UIN KHAS Jember Petakan Kebutuhan Lansia di Panti Sosial dan Pesantren

Ikon Campus Daily web

Kamis, 8 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

dok.uinkhas.ac.id

dok.uinkhas.ac.id

Campusdaily.id – Kebutuhan lansia ternyata tidak selalu bermuara pada panti sosial. Sebagian lansia membutuhkan perlindungan karena terlantar dan tidak lagi memiliki dukungan keluarga yang memadai. Namun, ada pula yang justru memilih tinggal di lingkungan pesantren untuk memperdalam ibadah, mempererat kehidupan sosial, dan mencari ketenangan di masa tua.

Gambaran tersebut menjadi salah satu temuan dalam penggalian data untuk pengembangan program Pengabdian Kolaboratif Berbasis Pemberdayaan, Kemandirian, dan Kesejahteraan Lansia yang dilakukan dosen UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember.

Penggalian dilakukan di dua lokasi dengan karakter berbeda, yakni Pondok Pesantren Kasepuhan Lansia Assunniyyah, Kencong, dan UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha (PSTW), Puger, Jember.

Perbedaan karakter kedua lembaga tersebut memberikan gambaran bahwa pendampingan lansia tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang seragam. Kebutuhan mereka sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial, kesehatan, dukungan keluarga, hingga pilihan hidup masing-masing.

PSTW Fokus pada Perlindungan Sosial Lansia

Di UPT PSTW Jember, layanan lansia berada dalam skema perlindungan sosial pemerintah melalui Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur.

Kepala Seksi Bimbingan Sosial (Kasi Bimsos) UPT PSTW Jember, Agus Hernawan, S.Sos., menjelaskan bahwa layanan diberikan secara gratis bagi lansia yang membutuhkan perlindungan sosial.

Berdasarkan hasil penggalian data, calon penerima manfaat PSTW pada dasarnya merupakan lansia berusia minimal 60 tahun yang terlantar, tidak memiliki tempat tinggal tetap, atau berasal dari keluarga yang tidak mampu secara sosial-ekonomi.

Selain kondisi sosial dan ekonomi, aspek kesehatan serta kesiapan lansia juga menjadi bagian dari pertimbangan sebelum seseorang diterima sebagai penerima manfaat.

Baca Juga :  Fakultas Vokasi UM Lantik Pejabat Baru, Siapkan Transformasi Pendidikan untuk Era Industri 4.0

Proses penerimaan pun tidak dilakukan dengan cara datang langsung ke panti. Lansia terlebih dahulu dilaporkan melalui pemerintah desa atau dinas sosial, kemudian dilakukan penjangkauan dan asesmen untuk melihat kondisi sosial, ekonomi, serta kesehatan.

Apabila memenuhi persyaratan, Dinas Sosial Kabupaten menerbitkan rekomendasi rujukan sebelum dilanjutkan dengan proses serah terima dan penempatan di PSTW.

Pesantren Hadir sebagai Pilihan di Masa Tua

Model berbeda terlihat di Pondok Pesantren Kasepuhan Lansia Assunniyyah. Para lansia yang datang ke pesantren tidak semata-mata karena persoalan keterlantaran, tetapi karena memilih lingkungan keagamaan sebagai tempat menjalani masa tua.

Mereka hadir sebagai “Santri Kasepuhan” dengan tujuan memperdalam agama, memperbanyak ibadah, sekaligus mendapatkan ketenangan jiwa.

Karena kehidupan pesantren menuntut aktivitas bersama dan kemandirian, kesiapan lansia menjadi salah satu pertimbangan penting. Calon santri diharapkan masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari serta memiliki kondisi psikologis yang memungkinkan untuk mengikuti kehidupan bersama santri kasepuhan lainnya.

Proses penerimaannya juga memiliki karakter tersendiri. Keluarga atau calon santri lansia terlebih dahulu melakukan sowan dan silaturahmi dengan pengasuh atau pengurus pesantren.

Setelah itu, dilakukan wawancara atau asesmen ringan untuk melihat kesiapan mental, kondisi kesehatan, serta kesesuaian calon santri dengan kehidupan di lingkungan pesantren.

Dua Model, Dua Kebutuhan

Perbedaan antara PSTW dan pesantren lansia menunjukkan bahwa kebutuhan lansia memiliki spektrum yang luas.

Lansia yang membutuhkan perlindungan sosial memerlukan mekanisme asesmen, pendampingan, serta layanan kesejahteraan yang terstruktur. Sementara itu, lansia yang memilih kehidupan pesantren lebih membutuhkan ruang pembinaan keagamaan, interaksi sosial, dan lingkungan yang dapat mendukung ketenangan serta kemandirian.

Baca Juga :  Mahasiswa UM Raih Dua Juara MSQ Nasional dalam Dua Hari

Kedua model tersebut sama-sama memiliki peran penting, tetapi dengan pendekatan yang berbeda sesuai kondisi dan pilihan hidup lansia.

Karena itu, program pemberdayaan lansia tidak cukup hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar. Pendampingan juga perlu memperhatikan aspek psikologis, sosial, spiritual, dan kemampuan lansia untuk tetap menjalani kehidupan secara mandiri.

Data Lapangan Jadi Dasar Program Pengabdian

Temuan tersebut menjadi pijakan bagi dosen UIN KHAS Jember untuk menyusun arah pengabdian yang lebih kontekstual. Sebelumnya, penguatan kapasitas dosen diarahkan untuk meningkatkan pemahaman mengenai pengabdian berbasis pemberdayaan, kemandirian, dan kesejahteraan lansia.

Pada tahap berikutnya, penggalian data diarahkan untuk memetakan potensi, kebutuhan, kondisi, serta berbagai persoalan yang dihadapi lansia di kedua lokasi.

Tahap penggalian data yang dijadwalkan pada Oktober 2026 tersebut diharapkan menghasilkan informasi yang lebih komprehensif sebagai dasar penyusunan program kolaboratif.

Dengan data yang diperoleh langsung dari lapangan, program pengabdian diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sesaat. Pendekatannya diarahkan pada pemberdayaan, peningkatan kemandirian, serta penguatan kesejahteraan lansia secara berkelanjutan.

Membuka Ruang Kolaborasi Lintas Bidang

Perbedaan karakter antara layanan sosial pemerintah dan pesantren lansia justru membuka peluang kolaborasi yang lebih luas bagi perguruan tinggi.

Dosen dari berbagai bidang dapat mengembangkan model pendampingan yang disesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan, mulai dari aspek sosial, kesehatan, psikologi, keagamaan, hingga pemberdayaan masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, pengabdian perguruan tinggi tidak hadir dengan satu pola yang dipaksakan kepada semua kelompok lansia. Sebaliknya, program dirancang berdasarkan kebutuhan nyata dan pilihan hidup mereka.

Pada akhirnya, lansia tidak hanya dipandang sebagai kelompok yang membutuhkan bantuan, tetapi juga sebagai individu yang tetap memiliki potensi, pengalaman, kebutuhan sosial, serta hak untuk menentukan lingkungan terbaik bagi kehidupan di masa tua.

Sumber Berita: uinkhas.ac.id

Follow WhatsApp Channel campusdaily.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

UI Dorong Standar Nasional Pengelolaan Asrama Mahasiswa
Mahasiswa UNESA 5 Ikuti Hari Jadi ke-351 Magetan, Dukung Semangat Kemajuan Daerah
Mahasiswa UPI Raih Juara III KMHE 2026, Mobil Listriknya Tembus Efisiensi 494,52 Km/kWh
UNU Jogja dan UIN Syekh Wasil Kediri Jajaki Kolaborasi.
Tiga Mahasiswa UIN Malang Juara Debat Bahasa Arab, Unggul di Tingkat Nasional
Belajar Praktik Baik, FK UPN Veteran Jakarta Kunjungi FK Universitas Brawijaya
Dari Sejarah hingga Budaya, SENJATA 2026 UNAIR Bicara Jati Diri Bangsa
UNESA Bahas Masa Depan Pendidikan Sains di Tengah Pesatnya AI

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 10:42 WIB

UI Dorong Standar Nasional Pengelolaan Asrama Mahasiswa

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:28 WIB

Mahasiswa UNESA 5 Ikuti Hari Jadi ke-351 Magetan, Dukung Semangat Kemajuan Daerah

Minggu, 11 Oktober 2026 - 14:21 WIB

Mahasiswa UPI Raih Juara III KMHE 2026, Mobil Listriknya Tembus Efisiensi 494,52 Km/kWh

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 14:40 WIB

UNU Jogja dan UIN Syekh Wasil Kediri Jajaki Kolaborasi.

Jumat, 9 Oktober 2026 - 20:24 WIB

Tiga Mahasiswa UIN Malang Juara Debat Bahasa Arab, Unggul di Tingkat Nasional

Berita Terbaru

Kampus

Cara Kirim Artikel Mahasiswa di Media Online

Rabu, 2 Sep 2026 - 21:30 WIB

dok.megapolitan.antaranews.com

Kampus

UI Dorong Standar Nasional Pengelolaan Asrama Mahasiswa

Senin, 19 Okt 2026 - 10:42 WIB

Opini

Media Sosial Mengubah Cara Mahasiswa Berkomunikasi

Selasa, 13 Okt 2026 - 20:13 WIB