, role play, storytelling) yang menjaga keterlibatan peserta;
  • suasana kelompok yang suportif dan bimbingan personal dari fasilitator;
  • dukungan fasilitas yayasan berupa ruang kelas, ruang diskusi, dan area praktik.

Di sisi lain, terdapat keterbatasan yang perlu dicatat secara jujur:

  • durasi lima hari tergolong singkat untuk membentuk kebiasaan berbicara yang stabil, sehingga keberlanjutan latihan perlu dipikirkan;
  • laporan tidak memuat jumlah peserta, rentang usia, maupun pengukuran sebelum dan sesudah pelatihan, sehingga besaran peningkatan tidak dapat dipastikan;
  • penilaian hasil bergantung pada pengamatan pelaksana, yang berpotensi subjektif tanpa instrumen observasi yang baku.

4.5 Implikasi Praktis: Usulan Rangkaian Latihan Public Speaking untuk

      Anak

Berdasarkan hasil analisis dan teori yang dikaji, penulis mengusulkan rangkaian latihan berikut untuk pelatihan serupa. Usulan ini merupakan gagasan penulis dan belum diuji di lapangan.

  1. Pemanasan dan pengelolaan gugup.

Latihan pernapasan, postur berdiri, dan permainan singkat untuk mencairkan suasana sebelum berbicara (Lucas, 2015).

  1. Struktur tiga bagian.

Peserta menyusun cerita pendek dengan pembuka, isi, dan penutup pada topik yang dekat dengan pengalaman mereka, misalnya “hal yang saya sukai” atau “kegiatan hari ini”.

  1. Paparan bertahap.

Berlatih berpasangan, lalu di kelompok kecil, kemudian di depan seluruh peserta agar keberanian tumbuh melalui pengalaman berhasil (Bandura, 1997).

  1. Umpan balik terstruktur.

Fasilitator dan teman memberi dua hal yang sudah baik dan satu harapan perbaikan, dengan bahasa yang suportif (Rahmawati, 2021).

  1. Refleksi dan pengulangan.

Peserta menilai penampilannya sendiri, lalu mengulang latihan secara berkala agar kemajuan terjaga (Kolb, 1984).

Untuk mengukur kemajuan, pelatihan dapat memakai lembar observasi sederhana. Contoh instrumen yang dapat disesuaikan disajikan pada Lampiran 1.

5. KESIMPULAN

Pelatihan komunikasi efektif di Yayasan PADI dirancang dengan pendekatan interaktif dan partisipatif yang memadukan ceramah interaktif, diskusi kelompok, simulasi percakapan, role play, storytelling, serta refleksi dan umpan balik. Analisis menunjukkan bahwa metode-metode tersebut selaras dengan komponen utama public speaking, yaitu kesadaran komunikasi verbal dan nonverbal, kepercayaan diri dan keberanian tampil, kemampuan menyusun pesan, mendengarkan aktif, serta empati.

Menurut laporan pelaksana, peserta menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam mengungkapkan ide dan perasaan, lebih berani berbicara di depan kelompok, lebih mampu mendengarkan, dan lebih terbuka dalam bekerja sama. Bimbingan personal fasilitator menjadi faktor pendukung penting. Namun, karena laporan sumber tidak menyajikan pengukuran kuantitatif, kesimpulan ini bersifat kualitatif dan tidak dimaksudkan untuk menyatakan besaran peningkatan.

6. SARAN

  1. Bagi yayasan: menjadwalkan sesi latihan berbicara secara rutin, misalnya kegiatan bercerita atau presentasi singkat berkala, agar keterampilan yang telah dipelajari tidak menurun.
  2. Bagi pelaksana kegiatan: menambahkan instrumen penilaian yang terukur, seperti lembar observasi dan penilaian sebelum dan sesudah pelatihan, serta mencatat jumlah dan rentang usia peserta.
  3. Bagi penelitian selanjutnya: melakukan penelitian lapangan dengan desain yang lebih terukur, misalnya pengamatan lanjutan beberapa minggu setelah pelatihan untuk melihat keberlanjutan hasil.

DAFTAR PUSTAKA

Aprilianti, R. (2020). Penerapan metode role play untuk meningkatkan empati dan komunikasi interpersonal pada remaja. Jurnal Pendidikan Karakter, 10(2), 145–154.

Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. W. H. Freeman.

Devito, J. A. (2016). The interpersonal communication book (14th ed.). Pearson.

Irwansyah, Anjani, S. R., & Nurlela. (2025). Pelatihan komunikasi efektif mengungkapkan ide dan perasaan dengan baik. Krepa: Kreativitas pada Abdimas, 7(5).

Kolb, D. A. (1984). Experiential learning: Experience as the source of learning and development. Prentice-Hall.

Lestari, S. (2021). Komunikasi interpersonal pada anak dan remaja dalam konteks pendidikan keluarga. Jurnal Komunikasi Nusantara, 3(1), 34–42.

Lucas, S. E. (2015). The art of public speaking (12th ed.). McGraw-Hill Education.

Mehrabian, A. (1971). Silent messages. Wadsworth.

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.

Pratama, D., & Fitriani, H. (2022). Penerapan pembelajaran partisipatif untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan berbicara siswa. Jurnal Psikologi Pendidikan Indonesia, 8(1), 25–33.

Rahmawati, N. (2021). Peran pendamping dalam meningkatkan keterampilan komunikasi anak melalui pendekatan empatik. Jurnal Bimbingan dan Konseling Indonesia, 6(2), 112–120.

Suryani, T., & Erwanto, R. (2023). Pembelajaran kolaboratif untuk meningkatkan kemampuan interaksi sosial peserta didik. Jurnal Pendidikan Sosial Humaniora, 12(1), 57–66.

LAMPIRAN 1. USULAN LEMBAR OBSERVASI KETERAMPILAN PUBLIC SPEAKING ANAK

Instrumen berikut merupakan usulan penulis yang dapat disesuaikan. Skor: 1 = perlu bimbingan, 2 = mulai berkembang, 3 = baik, 4 = sangat baik.

Tabel 3. Lembar Observasi Sederhana

Aspek Indikator yang diamati Skor (1–4)
Kepercayaan diri Berani maju dan mulai berbicara tanpa banyak ragu  
Suara dan intonasi Volume dapat didengar seluruh kelompok; intonasi tidak datar  
Bahasa tubuh dan kontak mata Berdiri tegak, memandang pendengar, gerak tubuh mendukung pesan  
Struktur pesan Memiliki pembuka, isi, dan penutup yang mudah diikuti  
Kesantunan bahasa Menggunakan kata-kata yang sopan dan sesuai situasi  
Ekspresi perasaan Mampu menyatakan perasaan dengan cara yang tepat  
Mendengarkan aktif Menyimak pembicara lain dan merespons dengan relevan  

 

Follow WhatsApp Channel campusdaily.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Public Speaking, Keterampilan Penting untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Mahasiswa
Media Sosial Mengubah Cara Mahasiswa Berkomunikasi
Pasar Persaingan Sempurna: Karakteristik, Keuntungan, dan Strategi Perusahaan dalam Menghadapi Persaingan
Berani Bicara di Depan Umum: Panduan Praktis untuk Mahasiswa
Strategi Pengembangan dan Pembelajaran Talenta dalam Meningkatkan Kinerja Organisasi di Era Digital
Ketika Omongan Jadi Konten: Di Mana Batas Etika Public Speaking di Era Viral?
Studi Kelayakan Bisnis Berbasis Lingkungan Sebagai Upaya Menciptakan Usaha Berkelanjutan
Bukan Rutinitas Administrasi: Perencanaan SDM, Seni Pengambilan Keputusan Strategis

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:43 WIB

Public Speaking, Keterampilan Penting untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Mahasiswa

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:13 WIB

Media Sosial Mengubah Cara Mahasiswa Berkomunikasi

Senin, 12 Oktober 2026 - 10:01 WIB

Pasar Persaingan Sempurna: Karakteristik, Keuntungan, dan Strategi Perusahaan dalam Menghadapi Persaingan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 06:34 WIB

Strategi Pengembangan dan Pembelajaran Talenta dalam Meningkatkan Kinerja Organisasi di Era Digital

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Pelatihan Komunikasi Efektif Sebagai Sarana Penguatan Keterampilan Public Speaking Anak Binaan Yayasan Pundi Amal Dermawan Indonesia

Berita Terbaru

Kampus

Cara Kirim Artikel Mahasiswa di Media Online

Rabu, 2 Sep 2026 - 21:30 WIB

dok.megapolitan.antaranews.com

Kampus

UI Dorong Standar Nasional Pengelolaan Asrama Mahasiswa

Senin, 19 Okt 2026 - 10:42 WIB

Opini

Media Sosial Mengubah Cara Mahasiswa Berkomunikasi

Selasa, 13 Okt 2026 - 20:13 WIB