Penulis Belanda Michel Maas Bongkar Romantisme Kolonial dalam Diskusi Sejarah di UPI

Ikon Campus Daily web

Kamis, 4 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

dok.bandungraya.net

dok.bandungraya.net

Portalmahasiswa.com – Program Studi Pendidikan Sejarah FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menghadirkan perspektif menarik tentang hubungan Indonesia dan Belanda melalui kegiatan visiting practitioner yang digelar pada Selasa, 2 Juni 2026, di Gedung Nu’man Soemantri UPI. Dalam forum akademik tersebut, hadir penulis sekaligus jurnalis asal Belanda, Michel GM Maas, yang membagikan gagasan kritis melalui buku terbarunya berjudul “De Gelogen Kolonie: Naar Indonesië om Indië te vergeten” (Koloni yang Dusta: Pergi ke Indonesia untuk Melupakan Hindia).

Kegiatan ini diikuti oleh dosen, perwakilan Bandung Heritage, serta anggota MGMP Sejarah yang antusias menyimak pemaparan mengenai jejak kolonialisme Belanda dan dampaknya terhadap cara pandang masyarakat Belanda terhadap Indonesia hingga saat ini.

Mengurai Mitos tentang Hindia Belanda

Dalam pemaparannya, Michel Maas menjelaskan bahwa bukunya berangkat dari kegelisahan terhadap cara sebagian masyarakat Belanda memandang masa kolonial. Menurutnya, istilah “Indië” atau Hindia Belanda kerap dibayangkan sebagai negeri tropis yang indah, damai, dan penuh kenangan romantis.

Namun di balik gambaran tersebut, terdapat sejarah panjang penjajahan yang menyisakan luka mendalam bagi masyarakat Indonesia. Maas menilai romantisasi itu justru menutupi berbagai fakta sejarah, mulai dari kekerasan, eksploitasi, hingga pembakaran desa yang terjadi selama masa kolonial.

Baca Juga :  UPI Unjuk Inovasi Berkelanjutan di Kongres Internasional, Perkuat Jejaring dan Pengakuan Global

Melalui bukunya, ia mengajak masyarakat Belanda untuk meninggalkan bayangan tentang “fantasieland” atau negeri khayalan yang selama ini melekat dalam memori kolonial.

Perjalanan Pribadi Mengubah Cara Pandang

Sebagai mantan jurnalis dan koresponden harian de Volkskrant, Michel Maas memiliki pengalaman panjang di Indonesia. Ia pernah tinggal selama 18 tahun di berbagai daerah di Tanah Air dan menyaksikan langsung dinamika masyarakat Indonesia modern.

Pengalaman tersebut kemudian dipadukan dengan kisah pribadi keluarganya, termasuk pengalaman sang ayah yang terlibat dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Perpaduan memoar dan reportase kritis inilah yang membuat buku Maas berbeda dari banyak karya tentang hubungan Indonesia-Belanda.

Menurut Maas, salah satu persoalan yang masih mengemuka adalah belum adanya pemahaman sejarah yang benar-benar disepakati bersama antara pihak penjajah dan bangsa yang pernah dijajah. Ia juga mengkritik sikap Belanda yang hingga kini dinilai belum sepenuhnya mengakui 17 Agustus 1945 sebagai tanggal kemerdekaan resmi Indonesia.

Baca Juga :  UPI Hibahkan Teknologi Irigasi Cerdas Berbasis IoT untuk Petani Cibiru Wetan

Pandangan tersebut lahir dari proses refleksi panjang yang membuatnya berusaha melepaskan cara pandang kolonial yang selama bertahun-tahun diwariskan dalam masyarakat Belanda.

Mengapresiasi Indonesia Masa Kini

Alih-alih terus terjebak pada nostalgia masa lalu, Maas memilih menyoroti Indonesia sebagai negara modern yang terus berkembang. Dalam bukunya, ia menggambarkan Indonesia sebagai bangsa yang penuh dinamika, keberagaman, keindahan, sekaligus berbagai tantangan sosial dan politik yang kompleks.

Baginya, memahami Indonesia tidak cukup hanya melalui narasi kolonial, tetapi harus melihat realitas kehidupan masyarakat Indonesia saat ini secara lebih utuh dan objektif.

Akademisi UPI Soroti Romantisasi Sejarah

Guru Besar Program Studi Pendidikan Sejarah dan Pendidikan IPS UPI, Prof. Dr. Nana Supriatna, M.Ed., yang turut hadir dalam diskusi tersebut memberikan apresiasi terhadap gagasan yang disampaikan Michel Maas.

Menurut Prof. Nana, pemikiran Maas menghadirkan sudut pandang kritis yang menarik dalam membaca sejarah kolonial. Ia menilai romantisasi sejarah tidak hanya terjadi pada narasi kolonial Belanda, tetapi juga kerap muncul dalam penulisan sejarah Indonesia, baik pada periode sebelum maupun sesudah kemerdekaan.

Diskusi ini pun menjadi ruang refleksi penting untuk melihat kembali sejarah secara lebih jujur dan kritis, sekaligus membangun pemahaman yang lebih seimbang mengenai hubungan Indonesia dan Belanda di masa lalu maupun masa kini.

Sumber Berita: bandungraya.net

Follow WhatsApp Channel campusdaily.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bupati Garut Lepas Mahasiswa KKN UPI, Fokus Tingkatkan Pendidikan
Mahasiswa UPI Ciptakan Netravest, Rompi AI untuk Bantu Tunanetra
UGM Bagikan Strategi Merawat Tanaman Pakan Ternak di Musim Kemarau
Mahasiswa Mappi di UNJ Digembleng untuk Jadi Pribadi Tangguh dan Berani
PORSI JAWARA II Diikuti 18 PTKIN, UIN KHAS Kirim 125 Kontingen
Baznas Siapkan Rp22 Miliar untuk Beasiswa 200 Mahasiswa Palestina
Sunday Market UMKM Banyumeneng Hadirkan Ruang Baru untuk Produk Lokal
Riset UGM Eksplorasi Kesumba Keling, Bahan Alam untuk Kandidat Terapi TNBC

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 00:04 WIB

Bupati Garut Lepas Mahasiswa KKN UPI, Fokus Tingkatkan Pendidikan

Jumat, 11 September 2026 - 15:12 WIB

Mahasiswa UPI Ciptakan Netravest, Rompi AI untuk Bantu Tunanetra

Jumat, 11 September 2026 - 12:53 WIB

UGM Bagikan Strategi Merawat Tanaman Pakan Ternak di Musim Kemarau

Kamis, 10 September 2026 - 18:29 WIB

Mahasiswa Mappi di UNJ Digembleng untuk Jadi Pribadi Tangguh dan Berani

Kamis, 10 September 2026 - 13:28 WIB

PORSI JAWARA II Diikuti 18 PTKIN, UIN KHAS Kirim 125 Kontingen

Berita Terbaru

Kampus

Cara Kirim Artikel Mahasiswa di Media Online

Rabu, 2 Sep 2026 - 21:30 WIB

dok.megapolitan.antaranews.com

Kampus

UI Dorong Standar Nasional Pengelolaan Asrama Mahasiswa

Senin, 19 Okt 2026 - 10:42 WIB

Opini

Media Sosial Mengubah Cara Mahasiswa Berkomunikasi

Selasa, 13 Okt 2026 - 20:13 WIB