Campus Daily | Keterbatasan lahan menjadi salah satu tantangan dalam kegiatan budidaya ikan, khususnya di wilayah perkotaan. Pertumbuhan penduduk dan pembangunan menyebabkan lahan untuk kegiatan perikanan semakin terbatas, sedangkan kebutuhan masyarakat terhadap pangan dan protein hewani terus meningkat. Salah satu alternatif yang dapat diterapkan adalah Budidaya Ikan dalam Ember (Budikdamber) yang dipadukan dengan sistem akuaponik. Penelitian Nursandi (2018) mengembangkan sistem budidaya ikan menggunakan media ember yang juga dapat dimanfaatkan untuk menanam kangkung. Sistem ini dirancang agar dapat diterapkan pada lahan terbatas dengan menggunakan media yang relatif sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ember sekitar 60 liter dapat digunakan untuk pemeliharaan ikan lele dan tanaman kangkung secara bersamaan. Budikdamber memiliki potensi sebagai alternatif pemanfaatan lahan sempit dan mendukung kegiatan urban farming, meskipun penerapannya tetap membutuhkan pengelolaan kualitas air, pakan, serta perlindungan ikan dari predator.
Kata kunci: Budikdamber, akuaponik, ikan lele, lahan sempit, urban farming.
1. PENDAHULUAN
Kebutuhan masyarakat terhadap pangan, khususnya protein hewani, terus meningkat. Ikan merupakan salah satu sumber protein yang dapat dibudidayakan oleh masyarakat. Namun, kegiatan budidaya ikan membutuhkan tempat yang memadai. Di wilayah perkotaan, ketersediaan lahan untuk membuat kolam semakin terbatas karena banyak lahan digunakan untuk permukiman dan pembangunan. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat perlu mencari cara yang lebih kreatif untuk memanfaatkan lahan yang tersedia.
Menurut Nursandi (2018), keterbatasan lahan budidaya ikan dan semakin terbatasnya air dapat diatasi dengan bantuan teknologi. Salah satu bentuk teknologi tersebut adalah Budikdamber. Sistem ini menggunakan ember sebagai tempat pemeliharaan ikan dan dapat dikombinasikan dengan tanaman melalui sistem akuaponik.
Budikdamber menjadi menarik karena dapat diterapkan pada lahan yang sangat terbatas. Masyarakat tidak harus memiliki kolam yang luas untuk melakukan kegiatan budidaya. Ember dapat ditempatkan di halaman rumah atau lokasi lain yang tersedia. Selain ikan, bagian atas ember dapat dimanfaatkan untuk menanam kangkung sehingga satu media dapat menghasilkan dua jenis produk.
Konsep tersebut sejalan dengan kajian Nugroho et al. (2012) mengenai penerapan teknologi akuaponik untuk optimalisasi kapasitas produksi ikan air tawar dan kajian Rokhmah et al. (2014) mengenai mini akuaponik untuk lahan sempit di perkotaan. Dengan demikian, Budikdamber dapat dipandang sebagai salah satu bentuk pemanfaatan teknologi akuaponik yang sesuai untuk ruang terbatas.
2. KONSEP BUDIKDAMBER DAN AKUAPONIK
Budikdamber merupakan sistem budidaya ikan dengan menggunakan ember sebagai media pemeliharaan. Pada sistem yang dikembangkan Nursandi (2018), ember digunakan untuk memelihara ikan lele, sedangkan bagian atas ember dimanfaatkan untuk menanam kangkung. Gelas plastik yang digunakan sebagai wadah tanaman diisi media arang kayu dan diberi lubang agar air dapat masuk ke media tanaman.
Penggabungan ikan dan tanaman memungkinkan pemanfaatan ruang secara bersamaan. Ikan berada pada bagian bawah, sedangkan tanaman berada pada bagian atas. Konsep tersebut juga sejalan dengan pembahasan Nugroho et al. (2012) mengenai sistem akuaponik sebagai integrasi kegiatan budidaya ikan dan tanaman.
Rokhmah et al. (2014) juga membahas mini akuaponik untuk lahan sempit di perkotaan. Hal tersebut memperkuat relevansi penggunaan sistem berukuran kecil untuk masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan.
3. METODE PENERAPAN BUDIKDAMBER
Berdasarkan penelitian Nursandi (2018), penerapan sistem dilakukan melalui perancangan dan pembuatan sistem budidaya, pengujian kinerja sistem budidaya ikan dalam ember, serta penyusunan kesimpulan dan rekomendasi.
Alat dan bahan yang digunakan antara lain ember, gelas plastik, kawat, arang kayu, ikan uji, serta alat untuk mengukur kualitas air. Sistem menggunakan ember yang diisi sekitar 60 liter air. Pada bagian atas ember dipasang gelas plastik berisi arang kayu sebagai media tanam kangkung. Gelas plastik diberi lubang agar air dapat masuk ke media tanaman.
Pengamatan meliputi daya tampung ikan, pertumbuhan ikan, pertumbuhan kangkung, tingkat kelangsungan hidup ikan, serta kualitas air seperti suhu, oksigen terlarut, pH, amonia, nitrit, dan nitrat. Pembahasan kualitas air juga berkaitan dengan Adharani et al. (2016) yang menempatkan manajemen kualitas air sebagai bagian penting dalam pemeliharaan ikan lele.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pemanfaatan Lahan
Hasil penelitian Nursandi (2018) menunjukkan bahwa Budikdamber dapat digunakan pada lahan sempit. Satu sistem membutuhkan luas lahan sekitar 0,2 m². Ember sekitar 60 liter secara rancangan dapat digunakan untuk memelihara ikan lele dengan kepadatan satu ekor per liter. Penggunaan ember memberikan keuntungan karena wadah mudah diperoleh dan tidak membutuhkan lahan luas.
4.2 Produksi Ikan dan Tanaman
Keunggulan Budikdamber adalah pemanfaatan ruang secara bersamaan. Bagian bawah ember digunakan untuk pemeliharaan ikan, sedangkan bagian atas untuk menanam kangkung. Dalam penelitian Nursandi (2018), jarak waktu panen kangkung berkisar 10–16 hari. Selama 40 hari pemeliharaan, kangkung dapat dipanen sebanyak tiga kali dengan rata-rata minimal 4,2 ikat per ember.
Pada pemeliharaan ikan, penelitian tersebut melaporkan biomassa ikan sebesar 2.440 gram dengan rata-rata bobot 71,76 gram per ekor pada masa pemeliharaan sekitar 42 hari. Hasil ini menunjukkan bahwa satu wadah dapat menghasilkan ikan dan sayuran secara bersamaan.
Wicaksana et al. (2015) juga membahas performa produksi ikan lele pada sistem biofilter akuaponik dan konvensional. Sementara itu, Setijaningsih dan Umar (2015) mengkaji pengaruh lama retensi air terhadap pertumbuhan ikan nila dalam sistem akuaponik dengan tanaman kangkung. Kedua penelitian tersebut dapat menjadi pendukung bahwa pengelolaan sistem air dan integrasi tanaman merupakan aspek penting dalam sistem akuaponik.
4.3 Kualitas Air
Kualitas air merupakan faktor penting dalam keberhasilan Budikdamber. Nursandi (2018) melaporkan suhu air 23–32°C, oksigen terlarut 2–6 ppm, dan pH 6,68–6,97, sedangkan amonia, nitrit, dan nitrat yang diamati berada pada kisaran 0–0,5 ppm. Kondisi air perlu dipantau karena perubahan kualitas air dapat memengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan.
Adharani et al. (2016) secara khusus membahas manajemen kualitas air pada pemeliharaan ikan lele dengan teknologi bioflok. Sumber tersebut mendukung pentingnya pengelolaan kualitas air dalam sistem pemeliharaan ikan, meskipun teknologi bioflok tidak sama dengan sistem Budikdamber.
4.4 Pemanfaatan Unsur Hara dan Efisiensi Sumber Daya
Dalam sistem akuaponik, tanaman dapat memanfaatkan unsur hara yang berasal dari aktivitas ikan. Penelitian Nugroho et al. (2012) membahas aplikasi teknologi akuaponik pada budidaya ikan air tawar untuk optimalisasi kapasitas produksi. Pada Budikdamber, integrasi ikan dan tanaman memungkinkan satu media menghasilkan dua jenis produk.
Sisa padatan dari media budidaya yang disimpan secara berkala juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman. Pemanfaatan hasil samping tersebut dapat mengurangi pemborosan sumber daya dalam sistem budidaya.
4.5 Kendala Penerapan
Walaupun memiliki kelebihan, Budikdamber juga mempunyai kendala. Nursandi (2018) melaporkan tingkat kelangsungan hidup ikan pada kisaran 41–70%. Beberapa ikan dapat dimangsa kucing atau keluar dari media ketika musim hujan. Oleh karena itu, desain wadah perlu diperbaiki agar ikan lebih aman dan air tidak mudah meluap.
Pemberian pakan juga perlu diperhatikan. Pakan yang berlebihan dapat meningkatkan bahan organik dan kadar amonia dalam air. Karena itu, jumlah pakan dan kualitas air perlu dikelola secara teratur.
5. BUDIKDAMBER SEBAGAI URBAN FARMING
Budikdamber dapat diterapkan sebagai salah satu bentuk urban farming karena dapat dilakukan pada lahan yang terbatas. Masyarakat yang tidak memiliki kolam atau lahan luas tetap dapat melakukan produksi pangan menggunakan ember. Bagian atas ember juga dapat digunakan untuk menghasilkan sayuran.
Konsep ini sejalan dengan Rokhmah et al. (2014) yang membahas mini akuaponik untuk lahan sempit di perkotaan. Budikdamber juga berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi skala kecil karena menghasilkan ikan dan sayuran dalam satu media. Namun, keberhasilannya bergantung pada pengelolaan kualitas air, pakan, benih, perlindungan ikan, dan pemeliharaan tanaman.
6. POTENSI PENGEMBANGAN
Pengembangan Budikdamber dapat dilakukan melalui perbaikan desain wadah, pengelolaan kualitas air, pengaturan pemberian pakan, serta perlindungan ikan dari predator. Perbaikan tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko ikan keluar dari wadah ketika hujan dan meningkatkan keamanan pemeliharaan.
Pada tingkat rumah tangga, Budikdamber dapat digunakan sebagai sarana produksi pangan. Jika diterapkan secara lebih terencana, sistem ini juga dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi skala kecil. Namun, pengembangan tersebut harus tetap didasarkan pada pengelolaan teknis yang baik agar produksi ikan dan tanaman dapat berlangsung secara optimal.
7. KESIMPULAN
Budidaya Ikan dalam Ember (Budikdamber) dengan sistem akuaponik merupakan alternatif teknologi yang dapat digunakan untuk budidaya ikan pada lahan terbatas. Sistem ini memanfaatkan ember sebagai media pemeliharaan ikan lele dan bagian atasnya untuk menanam kangkung. Berdasarkan penelitian Nursandi (2018), media sekitar 60 liter dapat digunakan untuk menghasilkan ikan dan tanaman secara bersamaan.
Budikdamber memiliki kelebihan berupa kebutuhan lahan yang relatif kecil, penggunaan wadah yang mudah diperoleh, serta pemanfaatan satu sistem untuk menghasilkan ikan dan sayuran. Namun, penerapannya tetap membutuhkan perhatian terhadap kualitas air, pemberian pakan, perlindungan ikan dari predator, dan pencegahan ikan keluar dari wadah.
Dengan pengelolaan dan pengembangan desain yang tepat, Budikdamber dapat menjadi alternatif pemanfaatan lahan sempit dan mendukung urban farming. Sistem ini juga memiliki potensi untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga dan dikembangkan sebagai peluang usaha skala kecil.
DAFTAR PUSTAKA
Adharani, N., Soewardi, K., Syakti, A. D., & Hariyadi, S. (2016). Manajemen kualitas air dengan teknologi bioflok: Studi kasus pemeliharaan ikan lele (Clarias sp.). Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 21(1), 35–40. https://doi.org/10.18343/jipi.21.1.35
Nugroho, R. A., Pambudi, L. T., Chilmawati, D., & Haditomo, A. H. C. (2012). Aplikasi teknologi aquaponic pada budidaya ikan air tawar untuk optimalisasi kapasitas produksi. Saintek Perikanan, 8(1), 46–51. https://doi.org/10.14710/ijfst.8.1.46-51
Nursandi, J. (2018). Budidaya ikan dalam ember “Budikdamber” dengan aquaponik di lahan sempit. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Teknologi Pertanian, 129–136. https://doi.org/10.25181/prosemnas.v2018i0.1150
Rokhmah, N. A., Ammatillah, C. S., & Sastro, Y. (2014). Vertiminaponik, mini akuaponik untuk lahan sempit di perkotaan. Buletin Pertanian Perkotaan, 4(2), 14–22.
Setijaningsih, L., & Umar, C. (2015). Pengaruh lama retensi air terhadap pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus) pada budidaya sistem akuaponik dengan tanaman kangkung. Berita Biologi: Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati, 14(3), 267–275. https://doi.org/10.14203/beritabiologi.v14i3.2085
Wicaksana, S. N., Hastuti, S., & Arini, E. (2015). Performa produksi ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) yang dipelihara dengan sistem biofilter akuaponik dan konvensional. Journal of Aquaculture Management and Technology, 4(4), 109–116.










