Campusdaily.id – Program Studi S3 Pendidikan Sains, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar Guest Lecture bertema “Transformasi Pendidikan Sains di Era AI: Integrasi Kearifan Lokal, Kompetensi Abad ke-21, dan Pembelajaran Berkelanjutan untuk Mendukung Pencapaian SDGs” pada Selasa, 6 Oktober 2026.
Kegiatan yang dimulai pukul 14.00 WIB tersebut berlangsung secara hybrid, dengan peserta luring di Gedung C1 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Surabaya, serta peserta daring melalui Zoom Meeting.
Guest Lecture menghadirkan Prof. Dr. Sarwanto, M.Si. dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sebagai pemateri. Diskusi diarahkan pada tantangan pendidikan sains di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang semakin cepat.
Pendidikan Sains Dituntut Beradaptasi di Era AI
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara pengetahuan diproduksi, diakses, dan dipelajari. Kondisi tersebut turut mendorong dunia pendidikan untuk menyesuaikan pendekatan pembelajaran agar tetap relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Dalam pendidikan sains, AI membuka peluang untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih adaptif, inovatif, dan kontekstual. Namun, pemanfaatan teknologi tidak cukup hanya berfokus pada penggunaan perangkat atau aplikasi.
Guest Lecture tersebut membahas bagaimana transformasi pendidikan sains dapat dilakukan dengan tetap mengintegrasikan kearifan lokal, kompetensi abad ke-21, pembelajaran berkelanjutan, dan Sustainable Development Goals (SDGs).
Pendekatan tersebut dinilai penting karena pendidikan sains tidak hanya bertujuan membuat peserta didik memahami konsep ilmiah. Mereka juga perlu mampu membaca persoalan di lingkungan sekitar, menggunakan bukti, berpikir kritis, menyelesaikan masalah, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Kearifan Lokal Jadi Konteks Pembelajaran
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Sarwanto, M.Si. mengajak peserta melihat AI sebagai bagian dari perubahan cara merancang dan melaksanakan pembelajaran sains.
Teknologi tersebut dapat digunakan untuk memperkaya proses belajar, tetapi penerapannya tetap perlu mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan lingkungan tempat peserta didik berada.
Salah satu pendekatan yang relevan adalah mengintegrasikan kearifan lokal dalam pembelajaran sains. Berbagai tradisi, praktik masyarakat, maupun potensi lingkungan dapat menjadi sumber pembelajaran yang menghubungkan teori dengan kehidupan nyata.
Melalui pendekatan tersebut, peserta didik tidak hanya mempelajari sains secara konseptual, tetapi juga memahami hubungan antara ilmu pengetahuan, budaya, dan lingkungan.
Teknologi AI pun dapat dimanfaatkan untuk memperkuat eksplorasi, dokumentasi, pengolahan informasi, dan analisis mengenai potensi lokal. Dengan demikian, kemajuan teknologi tidak harus membuat nilai-nilai lokal semakin jauh dari pembelajaran.
Kompetensi Abad ke-21 Semakin Dibutuhkan
Transformasi pendidikan sains juga berkaitan erat dengan kebutuhan terhadap kompetensi abad ke-21. Penguasaan materi saja dinilai tidak cukup untuk menghadapi perubahan yang berlangsung cepat.
Peserta didik perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, pemecahan masalah, literasi digital, hingga kemampuan beradaptasi.
Kehadiran AI semakin memperkuat kebutuhan tersebut. Teknologi dapat membantu menyediakan informasi dan memperluas sumber belajar, tetapi manusia tetap membutuhkan kemampuan untuk menilai kualitas informasi, memeriksa kebenaran bukti, membangun argumentasi, dan menggunakan teknologi secara etis.
Karena itu, pembelajaran sains di era AI perlu diarahkan bukan hanya pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan peserta didik yang mampu menggunakan teknologi dan ilmu pengetahuan secara kritis serta bertanggung jawab.
Pendidikan Sains Dihubungkan dengan SDGs
Pembahasan Guest Lecture juga menyoroti hubungan antara pendidikan sains dan pembelajaran berkelanjutan dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Pendidikan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran terhadap berbagai persoalan global, seperti perubahan iklim, keberlanjutan sumber daya alam, kesehatan, energi, lingkungan, dan pembangunan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, pembelajaran sains dapat menjadi ruang untuk mengajak peserta didik memahami masalah berdasarkan perspektif ilmiah. Mereka dapat dilatih mengidentifikasi persoalan, menganalisis bukti, merumuskan alternatif solusi, serta mempertimbangkan dampak dari setiap keputusan.
AI juga berpotensi mendukung proses tersebut melalui pengolahan data, simulasi, pengembangan sumber belajar, dan pengalaman pembelajaran yang lebih beragam. Meski demikian, penggunaannya tetap perlu diarahkan pada tujuan pendidikan dan pembangunan yang berkelanjutan.
Perkuat Atmosfer Akademik S3 Pendidikan Sains
Penyelenggaraan Guest Lecture menjadi bagian dari upaya Program Studi S3 Pendidikan Sains FMIPA UNESA memperkuat atmosfer akademik dan memperluas wawasan mahasiswa terhadap perkembangan terbaru dalam pendidikan sains.
Kehadiran akademisi dari perguruan tinggi lain memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat persoalan pendidikan dari perspektif yang lebih luas, terutama terkait transformasi digital dan perkembangan Artificial Intelligence.
Melalui forum akademik semacam ini, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan kajian dan penelitian yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat, perkembangan teknologi, kearifan lokal, dan agenda pembangunan berkelanjutan.
Guest Lecture tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Program Studi S3 Pendidikan Sains FMIPA UNESA untuk menghadirkan ruang diskusi yang responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus mendorong peningkatan kualitas pendidikan sains di Indonesia.
Sumber Berita: s3pendsains.fmipa.unesa.ac.id










