Ketika Hutan Terbakar, Seberapa Siap Sumber Daya Manusia Kita?

Oleh: Khoirul Putri Uswatun Kasanah (Mahasiswa Universitas Pamulang)

Kamis, 3 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Pengembangan Website Kampus Daily
+ Donasi

Kampus Daily | Jakarta– Setiap musim kemarau, Indonesia terus mengalami cerita yang sama seperti dulu. Titik api muncul, hutan dan lahan terbakar, asap menutupi permukiman, aktivitas ekonomi terganggu, dan masyarakat menghadapi risiko kesehatan karena kualitas udara menurun. Saat hujan turun, api perlahan meredup dan perhatian orang banyak beralih pada isu yang lain. Namun, ketika musim kemarau berikutnya tiba, masalah yang sama kembali terjadi. Kondisi ini membuat kita bertanya-tanya: ketika hutan terbakar, seberapa siap sumber daya manusia kita dalam mencegah dan mengatasinya?

Kebakaran hutan dan lahan sering dianggap hanya sebagai masalah lingkungan saja. Padahal, masalah ini juga menunjukkan tingkat kemampuan dan kualitas orang-orang dalam suatu bangsa. SDM yang berkualitas tidak hanya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan menguasai teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran, kemampuan, dan rasa tanggung jawab dalam menjaga lingkungan agar tetap terjaga.

Data menunjukkan bahwa ancaman karhutla masih menjadi tantangan serius bagi Indonesia. Berdasarkan data Sistem Monitoring Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan yang dikutip berbagai media, luas area terdampak kebakaran hutan dan lahan hingga Juli 2026 telah mencapai sekitar 202.004 hektare. Bahkan hampir 95.000 hektare lahan terbakar hanya dalam satu bulan, yakni Juli 2026. Angka tersebut menunjukkan bahwa risiko kebakaran masih tinggi dan memerlukan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan.

Sebaran wilayah terdampak juga menunjukkan bahwa persoalan ini bersifat nasional. Data SiPongi yang dikutip Kompas.com menunjukkan bahwa hingga pertengahan 2026, Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan luas kebakaran terbesar sekitar 28.680 hektare, diikuti Riau 15.478 hektare, Nusa Tenggara Timur 10.538 hektare, Maluku 7.091 hektare, dan Papua Selatan sekitar 6.282 hektare. Wilayah-wilayah tersebut memiliki karakteristik kerentanan yang berbeda, mulai dari lahan gambut hingga kawasan dengan aktivitas pembukaan lahan yang cukup tinggi.

Baca Juga :  Bahaya di Balik Estetika: Risiko Bersandar pada Pagar Kaca di Mall

Ironisnya, peningkatan risiko karhutla sebenarnya bukan kejadian yang datang tanpa peringatan. BMKG telah mengeluarkan berbagai informasi mengenai musim kemarau yang lebih kering dan potensi peningkatan risiko kebakaran. Para peneliti juga telah mengingatkan adanya pengaruh fenomena El Niño yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Dengan demikian, persoalan yang muncul bukan karena minimnya informasi, melainkan apakah informasi tersebut mampu diterjemahkan menjadi langkah pencegahan yang efektif.

Di sinilah peran sumber daya manusia menjadi sangat penting. Selama ini, perhatian sering kali terfokus pada upaya pemadaman ketika kebakaran sudah meluas. Berbagai sumber daya dikerahkan, mulai dari personel pemadam, operasi modifikasi cuaca, hingga pemanfaatan helikopter water bombing. Namun, upaya mencegah masalah dengan meningkatkan kemampuan manusia belum mendapat perhatian yang cukup besar.

Padahal, banyak kebakaran hutan dan lahan terjadi karena aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Pembukaan lahan dengan metode membakar, kurangnya pengelolaan lahan yang baik, serta kesadaran yang rendah terhadap dampak lingkungan merupakan faktor-faktor yang terus terjadi berulang. Sebab itu, investasi terbesar yang dibutuhkan bukan hanya untuk alat pemadam kebakaran, tetapi juga untuk membangun manusia yang memiliki pemahaman tentang lingkungan.

Pembangunan sumber daya manusia dalam konteks ini harus dimulai dengan meningkatkan pemahaman tentang lingkungan. Pendidikan tentang menjaga hutan dan mengurangi dampak bencana harus diberikan sejak kecil melalui sekolah atau kegiatan masyarakat. Masyarakat harus tahu bahwa kebakaran hutan tidak hanya membuat tumbuhan lenyap, tetapi juga memengaruhi kesehatan, ekonomi, kualitas hidup, hingga citra Indonesia di mata dunia.

Baca Juga :  Strategi Meningkatkan Kepuasan Pelanggan dalam Industri Jasa

Dengan masuknya masa perubahan iklim, tantangan yang dihadapi akan semakin rumit. Cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi membuat memprediksi risiko kebakaran hutan menjadi lebih sulit hanya dengan menggunakan cara yang biasa saja. Oleh karena itu, sumber daya manusia Indonesia harus lebih bisa menyesuaikan diri, kreatif, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk membantu mengelola lingkungan secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, kebakaran hutan bukan hanya soal api yang merusak pohon-pohon saja. Peristiwa ini adalah ujian bagaimana manusia bisa mengelola alam dengan bijak. Ketika kebakaran terus terjadi di Kalimantan Barat, Riau, Papua Selatan, Maluku, maupun Nusa Tenggara Timur, yang sebenarnya dipertaruhkan bukan hanya jutaan hektare hutan. Yang sedang diuji adalah kemampuan sumber daya manusia Indonesia dalam memahami, menjaga, dan melestarikan lingkungan hidup.

Jadi, ketika kita bertanya, “Seberapa siap tenaga kerja kita?”, jawabannya mungkin belum cukup memuaskan. Selama kebakaran hutan dan lahan masih terjadi berulang setiap tahun, pembangunan sumber daya manusia belum bisa disebut selesai. Sebab SDM yang unggul bukan hanya manusia yang bisa menciptakan kemajuan, tetapi juga manusia yang bisa menjaga keberlanjutan masa depan.

 

Referensi

  1. Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi), Kementerian Kehutanan RI.
  2. ABC Indonesia, Kebakaran Hutan di Indonesia Bisa Diantisipasi Jika Pemerintah Tidak Abaikan Data Ilmiah.
  3. Suara.com, Karhutla Indonesia 2026: Mengapa Luas Kebakaran Melonjak pada Juli Hingga Agustus?
  4. Kompas.com, Karhutla dan Siklus Klasik yang Harus Diputus.

 

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Menguji Kelayakan Debitur: Analisis Kualitatif dan Prinsip Dasar Pemberian Kredit
Dampak Subscription Economy terhadap Keuangan Gen Z
Terlalu Cepat Berkomentar, Terlalu Lambat Memahami
Perilaku Investor Individu dalam Mengelola Portofolio dan Aktivitas Trading di Era Digital
Memahami Logika Produsen di Balik Pasokan Pasar
Strategi Manajerial Kunci Bertahan dan Berkembang di Era Kompetisi Internasional
UMP dalam Menjaga Daya Beli Buruh vs Keberlanjutan Finansial Industri Padat Karya
Berbagai Isu Global dalam Perspektif Ekonommi, Sosial dan Lingkungan

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 10:35

Menguji Kelayakan Debitur: Analisis Kualitatif dan Prinsip Dasar Pemberian Kredit

Kamis, 3 September 2026 - 14:02

Dampak Subscription Economy terhadap Keuangan Gen Z

Kamis, 3 September 2026 - 11:39

Ketika Hutan Terbakar, Seberapa Siap Sumber Daya Manusia Kita?

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:36

Terlalu Cepat Berkomentar, Terlalu Lambat Memahami

Selasa, 23 Juni 2026 - 20:31

Perilaku Investor Individu dalam Mengelola Portofolio dan Aktivitas Trading di Era Digital

Berita Terbaru