Faktor Manusia dalam Risiko: Mengelola Human Error melalui Budaya Sadar Risiko

Bagastian Suseno Ajie (Mahasiswa Universitas Pamulang)

Kamis, 30 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Pengembangan Website Kampus Daily
+ Donasi

Dalam sudut pandang bisnis modern yang kompleks, organisasi seringkali berinvestasi besar-besaran pada teknologi canggih, keamanan siber, serta audit keuangan untuk memitigasi risiko, Namun Sebagian besar laporan investigasi kecelakaan kerja terjadi secara konsisten menunjuk pada “kesalahan manusia” (Human Error) sebagai faktor penyebab utama contoh: kegagalan oprasional, mulai dari salah input data finansial hingga kecelakaan kerja fatal. Manajemen risiko yang hanya berfokus pada teknologi atau sistem teknis tanpa mempertimbangkan perilaku manusianya akan menyisihkan celah kerentanan yang besar. Oleh karena itu, organisasi perlu membangun “Budaya Sadar Risiko” agar risiko tidak hanya dikelola oleh suatu divisi organisasi tetapi juga di lakukan oleh masing-masing individu dalam organisasi tersebut.

 Memahami Fenomena Human Error dalam Organisasi

Kesalahan manusia bukanlah merupakan fenomena tunggal, menainkan hasil dari interaksi yang kompleks antara psikologi individu dan lingkungan kerja. Teori James Reason, yang paling terkenal adalah “Model Keju Swiss” (Swiss Cheese Model), menjelaskan bahwa kecelakaan atau kegagalan sistem terjadi bukan karena satu kesalahan tunggal, melainkan kombinasi kegagalan laten (organisasi) dan aktif (manusia) yang menembus berbagai lapisan pertahanan. Teori ini mengasumsikan bahwa organisasi memiliki bberapa lapisan pertahanan seperti prosedur, pengawasan, dan teknologi. Namun, setiap lapisan memiliki kelemahan yang diibaratkan seperti lubang pada keju swiss. Human error akan menjadi fatal apabila lubang-lubang pada setiap lapisannya sejajar dalam satu garis, maka akan memicu terjadinya insiden besar dalam organisasi secara finansial maupun reputasi.

Budaya Sadar Risiko (Risk-Aware Culture) sebagai Solusi

 Budaya sadar risiko merupakan sekumpulan nilai, keyakinan, dan pemahaman individu mengenai risiko di dalam suatu organisasi. Budaya yang sehat dalam organisasi tidak bertujuan untuk menciptakan manusia menjadi sempurna, melainkan dengan budaya yang sehat dapat menumbuhkan rasa yang “aman secara psikologis’.

  1. Peralihan dari budaya menyalahkan ke budaya yang adil (Blame Culture ke Just Culture): Organisasi yang sukses adalah organisasi yang tidak lagi menyalahkan “siapa yang salah?” tetapi bertanya “apa yang salah oleh sistem organisasi kita”. Dalam just culture, laporan mengenai kesalahan diapresiasi sebagai data yang berharga untuk perbaikan, bukan dasar untuk hukuman instan.
  2. Karakteristik Utama: Budaya ini ditandai dengan adanya keterbukaan (openness), akuntabilitas yang jelas, serta komitmen dari manajemen puncak (tone at the top) yang menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap kesadaran risiko lebih utama daripada sekedar mencapai target jangka pendek.
Baca Juga :  Dampak Subscription Economy terhadap Keuangan Gen Z

Strategi Mengelola Risiko Faktor Manusia

Untuk mengintegrasikan budaya risiko ke dalam operasional, diperlukan langkah-

langkah konkret:

  • Edukasi Keberlanjutan: Melakukan pelatihan terhadap anggota organisasi terkait manajemen risiko, tidak boleh hanya bersifat administratif belaka. Melakukan simulasi terhadap kasus nyata untuk membantu karyawan memahami dampak nyata dari setiap tindakan mereka.
  • Menggunakan sistem yang mendukung: menggurangi ketergantungan pada manusia melalui otomatisasi atau mekanisme check-and-balance pada titik-titik kritis.
  • Sistem pelaporan insiden (Near-Miss Reporting): Mendorong karyawan melapor kejadian “hampir celaka”. Data ini memungkinkan organisasi melakukan mitigasi sebelum risiko benar-benar terjadi.
  • Insentif berbasis kepatuhan: Memberikan penghargaan terhadap departemen atau individu yang proaktif dalam mengidentifikasi risiko baru dilapangan.
Baca Juga :  Manajemen Pelayanan Rumah Sakit di Era Modern

Studi Kasus: Implementasi pada Sektor Perbankan

Sebagai contoh, dalam industri perbankan, kesalahan kecil dalam entri data atau

kegagalan verifikasi identitas dapat menyebabkan kerugian miliaran rupiah atau pelanggaran hukum pencucian uang. Bank yang memiliki budaya risiko tinggi akan menerapkan protokol “dua pasang mata” (four-eye principle) dan secara rutin mengevaluasi tingkat kelelahan karyawan. Di sini, manajemen risiko bukan lagi hambatan bagi kecepatan transaksi, melainkan pelindung keberlangsungan bisnis dan kepercayaan nasabah.

Kesimpulan

            Manajemen yang efektif tidak munkin dicapai hanya melalui perangkat lunak atau buku panduan prosedur. Manusia merupakan salah satu peran penting yang tidak dapat digantikan sekaligus menjadi titik terlemah dalam organisasi. Dengan membangun budaya sadar risiko, organisasi dapat mengubah human error dari sebuah ancaman menjadi peluang pembelajaran untuk memperkuat sistem secara keseluruhan.

Saran

            Diharapkan para pemimpin organisasi mulai melakukan assesmen terhadap “kematangan budaya risiko” mereka. Fokuslah pada komunikasi internal dan pastikan para karyawan memiliki pemahaman yang sama mengenai batasan risiko (risk appetite) perusahaan.

 

Referensi

  • Kessi, A. T. F., & SKM, M. K. (2026). MEMITIGASI HUMAN ERROR DALAM SISTEM MANAJEMEN K3: Sebuah Pendekatan Sistemik untuk Mencegah Kecelakaan Kerja. PT. SAMUDRA SOLUSI PROFESIONAL.
  • Reason, J. (1990). Human error. Cambridge university press.
  • Fadhila, R. N., & Nuryanah, S. (2024). Peran Coaching, Mentoring Dan Counseling Dalam Upaya Menumbuhkan Budaya Sadar Risiko: Studi Kasus Pada Sekretariat Pengadilan Pajak. Jurnal Ilmiah Manajemen, Ekonomi, & Akuntansi (MEA)8(1), 1744-1772.

Berita Terkait

Menguji Kelayakan Debitur: Analisis Kualitatif dan Prinsip Dasar Pemberian Kredit
Dampak Subscription Economy terhadap Keuangan Gen Z
Ketika Hutan Terbakar, Seberapa Siap Sumber Daya Manusia Kita?
Terlalu Cepat Berkomentar, Terlalu Lambat Memahami
Perilaku Investor Individu dalam Mengelola Portofolio dan Aktivitas Trading di Era Digital
Memahami Logika Produsen di Balik Pasokan Pasar
Strategi Manajerial Kunci Bertahan dan Berkembang di Era Kompetisi Internasional
UMP dalam Menjaga Daya Beli Buruh vs Keberlanjutan Finansial Industri Padat Karya
Tag :

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 10:35

Menguji Kelayakan Debitur: Analisis Kualitatif dan Prinsip Dasar Pemberian Kredit

Kamis, 3 September 2026 - 14:02

Dampak Subscription Economy terhadap Keuangan Gen Z

Kamis, 3 September 2026 - 11:39

Ketika Hutan Terbakar, Seberapa Siap Sumber Daya Manusia Kita?

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:36

Terlalu Cepat Berkomentar, Terlalu Lambat Memahami

Selasa, 23 Juni 2026 - 20:31

Perilaku Investor Individu dalam Mengelola Portofolio dan Aktivitas Trading di Era Digital

Berita Terbaru