Campusdaily.id – Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta (UNU Jogja) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Wasil Kediri mulai menjajaki peluang kerja sama untuk memperkuat kualitas pendidikan tinggi. Kolaborasi yang dibahas tidak hanya menyentuh pertukaran dosen dan riset bersama, tetapi juga pengembangan program keluarga sakinah yang berorientasi pada pengabdian kepada masyarakat.
Peluang tersebut dibicarakan dalam kunjungan jajaran Fakultas Syariah UIN Syekh Wasil Kediri ke Kampus Terpadu UNU Jogja pada 5 September 2026. Rombongan berjumlah sekitar 25 orang itu dipimpin Dekan Fakultas Syariah, Zayad Abd. Rahman, bersama pimpinan program studi dan sejumlah staf.
Kedatangan mereka disambut Wakil Rektor Bidang Kepesantrenan UNU Jogja, Abdul Ghofar, Dekan Fakultas Dirasah Islamiyah (FDI) Hamdi Ahmad, sejumlah dosen FDI dan Program Studi Studi Islam Interdisipliner (SII), serta Direktur Pusat Studi Kependudukan dan Kesejahteraan Keluarga (Pusdeka), Rindang Farihah.
Pertemuan ini menjadi ruang untuk saling mengenal sekaligus menemukan titik temu pengembangan akademik. Kedua kampus melihat bahwa kerja sama antarlembaga dapat membuka peluang berbagi pengalaman, memperluas jejaring, dan menghadirkan inovasi dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.
Menyamakan Pikiran dan Rasa untuk Berkolaborasi
Dekan Fakultas Syariah UIN Syekh Wasil Kediri, Zayad Abd. Rahman, mengaku senang dapat mengunjungi UNU Jogja secara langsung. Baginya, pertemuan tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi kelembagaan, melainkan juga kesempatan membangun kedekatan sosial dan spiritual sebagai landasan kolaborasi.
“Kunjungan kami ini dalam rangka tiga hal, yakni silaturahmi, silaturahmi ruhamah (silaturahmi sosial-kemanusiaan), dan silatur ruhaniah (silaturahmi spiritual). Kami hendak menyamakan pikiran dan rasa untuk bisa berkolaborasi,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Zayad juga memperkenalkan sejarah UIN Syekh Wasil Kediri yang telah dirintis sejak 1960-an. Nama kampus tersebut diambil dari nama seorang ulama dari Persia yang menyebarkan agama Islam di Kediri, Jawa Timur, pada era Raja Jayabaya di abad ke-12.
Ia mengungkapkan bahwa perkembangan UNU Jogja selama ini telah menarik perhatiannya, terutama karena kampus tersebut dikenal sebagai perguruan tinggi nahdliyin yang berupaya mempersiapkan lulusannya agar mampu memasuki dunia profesional.
“Semula kami hendak sekadar berbagi tentang ilmu-ilmu Islam, tapi setelah di sini kami melihat banyak ornamen akademik yang ditampilkan dan UNU Jogja ternyata telah melebur dengan dunia industri,” ujarnya.
Pengalaman tersebut membuka pandangan bahwa pengembangan studi Islam dapat berjalan beriringan dengan dinamika industri dan teknologi. Dari sini, peluang kolaborasi tidak hanya terbatas pada penguatan teori keislaman, tetapi juga pada pengembangan pendekatan akademik yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Pertukaran Dosen dan Riset Jadi Peluang Kerja Sama
Salah satu agenda yang berpotensi dikembangkan ialah kerja sama di bidang pendidikan dan penelitian. Fakultas Syariah UIN Syekh Wasil Kediri dan FDI UNU Jogja dapat menjajaki pertukaran dosen serta riset kolaboratif, khususnya dalam kajian studi Islam dan syariah.
Dekan FDI UNU Jogja, Hamdi Ahmad, menilai kolaborasi antarfakultas akan memberikan manfaat bagi kedua institusi dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi. Peluang itu semakin terbuka seiring perkembangan program akademik di lingkungan FDI.
Selain Program Studi Studi Islam Interdisipliner jenjang S1 yang telah berjalan sejak UNU Jogja berdiri pada 2017, FDI juga telah mengantongi izin pembukaan program S2 Studi Islam.
“Fokus program S2 ini pada kajian ijtihad kontemporer dan kajian masa depan, sehingga kaitannya erat dengan kajian syariah dan kita bisa bekerja sama di bidang tersebut,” ucapnya.
Kerja sama akademik juga dapat diperluas melalui publikasi ilmiah. Wakil Dekan FDI, Muhammad Rofiqi, menyampaikan bahwa fakultas tersebut telah menerbitkan Journal of Dirasah Islamiyah (JODI), sebuah jurnal yang memuat karya ilmiah bertema keislaman, termasuk kajian syariah.
Keberadaan jurnal tersebut membuka kesempatan bagi akademisi UIN Syekh Wasil Kediri untuk berkontribusi melalui penulisan dan publikasi hasil penelitian. Dengan begitu, kolaborasi antarkampus tidak berhenti pada pertemuan formal, tetapi dapat berlanjut menjadi pertukaran pengetahuan dan pengembangan karya akademik.
Program Keluarga Sakinah Berpeluang Diperkuat
Selain urusan akademik, kerja sama juga diarahkan pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui program keluarga sakinah. Dalam bidang ini, Sakinah Corner yang dimiliki UIN Syekh Wasil Kediri berpotensi bersinergi dengan Pusdeka UNU Jogja.
Direktur Pusdeka UNU Jogja, Rindang Farihah, menyatakan kesiapannya untuk mendukung pengembangan program tersebut. Salah satu bentuk dukungan yang dapat diberikan ialah pelatihan bagi penyuluh dan fasilitator bimbingan perkawinan bagi calon pengantin.
UNU Jogja memiliki pengalaman dalam penyelenggaraan bimbingan teknis (bimtek) bagi fasilitator bimbingan perkawinan. Kampus ini disebut sebagai perguruan tinggi pertama yang memperoleh otoritas dari Kementerian Agama (Kemenag) RI untuk menyelenggarakan bimtek tersebut. UNU Jogja juga telah memiliki tiga instruktur nasional yang dapat memberikan pelatihan.
“Peserta di bimtek yang diadakan UNU Jogja lebih umum. Bukan hanya penghulu, melainkan juga bisa para dosen. Dalam bimtek ini, peserta memperoleh materi-materi tentang keluarga sakinah dan mendapat sertifikat dari Kemenag sebagai fasilitator,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menjadi modal bagi UNU Jogja untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan dengan UIN Syekh Wasil Kediri. Jika peluang kerja sama ini dikembangkan, kedua institusi dapat memperluas kontribusi perguruan tinggi dalam memberikan edukasi perkawinan dan memperkuat ketahanan keluarga di tengah masyarakat.
Menghadapi Tantangan Pendidikan Tinggi Bersama-sama
Wakil Rektor Bidang Kepesantrenan UNU Jogja, Abdul Ghofar, mengapresiasi kunjungan jajaran Fakultas Syariah UIN Syekh Wasil Kediri. Menurutnya, membangun jejaring ant perguruan tinggi menjadi langkah penting untuk menghadapi berbagai tantangan pendidikan tinggi, mulai dari tata kelola kelembagaan hingga perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Tantangan ini ke depan harus menjadi isu bersama. Perguruan tinggi bisa saling belajar, seperti dengan UIN Syekh Wasil Kediri ini kita bisa belajar tentang kekuatan lokalitas. Ini berarti ada something new yang dikembangkan teman-teman di berbagai daerah. Ini bisa menjadi inspirasi untuk pembelajaran yang lebih baik dan mengembangkan pola-pola baru,” paparnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa setiap perguruan tinggi memiliki pengalaman dan kekuatan yang dapat dipelajari bersama. Potensi lokal yang berkembang di suatu daerah dapat menjadi sumber inspirasi bagi kampus lain untuk merancang metode pembelajaran dan pola pengembangan institusi yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman.
Sebelum pertemuan dan diskusi penjajakan kerja sama berlangsung, rombongan UIN Syekh Wasil Kediri terlebih dahulu mengikuti tur kampus untuk melihat lingkungan dan fasilitas UNU Jogja.
Kesan positif disampaikan Zayad Abd. Rahman setelah melihat secara langsung konsep pengembangan kampus tersebut.
“Seperti bukan kampus NU. Desainnya mengawinkan antara sesuatu yang kuno, legacy, dan yang baru: industrial dan digital. Semua dikemas jadi satu. Gado-gado tapi wow,” kesan Dekan Fakultas Syariah Zayad Abd. Rahman terhadap kampus UNU Jogja.
Kunjungan ini menjadi langkah awal untuk menjajaki kolaborasi yang lebih konkret antara UNU Jogja dan UIN Syekh Wasil Kediri. Melalui pertukaran dosen, riset bersama, publikasi ilmiah, hingga penguatan program keluarga sakinah, kedua kampus berpeluang memperluas kontribusi pendidikan tinggi sekaligus menghadirkan manfaat yang lebih nyata bagi masyarakat.
Sumber Berita: lldikti5.kemdiktisaintek.go.id










