Campusdaily.id – Layar pemutaran menjadi panggung pembuktian bagi tiga mahasiswa UIN KHAS Jember. Film pendek berjudul ODUA yang mereka produksi tidak berhenti sebagai karya audiovisual, tetapi berhasil membawa nama kampus ke podium juara dalam ajang Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah (PORSI) JAWARA II 2026.
Karya tersebut meraih Juara II cabang film pendek dalam kompetisi yang digelar di UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan.
Film ODUA merupakan hasil kolaborasi Bayu Pradana dan Moch Alfin Abdillah dari Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), bersama Hanan Desiyanti Suseno dari Program Studi Pendidikan Bahasa Arab.
Ketiganya mengolah gagasan menjadi sebuah karya audiovisual yang kemudian bersaing dengan peserta dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Jawa dan Madura.
ODUA Tembus Enam Besar
Perjalanan film ODUA tidak berhenti pada tahap penyisihan. Karya tersebut berhasil menembus enam besar dan bersanding dengan film dari sejumlah kampus, yakni UIN Salatiga, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan, UIN Sunan Ampel Surabaya, dan UIN Sunan Kudus.
PORSI JAWARA II sendiri berlangsung pada 9–13 September 2026 dan diikuti 18 PTKIN se-Jawa dan Madura.
Masuk ke babak final, tantangan yang dihadapi tim ODUA tidak hanya berkaitan dengan kualitas film. Mereka juga dituntut mampu mempertanggungjawabkan karya di hadapan dewan juri.
Bukan Hanya Film, Presentasi Ikut Diuji
Di babak final, para peserta harus mempresentasikan karya masing-masing secara langsung. Mereka memaparkan gagasan cerita, pesan yang hendak disampaikan, hingga proses kreatif yang berlangsung di balik layar.
Setelah presentasi, tim juga menghadapi sesi tanya jawab yang menguji seberapa kuat pemahaman mereka terhadap film yang dibuat.
Tahapan tersebut membuat kompetisi tidak sekadar menilai produk akhir berupa film. Kemampuan peserta dalam menyampaikan gagasan, menjelaskan proses produksi, dan mempertahankan ide juga menjadi bagian dari penilaian.
Bagi tim ODUA, pengalaman ini menjadi tantangan tersendiri sekaligus ruang untuk mengasah kepercayaan diri ketika berhadapan dengan publik dan juri.
Kekuatan Naskah hingga Akting Jadi Penilaian
Dalam proses penjurian, ODUA mendapat apresiasi dari berbagai unsur produksi film. Penilaian mencakup kekuatan naskah, pengambilan gambar, penyuntingan, pencahayaan, hingga penampilan pemeran.
Karya tersebut dinilai mampu memadukan kemampuan teknis dengan kekuatan bercerita melalui bahasa audiovisual.
Artinya, keberhasilan ODUA bukan hanya bertumpu pada satu aspek. Cerita, visual, proses penyuntingan, hingga penampilan pemeran menjadi satu kesatuan yang menentukan kekuatan film di hadapan dewan juri.
Kekompakan tim dalam mempresentasikan karya juga menjadi bagian penting. Setiap anggota memiliki peran untuk memastikan gagasan yang dibangun sejak proses produksi dapat disampaikan secara utuh.
Belajar dari Panggung Kompetisi
Meski berhasil meraih posisi kedua, pengalaman di babak final memberikan catatan penting bagi tim ODUA.
Mereka menyadari bahwa kemampuan produksi film harus berjalan beriringan dengan kemampuan presentasi dan koordinasi. Karya yang baik perlu disertai kemampuan untuk menjelaskan alasan kreatif di balik setiap keputusan yang diambil.
Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi tim untuk memperkuat kemampuan komunikasi, meningkatkan koordinasi, serta mempersiapkan diri menghadapi kompetisi berikutnya.
UIN Salatiga Raih Juara Pertama
Dari hasil akhir kompetisi, UIN Salatiga keluar sebagai juara pertama melalui film Tumpeng.
Sementara itu, UIN KHAS Jember menempati posisi kedua dengan film ODUA. Adapun Juara III diraih UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui film Nada yang Hampir Hilang.
Hasil tersebut menambah catatan prestasi mahasiswa UIN KHAS Jember dalam ajang PORSI JAWARA II 2026.
ODUA Bukan Sekadar Piala
Bagi Bayu Pradana, Moch Alfin Abdillah, dan Hanan Desiyanti Suseno, capaian Juara II bukan sekadar tentang membawa pulang piala.
Perjalanan membuat ODUA menjadi proses panjang untuk belajar mengolah ide menjadi cerita, memahami aspek teknis audiovisual, bekerja dalam tim, hingga berani mempertanggungjawabkan karya di hadapan publik dan dewan juri.
Di balik layar, mereka belajar bahwa sebuah film bukan hanya soal kamera dan hasil gambar. Ada gagasan, koordinasi, kreativitas, ketelitian, serta keberanian untuk membawa sebuah cerita ke hadapan orang lain.
Prestasi ODUA pun menjadi bukti bahwa ruang kompetisi dapat menjadi tempat mahasiswa mengubah ide menjadi karya sekaligus menemukan pengalaman baru yang tidak selalu bisa diperoleh di dalam ruang kelas.
Sumber Berita: radarjember.jawapos.com










