Perjalanan Ghina Imtinan, Alfi Syahrin Darmawan, dan Wafa Fauziah Salsabila dalam mengenal bahasa Mandarin dimulai dari titik yang berbeda. Ketiganya merupakan mahasiswa Sastra Cina Universitas Brawijaya (UB), tetapi tidak semuanya datang dengan ketertarikan yang sama terhadap bahasa dan budaya Tiongkok.
Ghina sejak awal memang sudah memiliki minat untuk kuliah di Sastra Cina. Ketertarikan tersebut tumbuh karena sang kakak lebih dulu menempuh pendidikan di jurusan yang sama. Dari sana, Ghina mulai membayangkan bagaimana rasanya mampu berbicara bahasa Mandarin dengan lancar.
Berbeda dengan Wafa yang justru masuk Sastra Cina karena sebuah keterpaksaan. Ketertarikannya baru tumbuh setelah menjalani perkuliahan dan bertemu mata kuliah KUYU atau speaking. Metode mengajar sang laoshi membuatnya perlahan menikmati proses belajar Mandarin.
”Dari situ saya mulai tertarik untuk belajar bahasa Mandarin lebih jauh,” terang Wafa.
Syahrin dan Tantangan Hanzi
Sementara itu, Syahrin memiliki pengalaman yang lebih menantang. Sejak lahir hingga SMA, ia tidak pernah mendapatkan paparan bahasa maupun budaya Tiongkok. Ketika masuk Sastra Cina, Mandarin menjadi dunia baru yang sepenuhnya asing baginya.
Tantangannya datang dari berbagai sisi, mulai dari menghafal Hanzi, memahami pinyin, menguasai kosakata, hingga menggunakan empat nada dengan tepat. Tata bahasa juga menjadi persoalan tersendiri karena memiliki struktur yang berbeda dari bahasa Indonesia.
”Struktur kalimat Mandarin berbeda dengan bahasa Indonesia. Makanya, awal-awal belajar itu rasanya benar-benar muak dan jenuh,” Syahrin mengakui.
Meski memulai dari pengalaman berbeda, ketiganya kemudian menghadapi fondasi pembelajaran yang sama. Di semester awal, mahasiswa Sastra Cina UB mempelajari kemampuan membaca, tata bahasa, menyimak, dan berbicara.
Dari Fondasi hingga Bahasa Formal
Proses belajar tidak hanya berlangsung melalui ujian tertulis. Pada kelas menyimak, misalnya, mahasiswa akan mendengarkan audio kemudian mendiktekan apa yang didengar atau menjawab pertanyaan berdasarkan materi tersebut.
Berbagai tugas juga diberikan dalam bentuk artikel mengenai budaya Tiongkok, pidato, wawancara, hingga proyek kelompok. Wafa bahkan pernah mengikuti praktikum berupa drama dan film berbahasa Mandarin. Naskah yang dibuat harus diperiksa dosen sebelum diproduksi dan proyek tersebut melibatkan tiga angkatan sekaligus.
Semester pertama dan kedua menjadi masa untuk memperkuat dasar, mulai dari pelafalan, nada, membaca teks, hingga percakapan sehari-hari. Memasuki semester ketiga, penggunaan Mandarin dan Hanzi semakin intensif.
Materi perkuliahan pun berkembang ke ranah yang lebih spesifik, seperti bisnis, perkantoran, perdagangan, korespondensi, pers, hingga linguistik Mandarin.
Tantangan Berbeda di Setiap Mahasiswa
Peningkatan level pembelajaran membuat tantangan yang dihadapi ketiganya semakin beragam. Bagi Wafa, bahasa Mandarin formal menjadi salah satu bagian tersulit. Istilah bisnis, perdagangan, dan korespondensi terasa berbeda dari bahasa percakapan sehari-hari.
Syahrin lebih banyak berhadapan dengan kesulitan tata bahasa dan kemampuan berbicara. Perbedaan struktur kalimat menuntut adaptasi, sementara kesalahan nada ketika berbicara dapat mengubah makna.
Ghina memiliki tantangan lain melalui target HSK. Setiap semester, mahasiswa diwajibkan mengumpulkan sertifikat HSK sebagai salah satu syarat KRS. Tingkat yang harus dicapai pun meningkat seiring bertambahnya semester.
”Materi seperti korespondensi, pers, dan linguistik itu jauh lebih susah, karena berbeda dengan bahasa yang digunakan sehari-hari,” kata Ghina.
Dari Ruang Kelas ke Panggung Kompetisi
Pengalaman belajar tersebut kemudian membawa mereka ke panggung kompetisi. Saat Harian Disway menggelar Debate & Speech Competition 2026, Shanti-laoshi menjadi salah satu sosok yang berperan dalam pembentukan tim dan mendorong mereka untuk mengikuti lomba.
Persiapan semakin matang dengan dukungan Tang-laoshi, mulai dari brainstorming, penguatan kosakata, teknik berdebat, hingga simulasi. Selama kompetisi berlangsung, mereka juga mendapatkan pendampingan dari Putrie-laoshi dan Ling Ma-laoshi.
Perjalanan ketiganya menunjukkan bagaimana proses belajar bahasa tidak berhenti pada hafalan kosakata atau kemampuan membaca Hanzi. Dari ruang kelas, latihan berkembang menjadi kemampuan menyusun argumen, berbicara, dan mempertahankan pendapat.
Ghina, Wafa, dan Syahrin akhirnya mampu membawa tim mereka menembus final Disway Mandarin Debate and Speech Competition 2026. Perjalanan tersebut menjadi pengalaman penting bagi tiga mahasiswa yang sebelumnya memiliki titik awal berbeda dalam mengenal bahasa Mandarin.
Untuk ukuran debutan, posisi runner-up itu keren banget! (Agustinus Fransisco)










