Campusdaily.id – Potensi pariwisata Riau kembali mencuri perhatian di tingkat nasional. Dua mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara (Siyasah) Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau, M. Febriansyah dan Rifi Jasya Mawaddah, berhasil meraih Terbaik III Subtema Pariwisata dalam Kompetisi Infografis dan Videografis Mahasiswa Tingkat Nasional 2026.
Prestasi tersebut diraih melalui karya infografis berjudul “Wisata Riau: Potensi Besar yang Menanti”. Karya tersebut mengangkat potensi sekaligus tantangan pengembangan pariwisata Riau dengan pendekatan berbasis data.
Kompetisi yang diselenggarakan Pojok Statistik Universitas Negeri Malang berlangsung pada 15 Juni hingga 31 Agustus 2026. Mengusung tema “Visualisasi Data: See the Numbers, Understand the World”, ajang tersebut diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Potensi Wisata Riau Dibaca Lewat Data
Dalam karya mereka, Febriansyah dan Rifi mencoba menggambarkan wajah pariwisata Riau yang memiliki beragam potensi. Mulai dari wisata alam, sejarah, budaya, hingga bahari, semuanya dikemas dalam bentuk visual yang lebih sederhana agar mudah dipahami.
Pemilihan Riau sebagai fokus karya bukan tanpa alasan. Keduanya ingin melihat kondisi daerah sendiri melalui perspektif data sekaligus memperkenalkan destinasi yang dinilai belum banyak mendapat perhatian.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Riau tidak hanya memiliki kekayaan sumber daya alam, tetapi juga punya potensi pariwisata yang besar. Lewat infografis ini, kami mencoba melihat potensi dan tantangannya berdasarkan data, kemudian menyajikannya dengan cara yang lebih sederhana dan mudah dipahami,” ujar Febriansyah.
Salah satu data yang ditampilkan menunjukkan dominasi wisatawan mancanegara asal Malaysia. Berdasarkan data yang mereka sajikan, sebanyak 70,78 persen wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Riau berasal dari Malaysia.
Data tersebut menunjukkan adanya peluang yang cukup besar untuk mengembangkan pasar wisatawan dari negara tetangga, terutama karena kedekatan geografis dan budaya antara Riau dan Malaysia.
Tantangan Bukan Sekadar Mendatangkan Wisatawan
Di balik potensi yang besar, karya tersebut juga menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi sektor pariwisata Riau. Salah satunya adalah mendorong wisatawan agar tidak hanya datang, tetapi juga memperpanjang masa tinggal.
Rata-rata lama tinggal wisatawan di Riau tercatat hanya 1,36 hari. Sementara itu, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Riau berada pada angka 31,24 persen.
Sebagai pembanding, Sumatera Barat mencatat TPK sebesar 48,34 persen.
Menurut Rifi, data tersebut memperlihatkan adanya ruang yang masih dapat dikembangkan, terutama dalam mengemas perjalanan wisata agar lebih menarik dan terintegrasi.
“Potensinya sebenarnya sudah ada. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dikemas dan dihubungkan agar wisatawan tidak hanya datang, tetapi juga tertarik mengunjungi lebih banyak tempat dan tinggal lebih lama di Riau,” kata Rifi.
Promosikan Destinasi, Bangun Pengalaman Wisata
Untuk memperkuat pesan dalam infografis, kedua mahasiswa tersebut turut memperkenalkan sejumlah destinasi unggulan Riau. Di antaranya Ombak Bono, Istana Siak Sri Indrapura, Candi Muara Takus, hingga Ulu Kasok.
Destinasi-destinasi tersebut menjadi gambaran bahwa Riau memiliki pilihan wisata yang cukup beragam. Keberagaman itu mencakup pengalaman alam, sejarah, budaya, hingga wisata bahari.
Namun, menurut Febriansyah dan Rifi, pengembangan pariwisata tidak cukup dilakukan dengan sekadar memperkenalkan nama destinasi. Konektivitas antarwilayah, pengemasan paket perjalanan, dan pengalaman wisatawan juga perlu diperhatikan.
Beberapa gagasan yang mereka tawarkan antara lain penguatan branding “Visit Riau”, pengembangan paket wisata yang menghubungkan sejumlah destinasi, serta peningkatan kualitas pengalaman pengunjung.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuat wisatawan memiliki lebih banyak alasan untuk memperpanjang perjalanan dan mengeksplorasi destinasi lain di Riau.
Mahasiswa Siyasah Tampil Lewat Visualisasi Data
Menariknya, Febriansyah dan Rifi bukan mahasiswa dari bidang pariwisata, statistik, maupun desain. Keduanya berasal dari Program Studi Hukum Tata Negara (Siyasah).
Kompetisi tersebut menjadi kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan di luar bidang perkuliahan. Mereka belajar membaca data, mengidentifikasi persoalan daerah, kemudian menerjemahkannya menjadi visualisasi yang lebih komunikatif.
Karya “Wisata Riau: Potensi Besar yang Menanti” akhirnya mengantarkan keduanya meraih Terbaik III Subtema Pariwisata dalam kompetisi tingkat nasional tersebut.
Bagi Febriansyah dan Rifi, penghargaan itu bukan sekadar pencapaian dalam sebuah kompetisi. Lebih dari itu, karya tersebut menjadi cara untuk membawa potensi dan persoalan pariwisata Riau ke ruang yang lebih luas dengan pendekatan berbasis data.
Prestasi keduanya sekaligus menunjukkan bahwa isu daerah dapat diangkat dari berbagai disiplin ilmu. Dengan data yang tepat dan cara penyampaian yang menarik, potensi pariwisata Riau dapat diperkenalkan sekaligus dibaca secara lebih kritis oleh publik.
Sumber Berita: riauonline.co.id










