Mahasiswa UPI Ciptakan Netravest, Rompi AI untuk Bantu Tunanetra

Ikon Campus Daily web

Jumat, 11 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

dok.kompas.com

dok.kompas.com

Campusdaily.id – Berjalan kaki di ruang publik bisa menjadi tantangan tersendiri bagi penyandang tunanetra, terutama ketika harus melewati lingkungan yang belum familiar. Melihat persoalan tersebut, tim mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menghadirkan inovasi berupa rompi pintar yang dirancang untuk membantu pengguna mengenali objek dan kondisi di sekitarnya.

Rompi tersebut diberi nama Netravest. Perangkat ini memanfaatkan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) untuk mendeteksi objek secara waktu nyata sekaligus memberikan informasi tambahan yang dapat membantu mobilitas penyandang tunanetra.

Inovasi ini dikembangkan oleh lima mahasiswa UPI, yakni Raden Farhan Rizki Septrian, Najwa Adistia Nisrina, Muhammad Fattan Al Farisi, Sulthan Ariq Haikal, dan Hanif Muzaffar Gunawan. Pengembangan dilakukan dengan bimbingan dosen Muhammad Taufik Dwi Putra, S.Tr.Kom., M.T.I., melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) tahun 2026.

Teknologi yang digunakan dalam Netravest meliputi computer vision, sensor Light Detection and Ranging (LiDAR), sensor fusion, dan bone conduction. Sistem tersebut dilengkapi pula dengan peringatan berbasis getaran yang dirancang sebagai pendamping tongkat putih.

Berawal dari Wawancara dengan Penyandang Tunanetra

Pengembangan Netravest tidak dimulai dari sekadar gagasan teknologi. Tim terlebih dahulu berdiskusi dan melakukan wawancara langsung dengan penyandang tunanetra untuk memahami persoalan yang mereka hadapi ketika bergerak di ruang publik.

Dari proses tersebut, tim menemukan bahwa tongkat putih yang selama ini menjadi alat bantu utama masih memiliki keterbatasan dalam mendeteksi sejumlah objek yang berada di atas jangkauan tongkat.

Beberapa contohnya adalah spanduk, baliho, dan papan reklame. Selain itu, kondisi permukaan jalan seperti lubang maupun objek lain yang berada di jalur pergerakan juga dapat menjadi hambatan.

Temuan tersebut kemudian menjadi dasar bagi tim dalam merancang Netravest. Rompi ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan tongkat putih, melainkan memberikan informasi tambahan kepada pengguna.

Ketua Tim Netravest, Raden Farhan Rizki Septrian, mengatakan kebutuhan pengguna menjadi pertimbangan sejak tahap awal pengembangan.

Baca Juga :  KKN IPB Resmi Dimulai di Tunjungan, Kecamatan, TNI, dan Polri Bersinergi Dukung Program Desa

“Tujuan kami bukan menggantikan tongkat, tetapi memberikan informasi tambahan kepada pengguna mengenai apa yang ada di sekitar mereka sehingga mobilitas dapat dilakukan dengan lebih aman dan mandiri,” kata Raden Farhan, dikutip dari situs Humas UPI.

Dikembangkan dalam Waktu Satu Bulan

Prototipe Netravest dikembangkan dalam waktu relatif singkat. Proses pembuatan berlangsung selama satu bulan, dimulai pada Juni hingga akhir Juli.

Setelah prototipe selesai, perangkat memasuki tahap pemantauan dan uji fungsional pada Agustus hingga September. Tahap ini dilakukan untuk mengukur kemampuan sistem sekaligus menemukan bagian-bagian yang masih membutuhkan penyempurnaan.

Proses tersebut menunjukkan bahwa pengembangan Netravest tidak berhenti pada pembuatan perangkat. Tim juga melakukan pengujian untuk memastikan teknologi benar-benar dapat digunakan sesuai kebutuhan pengguna.

Informasi Disampaikan Melalui Audio dan Getaran

Cara kerja Netravest menggabungkan beberapa teknologi untuk memberikan informasi kepada pengguna. Hasil deteksi objek akan disampaikan melalui audio dengan memanfaatkan teknologi bone conduction.

Selain audio, perangkat juga memberikan notifikasi berupa getaran sebagai informasi tambahan.

Pemilihan bone conduction dilakukan dengan pertimbangan agar pengguna tetap dapat mendengar suara lingkungan sekitar. Teknologi ini tidak menutup saluran pendengaran seperti penggunaan earphone pada umumnya.

Dengan demikian, pengguna tetap dapat menerima informasi dari perangkat sekaligus mempertahankan kesadaran terhadap kondisi di sekelilingnya.

Bisa Mengenali Nominal Uang Rupiah

Netravest ternyata tidak hanya dirancang untuk mengenali objek yang menjadi penghalang saat berjalan. Perangkat ini juga dikembangkan untuk membantu pengguna mengenali nominal mata uang rupiah.

Fitur tersebut lahir dari temuan tim bahwa penyandang tunanetra masih menghadapi kesulitan ketika harus mengenali nominal uang secara mandiri.

Cara penggunaannya cukup sederhana. Uang ditempatkan di depan kamera dengan jarak sekitar 30 centimeter. Dalam pengujian, proses pendeteksian nominal berlangsung selama 200 milidetik.

Setelah nominal berhasil dikenali, sistem akan membacakan hasilnya melalui audio sehingga pengguna dapat mengetahui nilai uang tersebut.

Dilengkapi Sistem SOS dan GPS

Untuk mendukung faktor keselamatan, Netravest juga dilengkapi sistem SOS yang terhubung dengan aplikasi pendamping tunanetra.

Sistem SOS dapat diaktifkan melalui dua cara, yaitu tombol yang tersedia pada rompi dan tombol pada aplikasi pendamping.

Baca Juga :  Halal Bukan Sekadar Label, Unpad dan Kemenag Perkuat Literasi Mahasiswa

Tombol pada rompi dapat diaktifkan dengan menekannya selama sekitar tiga detik. Setelah aktif, sistem akan mengirimkan informasi kepada aplikasi pendamping.

Pendamping kemudian dapat menerima informasi mengenai lokasi terakhir pengguna sekaligus kondisi perangkat. Informasi tersebut mencakup status baterai, kamera, GPS, serta sensor.

Sistem ini juga dikembangkan dengan fitur notifikasi melalui bot Telegram.

“Perangkat memiliki GPS pada rompi dan dapat memanfaatkan GPS pada telepon seluler pengguna sebagai sumber informasi lokasi tambahan. Koneksi internet terutama digunakan untuk fungsi SOS dan pemantauan berbasis peta, sedangkan proses utama deteksi objek dilakukan secara offline pada perangkat,” penjelasan di situs tersebut.

Bobot Masih Jadi Tantangan

Meski menawarkan berbagai fitur, Netravest masih dalam tahap pengembangan sehingga sejumlah aspek masih perlu diperbaiki.

Saat ini, perangkat memiliki bobot sekitar 2 kilogram. Tim menargetkan bobot tersebut dapat diturunkan menjadi sekitar 1 kilogram dengan memperkecil unit pemrosesan dan komponen elektronik.

Sementara itu, baterai yang digunakan pada rompi sejauh ini mampu menemani pengguna selama 8 jam.

Pengurangan bobot menjadi salah satu perhatian penting agar perangkat semakin nyaman digunakan, terutama ketika dipakai dalam aktivitas sehari-hari.

“Masih banyak potensi yang bisa dioptimalisasi lagi, mulai dari AI sampai ke hardware. Harapannya, ke depan perangkat ini bisa lebih ringkas dan lebih optimal,” ucap Hanif Muzaffar Gunawan.

Menuju Perangkat yang Lebih Ringkas dan Nyaman

Tim Netravest berencana melanjutkan pengembangan pada berbagai aspek, mulai dari perangkat keras, algoritma AI, konsumsi daya, ukuran, bobot, kenyamanan, hingga pengalaman pengguna.

Pengembangan tersebut menjadi penting agar teknologi tidak hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga benar-benar praktis ketika digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Tim juga berharap adanya dukungan kemitraan dengan industri agar proses pengembangan dapat dipercepat hingga memasuki tahap hilirisasi.

Kehadiran Netravest menunjukkan bagaimana mahasiswa tidak hanya mengembangkan teknologi untuk kebutuhan akademik, tetapi juga mencoba menjawab persoalan nyata di masyarakat.

Dengan perpaduan AI, computer vision, LiDAR, sensor fusion, bone conduction, GPS, dan sistem SOS, Netravest diarahkan menjadi perangkat pendamping yang dapat membantu penyandang tunanetra bergerak dengan lebih aman dan mandiri.

Perjalanan teknologi tersebut memang masih panjang. Namun, dari sebuah prototipe yang dikembangkan selama satu bulan, muncul sebuah gagasan penting: teknologi akan menjadi jauh lebih berarti ketika dirancang bukan hanya untuk menjadi canggih, tetapi juga untuk membuat kehidupan seseorang menjadi lebih mudah.

Sumber Berita: kompas.com

Follow WhatsApp Channel campusdaily.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

UI Dorong Standar Nasional Pengelolaan Asrama Mahasiswa
Mahasiswa UNESA 5 Ikuti Hari Jadi ke-351 Magetan, Dukung Semangat Kemajuan Daerah
Mahasiswa UPI Raih Juara III KMHE 2026, Mobil Listriknya Tembus Efisiensi 494,52 Km/kWh
UNU Jogja dan UIN Syekh Wasil Kediri Jajaki Kolaborasi.
Tiga Mahasiswa UIN Malang Juara Debat Bahasa Arab, Unggul di Tingkat Nasional
UIN KHAS Jember Petakan Kebutuhan Lansia di Panti Sosial dan Pesantren
Belajar Praktik Baik, FK UPN Veteran Jakarta Kunjungi FK Universitas Brawijaya
Dari Sejarah hingga Budaya, SENJATA 2026 UNAIR Bicara Jati Diri Bangsa

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 10:42 WIB

UI Dorong Standar Nasional Pengelolaan Asrama Mahasiswa

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:28 WIB

Mahasiswa UNESA 5 Ikuti Hari Jadi ke-351 Magetan, Dukung Semangat Kemajuan Daerah

Minggu, 11 Oktober 2026 - 14:21 WIB

Mahasiswa UPI Raih Juara III KMHE 2026, Mobil Listriknya Tembus Efisiensi 494,52 Km/kWh

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 14:40 WIB

UNU Jogja dan UIN Syekh Wasil Kediri Jajaki Kolaborasi.

Jumat, 9 Oktober 2026 - 20:24 WIB

Tiga Mahasiswa UIN Malang Juara Debat Bahasa Arab, Unggul di Tingkat Nasional

Berita Terbaru

Kampus

Cara Kirim Artikel Mahasiswa di Media Online

Rabu, 2 Sep 2026 - 21:30 WIB

dok.megapolitan.antaranews.com

Kampus

UI Dorong Standar Nasional Pengelolaan Asrama Mahasiswa

Senin, 19 Okt 2026 - 10:42 WIB

Opini

Media Sosial Mengubah Cara Mahasiswa Berkomunikasi

Selasa, 13 Okt 2026 - 20:13 WIB