UB Olah Eceng Gondok Brantas untuk Dukung Budidaya Ikan

Ikon Campus Daily web

Rabu, 23 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

dok.prasetya.ub.ac.id

dok.prasetya.ub.ac.id

Campusdaily.id – Eceng gondok yang selama ini kerap dianggap sebagai gulma dan persoalan lingkungan di perairan mulai dilirik sebagai bahan yang memiliki nilai guna. Di Kabupaten Malang, biomassa dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas tersebut diolah menjadi produk fermentasi berupa probiotik dan ecoenzyme untuk mendukung kegiatan budidaya ikan.

Upaya itu dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan kepada pembudidaya ikan lele dan nila di Dusun Tanggung, Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Sabtu (19/9/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) JATIMPRO 2026 dengan tema “Penguatan Konservasi DAS Brantas dan Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Perikanan Berkelanjutan”.

Program ini memadukan pengelolaan limbah organik, teknologi fermentasi, pemberdayaan pembudidaya ikan, serta konservasi DAS Brantas melalui pendekatan circular economy atau ekonomi sirkular.

Dari Gulma Menjadi Bahan Bernilai Guna

Tim Universitas Brawijaya (UB) dalam program tersebut diketuai Muhammad Fakhri, Ph.D. dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UB. Ia didampingi Prof. Dr.Eng. Riyanto Haribowo, Dr. I Made Dedi Mahariawan, Dr. Nasrullah Bai Arifin dan Pratama Diffi Samuel, M.Ling.

Program ini juga melibatkan kolaborasi dengan Universitas Negeri Malang melalui Dr. Otto Fajarianto dan Universitas Negeri Surabaya melalui Arie Wardhono, Ph.D.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat diperkenalkan pada pemanfaatan eceng gondok dari DAS Brantas sebagai bahan organik yang dapat diolah melalui proses fermentasi. Biomassa yang sebelumnya berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan diarahkan menjadi bahan yang dapat dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan budidaya dan pengelolaan lingkungan.

Muhammad Fakhri menjelaskan bahwa program tersebut tidak hanya menitikberatkan pada pengurangan biomassa organik di perairan, tetapi juga pada bagaimana masyarakat dapat memperoleh manfaat dari bahan yang tersedia di lingkungan mereka.

Baca Juga :  Tiga Mahasiswa UB Taklukkan Tantangan Mandarin hingga Tembus Final Kompetisi

“Pendekatan yang kami kembangkan adalah bagaimana bahan organik yang sebelumnya dianggap sebagai masalah lingkungan dapat masuk kembali ke dalam siklus produksi. Eceng gondok dari DAS Brantas kami manfaatkan sebagai salah satu bahan untuk pengembangan produk fermentasi berupa probiotik dan ecoenzyme,” jelasnya.

Konsep tersebut sejalan dengan prinsip circular economy, yaitu mengembalikan bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah ke dalam siklus produksi sehingga dapat menghasilkan manfaat baru.

Pembudidaya Diajari dari Persiapan hingga Kontrol Mutu

Pelatihan tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi juga praktik secara langsung. Para pembudidaya mendapat pendampingan mulai dari persiapan bahan, formulasi, proses fermentasi, pengukuran pH, hingga penyimpanan dan kontrol mutu sederhana.

Pendekatan praktik tersebut dirancang agar teknologi yang diperkenalkan tidak berhenti ketika kegiatan pelatihan selesai.

“Target kami adalah pembudidaya memahami prosesnya sehingga mampu memproduksi, mengevaluasi kualitas secara sederhana, dan memanfaatkannya secara mandiri,” katanya.

Probiotik diarahkan untuk membantu proses penguraian bahan organik sekaligus mendukung pengelolaan kualitas air dalam kegiatan budidaya. Sementara itu, ecoenzyme terutama dimanfaatkan sebagai bahan pendukung sanitasi sarana, pengurangan bau, serta pengelolaan lingkungan di sekitar kolam.

Teknologi ini dinilai relevan dengan sejumlah persoalan yang kerap dihadapi pembudidaya ikan lele dan nila, mulai dari menumpuknya sisa pakan dan feses, meningkatnya bahan organik, hingga fluktuasi kualitas air dan kebutuhan terhadap input budidaya yang lebih ekonomis.

Manfaat Ekologis Sekaligus Ekonomis

Pemanfaatan eceng gondok juga diarahkan untuk menghasilkan manfaat ganda bagi masyarakat. Di satu sisi, pengolahan biomassa dapat membantu mengurangi beban bahan organik di lingkungan. Di sisi lain, hasil fermentasi yang diproduksi dapat dimanfaatkan dalam kegiatan budidaya.

Baca Juga :  Mahasiswa Farmasi UB Dibekali Pemanfaatan AI Secara Etis melalui Kuliah Tamu Internasional

“Apabila biomassa lokal dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat, masyarakat memperoleh keuntungan ekologis sekaligus ekonomis. Beban bahan organik dapat dikurangi, sementara hasil pengolahannya dapat mendukung pengelolaan budidaya,” ujar Fakhri.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penerima teknologi, tetapi juga didorong menjadi pelaku yang mampu mengembangkan teknologi sesuai kebutuhan di lapangan.

Pendampingan Berlanjut hingga Tahap Penerapan

Kegiatan di Turen tidak berhenti pada pelatihan. Program selanjutnya akan dilanjutkan melalui demonstrasi penerapan, pendampingan, monitoring, dan evaluasi.

Beberapa aspek yang akan diamati meliputi kualitas air, kondisi ikan, mortalitas, akumulasi bahan organik, hingga kemudahan penerapan teknologi oleh masyarakat.

Izaza Maulana, selaku mitra kegiatan, menilai pelatihan tersebut memberikan manfaat nyata bagi para pembudidaya karena materi yang diberikan mudah dipahami dan dapat langsung diterapkan.

“Kegiatan ini sangat membantu kami, terutama dalam memahami bagaimana eceng gondok yang selama ini dianggap sebagai gulma dapat dimanfaatkan menjadi probiotik dan ecoenzyme. Kami berharap pendampingan seperti ini terus berlanjut sehingga teknologi yang diberikan benar-benar dapat kami terapkan secara mandiri dalam kegiatan budidaya ikan lele dan nila,” ujarnya.

Melalui pemanfaatan eceng gondok dari DAS Brantas, tim UB berharap dapat memperkuat keterhubungan antara konservasi lingkungan, pemanfaatan sumber daya lokal, inovasi teknologi, dan peningkatan kapasitas pembudidaya ikan.

Dengan begitu, teknologi yang diperkenalkan tidak hanya menjadi solusi sesaat, tetapi dapat diterapkan dan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) Universitas Brawijaya atas dukungan pendanaan melalui skema Pengabdian kepada Masyarakat JATIMPRO 2026. Dukungan ini memungkinkan kegiatan tidak hanya berhenti pada pelatihan, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan dan penerapan teknologi bersama masyarakat,” kata Fakhri.

Sumber Berita: prasetya.ub.ac.id

Follow WhatsApp Channel campusdaily.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

UI Dorong Standar Nasional Pengelolaan Asrama Mahasiswa
Mahasiswa UNESA 5 Ikuti Hari Jadi ke-351 Magetan, Dukung Semangat Kemajuan Daerah
Mahasiswa UPI Raih Juara III KMHE 2026, Mobil Listriknya Tembus Efisiensi 494,52 Km/kWh
UNU Jogja dan UIN Syekh Wasil Kediri Jajaki Kolaborasi.
Tiga Mahasiswa UIN Malang Juara Debat Bahasa Arab, Unggul di Tingkat Nasional
UIN KHAS Jember Petakan Kebutuhan Lansia di Panti Sosial dan Pesantren
Belajar Praktik Baik, FK UPN Veteran Jakarta Kunjungi FK Universitas Brawijaya
Dari Sejarah hingga Budaya, SENJATA 2026 UNAIR Bicara Jati Diri Bangsa

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 10:42 WIB

UI Dorong Standar Nasional Pengelolaan Asrama Mahasiswa

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:28 WIB

Mahasiswa UNESA 5 Ikuti Hari Jadi ke-351 Magetan, Dukung Semangat Kemajuan Daerah

Minggu, 11 Oktober 2026 - 14:21 WIB

Mahasiswa UPI Raih Juara III KMHE 2026, Mobil Listriknya Tembus Efisiensi 494,52 Km/kWh

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 14:40 WIB

UNU Jogja dan UIN Syekh Wasil Kediri Jajaki Kolaborasi.

Jumat, 9 Oktober 2026 - 20:24 WIB

Tiga Mahasiswa UIN Malang Juara Debat Bahasa Arab, Unggul di Tingkat Nasional

Berita Terbaru

Kampus

Cara Kirim Artikel Mahasiswa di Media Online

Rabu, 2 Sep 2026 - 21:30 WIB

dok.megapolitan.antaranews.com

Kampus

UI Dorong Standar Nasional Pengelolaan Asrama Mahasiswa

Senin, 19 Okt 2026 - 10:42 WIB

Opini

Media Sosial Mengubah Cara Mahasiswa Berkomunikasi

Selasa, 13 Okt 2026 - 20:13 WIB