Campusdaily.com |- Himpunan Mahasiswa Departemen (HMD) Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) sukses menyelenggarakan SENJATA 2026 (Sejarah Eksistensi Jati Diri dan Transformasi) di Gedung De Javasche Bank, Surabaya, Sabtu (3/10/2026). Mengusung tema “Moral, Folklore, dan Konstruksi Gender dalam Sejarah”, kegiatan ini dikemas melalui seminar dan pameran seni.
SENJATA 2026 menjadi ruang bagi mahasiswa dan masyarakat untuk melihat sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi juga sebagai pijakan dalam memahami perubahan sosial dan menentukan arah masa depan bangsa.
Sejarah sebagai Pijakan Masa Depan
Ketua HMD Ilmu Sejarah UNAIR, Verdi Yudha Pratama, menegaskan pentingnya pemahaman sejarah dalam menuntun perjalanan bangsa. Menurutnya, bangsa yang memahami akar sejarah akan memiliki pijakan yang lebih kuat dalam menyusun strategi pembangunan.
“Memahami sejarah merupakan hal penting dalam membangun arah masa depan bangsa. Bangsa yang memiliki pijakan sejarah yang kuat dalam menentukan arah pembangunan akan lebih mampu mencapai kemajuan,” ujar Verdi Yudha.
Melalui kegiatan tersebut, HMD Ilmu Sejarah UNAIR berharap kesadaran sejarah dapat tumbuh lebih luas di tengah masyarakat. Sejarah diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan akademik, tetapi dapat menjadi fondasi untuk membaca berbagai perubahan yang terjadi saat ini.
Membahas Norma, Tradisi, dan Konstruksi Gender
Seminar menghadirkan dua narasumber, yakni Dhany T. Saputra, Direktur Riset Kanal Sejarah Mesin Waktu, serta Ilham Baskoro, S.Hum., Mahasiswa Magister Kajian Sastra dan Budaya FIB UNAIR. Diskusi dipandu oleh Klara Trivani sebagai moderator.
Dhany membawakan materi “Evolusi Norma dalam Sejarah”. Ia membahas masyarakat pra-norma atau pre-norm society, yakni masa ketika manusia berinteraksi tanpa memiliki aturan maupun pedoman perilaku yang baku.
“Manusia secara naluri akan menggunakan instingnya untuk mencegah bahaya yang timbul darinya atau orang lain melalui proses mengamati, mengambil tindakan, dan menyimpulkan konsekuensi yang didapat dari perbuatan yang dilakukannya. Akibatnya, banyak korban baik jiwa atau benda bermunculan selama proses ini berlangsung,” ungkap Dhany T. Saputra.
Sementara itu, Ilham Baskoro membahas “Moral, Folklore, dan Konstruksi Gender dalam Sejarah”. Ia menjelaskan bahwa tradisi dan budaya terus mengalami perubahan seiring bergesernya konteks sosial.
Perpindahan tradisi dari ruang komunitas menuju industri budaya dapat memunculkan komodifikasi sekaligus reduksi makna. Fenomena tersebut, antara lain, terlihat dari tradisi sakral yang berubah menjadi atraksi wisata hingga penggambaran budaya dalam film horor.
“Makna dalam tradisi selalu diperebutkan ketika konteks sosial berubah, studi historis membantu memahami kekuatan-kekuatan yang menegosiasikan perubahan itu,” terang Ilham Baskoro.
Menguatkan Peran Generasi Muda
SENJATA 2026 juga dihadiri jajaran PAPELS (Persaudaraan Anak Pejuang Empat Lima Surabaya). Kehadiran organisasi tersebut menjadi momentum pengenalan para penerus pejuang kemerdekaan kepada mahasiswa dan masyarakat.
Pemrakarsa sekaligus Dewan Pendiri PAPELS, Charles E. Tumbel, menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif HMD Ilmu Sejarah UNAIR.
“Diperlukan kepedulian tinggi dari generasi muda untuk merawat sejarah dan kemauan keras untuk mempelajari peristiwa-peristiwa di masa lalu supaya bangsa kita bisa benar-benar menjadi besar, berdaulat, bermartabat, adil, makmur serta sejahtera. Jikalau tidak, maka bangsa kita malahan tercerai-berai, hancur-lebur dijajah kembali oleh bangsa lain,” jelas Charles E. Tumbel.
Dewan Pendiri PAPELS sekaligus Dewan Penasihat DPD PAPELS Kota Surabaya, Tri Retno Suqryanti, turut menekankan pentingnya generasi muda mengenal sejarah dan budaya bangsa.
“Untuk ilmu pengetahuan modern wajib membuka diri dengan bangsa-bangaa lain dengan mempelajari perkembangan kecanggihan teknologinya, tetapi kebudayaan asli bangsa warisan leluhur kita wajib dijaga dan dilestarikan sebagai ikon jati diri bangsa,” kata Tri Retno Suqryanti.
Melalui kolaborasi akademisi, mahasiswa, dan generasi muda, SENJATA 2026 diharapkan terus menjadi ruang edukatif dan reflektif untuk memperkuat jati diri bangsa. Sebagai agenda tahunan mahasiswa Ilmu Sejarah UNAIR, SENJATA menjadi wadah diskusi, edukasi, serta apresiasi seni dan sejarah bagi mahasiswa maupun masyarakat umum.










