Campusdaily.id – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah banyak cara manusia belajar dan berkomunikasi. Fenomena tersebut turut menjadi perhatian Departemen Pendidikan Bahasa Daerah Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Melalui kegiatan Studium General yang digelar di Pendapa Kinarya FBSB UNY pada 3 September 2026, dosen dan mahasiswa jenjang S1, S2, hingga S3 diajak melihat bagaimana keterampilan public speaking dan pranatasabda dapat terus berkembang di tengah perubahan era digital.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yang memiliki pengalaman di bidang masing-masing, yakni Titik Renggani, S.E., M.M. dari RRI Yogyakarta selaku praktisi public speaking dan Faisal Noorsinggih, S.T.P. selaku Ketua Paguyuban Pranatacara Yogyakarta.
AI Bertemu Heutagogi dalam Pembelajaran Pranatasabda
Studium General kali ini mengusung topik “Integrasi Artificial Intelligence dalam Pengembangan E-Course Public Speaking Berbasis Heutagogi untuk Pembelajaran Mandiri dan Berkelanjutan”.
Melalui topik tersebut, para peserta diajak memahami bagaimana teknologi AI dapat dipadukan dengan pendekatan heutagogi, yakni konsep pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai pihak yang lebih mandiri dalam menentukan proses belajarnya.
Pendekatan tersebut dinilai relevan untuk mengembangkan keterampilan pranatasabda, terutama di tengah kebutuhan pembelajaran yang semakin fleksibel dan berbasis teknologi.
Penggabungan tradisi seni tutur dengan teknologi modern diharapkan tidak membuat nilai-nilai pranatasabda kehilangan identitas. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk memperluas cara belajar sekaligus menjaga keterampilan tersebut tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Perluas Wawasan Sivitas Akademika
Koordinator Program Studi S3 Pendidikan Bahasa Daerah, Dr. Suwarna Dwijonagoro, M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk memperluas cakrawala berpikir mahasiswa dan dosen, khususnya dalam menyikapi perkembangan teknologi.
“Kegiatan ini diselenggarakan untuk menambah wawasan mahasiswa maupun dosen di lingkungan FBSB UNY, khususnya dalam merespons perkembangan teknologi pada bidang seni tutur kata,” ujar Dr. Suwarna senin 7 September 2026 di sela-sela sesudah mengajar.
Menurutnya, perkembangan teknologi menghadirkan peluang baru bagi bidang seni tutur untuk dikembangkan melalui metode pembelajaran yang lebih adaptif.
Karena itu, interaksi antara akademisi dan praktisi menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut. Mahasiswa tidak hanya memperoleh perspektif teoritis, tetapi juga dapat mengenal pengalaman praktis yang terjadi di lapangan.
Praktisi Hadir Langsung di Lingkungan Kampus
Ketua Departemen Pendidikan Bahasa Daerah, Prof. Afendy Widayat, menilai kehadiran praktisi dalam kegiatan akademik memberikan nilai tambah bagi mahasiswa.
“Dengan mendatangkan praktisi secara langsung, tentunya akan menambah bobot ilmu dan pengalaman praktis yang sangat berharga bagi para mahasiswa,” ujar Prof. Afendy.
Kehadiran praktisi seperti Titik Renggani dan Faisal Noorsinggih membuka ruang bagi mahasiswa untuk melihat bahwa keterampilan public speaking dan pranatasabda tidak berhenti sebagai materi pembelajaran di kelas.
Keterampilan tersebut memiliki penerapan luas dalam berbagai aktivitas profesional maupun sosial, terlebih ketika kemampuan berkomunikasi semakin dibutuhkan di tengah perkembangan media digital.
Menjembatani Tradisi dan Teknologi
Pranatasabda sebagai bagian dari budaya dan seni tutur memiliki nilai yang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara, tetapi juga tata cara, etika, dan kecakapan menyampaikan pesan dalam konteks tertentu.
Karena itu, pemanfaatan AI dalam pengembangan keterampilan tersebut membutuhkan keseimbangan antara inovasi dan pemahaman terhadap nilai tradisional.
Melalui Studium General ini, peserta didorong untuk melihat teknologi sebagai sarana pengembangan, bukan sebagai pengganti nilai dan keterampilan manusia.
Pendekatan heutagogi juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar secara lebih mandiri. Mereka dapat mengeksplorasi materi, mengembangkan kemampuan sesuai kebutuhan, serta terus belajar secara berkelanjutan.
Harapkan Pembelajaran yang Lebih Mandiri dan Relevan
Kegiatan ini pada akhirnya diarahkan untuk mendorong lahirnya pola pembelajaran public speaking dan pranatasabda yang lebih fleksibel, mandiri, dan sesuai dengan perkembangan teknologi.
Para peserta diharapkan mampu mengintegrasikan pengetahuan mengenai pranatasabda tradisional dengan berbagai inovasi digital yang tersedia.
Dengan begitu, keterampilan seni tutur tidak hanya tetap hidup sebagai bagian dari warisan budaya, tetapi juga mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat modern.
Di tengah derasnya perkembangan AI, kemampuan berbicara dan menyampaikan pesan tetap membutuhkan sentuhan manusia. Teknologi dapat membantu proses belajar menjadi lebih mudah dan luas, tetapi nilai, karakter, serta cara manusia membangun komunikasi tetap menjadi fondasi utama.
Sumber Berita: rri.co.id










