Campusdaily.id – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terus mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Di tengah kemajuan teknologi tersebut, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Noorhaidi Hasan menegaskan bahwa kemampuan berpikir manusia tetap menjadi fondasi utama pendidikan.
Hal itu disampaikan Noorhaidi dalam pidato ilmiah Dies Natalis ke-75 UIN Sunan Kalijaga di Yogyakarta, Senin (28/9/2026). Ia menilai semakin canggih AI, semakin besar pula kebutuhan terhadap kemampuan manusia dalam berpikir secara logis, kritis, kreatif, dan etis.
“Empat kemampuan ini, logical, critical, creative and ethical thinking menurut saya merupakan fondasi yang tidak boleh kita tinggalkan. Justru sebaliknya, semakin canggih AI, semakin penting kemampuan tersebut,” katanya.
AI Mampu Memproses Data, Manusia Menentukan Makna
Menurut Noorhaidi, kehadiran AI merupakan bagian dari perkembangan teknologi yang tidak dapat dihindari. Teknologi tersebut kini mampu membaca jutaan halaman dalam hitungan detik, menganalisis data dalam skala besar, hingga menghasilkan berbagai bentuk karya seperti teks, gambar, musik, dan kode.
Namun, kemampuan tersebut menurutnya tidak otomatis menggantikan peran manusia. AI dapat membantu memproses informasi dan menghasilkan berbagai kemungkinan, tetapi manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk menentukan makna, nilai, serta konsekuensi dari teknologi yang digunakan.
“AI dapat menemukan pola, tetapi manusia harus menilai makna pola tersebut. AI dapat menghasilkan banyak pilihan, tapi manusia harus menentukan mana yang benar, adil dan bermartabat, AI dapat mempercepat keputusan, tapi manusia harus mempertanggungjawabkan konsekuensi dari keputusan itu,” katanya.
Karena itu, pendidikan tinggi menurut Noorhaidi perlu memastikan bahwa penguasaan teknologi berjalan beriringan dengan penguatan kemampuan berpikir dan pertimbangan etis.
Ilmu Pengetahuan Harus Berujung pada Dampak
Selain membahas AI, Noorhaidi menyoroti tantangan pendidikan tinggi yang tidak cukup hanya mengejar perkembangan teknologi. Menurutnya, ilmu pengetahuan harus dapat diterjemahkan menjadi inovasi yang benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.
“Saya melihat sesuatu yang mungkin selama ini hanya kita saksikan melalui layar televisi atau media sosial, bagaimana ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan tinggi, industri, dan kebijakan pembangunan dirangkai menjadi sebuah ekosistem yang terintegrasi,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa perguruan tinggi telah menghasilkan berbagai produk akademik, mulai dari penelitian, jurnal, buku, hingga lulusan. Namun, seluruh hasil tersebut perlu dihubungkan dengan inovasi dan penerapan nyata agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
“Pengetahuan harus melahirkan inovasi. Inovasi harus menemukan aplikasinya. Dan aplikasi harus menghasilkan dampak,” katanya.
Pandangan tersebut menempatkan perguruan tinggi bukan hanya sebagai tempat menghasilkan pengetahuan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem yang menghubungkan ilmu, teknologi, industri, dan kebutuhan masyarakat.
Dari Keunggulan Akademik Menuju Dampak Global
Gagasan tersebut sejalan dengan tema Dies Natalis ke-75 UIN Sunan Kalijaga, “Dari Keunggulan Akademik Menuju Dampak Global”.
Menurut Noorhaidi, keunggulan akademik tidak seharusnya berhenti pada pengakuan terhadap kualitas sebuah perguruan tinggi. Keunggulan tersebut perlu diterjemahkan menjadi gagasan, inovasi, dan karya yang mampu menjawab persoalan di masyarakat.
Dalam konteks tersebut, perkembangan AI justru dapat menjadi peluang bagi perguruan tinggi untuk memperluas dampak ilmu pengetahuan. Namun, pemanfaatan teknologi tetap harus disertai kemampuan manusia dalam menilai, memilih, dan bertanggung jawab atas hasil yang dihasilkan.
“Universitas masa depan tidak ditentukan semata oleh gedung pintar, namun manusia yang cerdas berpikir. Karena itu, universitas harus mampu memanfaatkan kemajuan teknologi sambil mengembangkan kualitas manusia yang menggunakannya,” pungkasnya.
Dies Natalis ke-75 UIN Sunan Kalijaga pun menjadi momentum untuk menegaskan kembali bahwa kemajuan teknologi dan kualitas manusia bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru perlu berjalan beriringan agar pendidikan tinggi mampu menghasilkan pengetahuan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki dampak yang lebih luas.
Sumber Berita: mozaik.inilah.com










