Biji pala yang selama ini dijual sebagai bahan mentah dengan nilai ekonomi terbatas mulai dilirik sebagai potensi produk bernilai tambah. Melalui Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Indonesia (UI), warga kawasan transmigrasi Werianggi-Werabur, Papua Barat, mendapat pelatihan mengolah biji pala menjadi pembersih tangan atau hand sanitizer.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memanfaatkan potensi sumber daya hayati lokal melalui pengolahan dan pengembangan produk. Program TEP UI di Werianggi-Werabur memang diarahkan untuk mengembangkan potensi lokal melalui riset, pengolahan, serta hilirisasi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Berawal dari Potensi Pala Lokal
Pelatihan berlangsung di Balai Isombani, Kampung Werianggi, Papua Barat, dan diikuti 20 mama-mama yang tergabung dalam kelompok UMKM Ayawata. Pesertanya terdiri dari masyarakat asli Papua dan transmigran.
Bagi warga, keterampilan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan baru, tetapi dapat berkembang menjadi kegiatan produktif. Mama Katerina Bieth, salah satu peserta pelatihan, berharap pengolahan biji pala bisa membuka peluang usaha sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
“Harapan kami, pelatihan dan ilmu dari Tim Ekspedisi Patriot UI tidak hanya berhenti sampai di sini saja, melainkan dikembangkan terus sampai menjadi peluang usaha yang dapat meningkatkan kesejahteraan warga Kampung Werianggi,” kata Mama Katerina Bieth dalam keterangannya, Sabtu (26/9/2026).
Selain memiliki potensi ekonomi, produk berbasis biji pala tersebut diharapkan dapat membantu kebutuhan sanitasi masyarakat di tengah keterbatasan air bersih.
Proses Pengolahan dan Pengujian
Proses pembuatan dimulai dengan menjemur biji pala selama 5–6 hari hingga kering. Setelah itu, biji ditumbuk hingga halus dan direndam menggunakan alkohol 70 persen dengan perbandingan 1:5 selama tiga hari. Campuran kemudian disaring dan ekstraknya dimasukkan ke dalam botol semprot.
Namun, potensi biji pala sebagai bahan antiseptik masih dalam tahap verifikasi melalui pengujian. Fhira, anggota TEP UI, menjelaskan bahwa informasi mengenai kandungan tersebut sebelumnya diperoleh dari kajian literatur.
“Kandungan itu kita lihat dari jurnal. Ternyata memang ada kandungannya untuk antiseptik. Cuma kita juga lagi meninjau lebih lanjut, setelah dicampur alkohol dan nonalkohol, apakah kandungan biji pala ini benar sebesar itu,” ujar Fhira, anggota Tim Ekspedisi Patriot UI, Jumat, (25/9) kemarin.
Pengujian laboratorium dilakukan dengan membandingkan empat sampel, yakni tanpa hand sanitizer, hand sanitizer berbahan biji pala, berbahan daging pala, serta air rendaman biji pala tanpa alkohol.
Dari Produk Lokal Menuju Pasar
Setelah hasil pengujian diperoleh, produk tersebut direncanakan diperkenalkan kepada sejumlah kepala daerah pada 1 Oktober sebagai langkah awal menuju pasar yang lebih luas.
Pengembangan potensi lokal seperti ini sejalan dengan perhatian pemerintah terhadap penguatan ekonomi desa dan UMKM. Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya pada 14 Agustus 2026 juga menekankan posisi ekonomi desa dan ekonomi kerakyatan sebagai bagian penting dari kekuatan ekonomi nasional.
“Ekonomi desa, ekonomi kerakyatan justru tetap kuat, kokoh yang menyelamatkan kita justru adalah UMKM dan ekonomi kerakyatan,” ujar Presiden Prabowo, Jumat (14/8) lalu.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menilai kehadiran TEP menunjukkan bagaimana pengetahuan dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
“Kalian tidak hanya turun membawa penguasaan ilmu, tetapi juga solusi yang membumi,” ujar AHY Kamis, (17/9) saat audiensi dengan TEP di Jayapura.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara juga menekankan pentingnya mengembangkan potensi sederhana di sekitar masyarakat melalui keterampilan, teknologi, pengemasan, dan akses pasar.
“Kita mulai dari langkah-langkah kecil, tetapi hasilnya harus terukur dan benar-benar dirasakan masyarakat,” kata Iftitah.
Melalui pengolahan biji pala, potensi lokal Werianggi-Werabur kini diarahkan untuk memiliki nilai tambah. Langkah tersebut menjadi contoh bagaimana sumber daya yang tersedia di sekitar masyarakat dapat dikembangkan melalui pengetahuan, riset, dan keterampilan.










