Kampusdaily.com – Universitas Brawijaya (UB) memperkuat pengembangan sistem kesehatan masyarakat melalui penelitian kolaboratif internasional bersama Unit for Pre-hospital Emergency Care (UPEC), Ministry of Health Singapore.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Program Dosen Berkarya (DOKAR) 2026 dengan penelitian bertajuk “Pengukuran Kinerja Sistem Pelayanan Kegawatdaruratan Pra-Rumah Sakit: Evaluasi Public Safety Center di Jawa Timur Berbasis PECSET”.
Penelitian ini menjadi langkah untuk melihat seberapa kuat sistem pelayanan kegawatdaruratan pra-rumah sakit di Jawa Timur dalam memberikan pertolongan kepada masyarakat. Sebanyak 38 Public Safety Center (PSC) yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur menjadi sasaran evaluasi.
Ukur Kinerja PSC dengan Instrumen PECSET
Evaluasi dilakukan menggunakan Prehospital Emergency Care Systems Evaluation Tool (PECSET), instrumen yang dirancang untuk mengukur kinerja sistem pelayanan kegawatdaruratan pra-rumah sakit secara menyeluruh.
Sejumlah komponen akan menjadi perhatian, mulai dari sistem komunitas, telekomunikasi, first responder, sistem ambulans, hingga integrasi pelayanan dengan rumah sakit. Pendekatan tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi layanan kegawatdaruratan di setiap daerah.
Ketua Peneliti, Ns. Suryanto, S.Kep., M.Nurs., PhD., mengatakan penelitian ini berangkat dari kebutuhan terhadap sistem evaluasi yang terstandar. Hal itu penting karena perkembangan PSC di berbagai daerah berjalan dengan kapasitas dan sumber daya yang tidak selalu sama.
“Saat ini PSC di berbagai daerah berkembang dengan kapasitas dan sumber daya yang berbeda. Karena itu diperlukan instrumen yang dapat memberikan gambaran objektif mengenai kondisi sistem yang berjalan sehingga pengembangan layanan dapat dilakukan secara lebih terarah dan berbasis data,” ujarnya.
Sosialisasi PECSET Digelar untuk PSC se-Jawa Timur
Sebelum memasuki tahap pengumpulan data, tim peneliti terlebih dahulu memperkenalkan instrumen PECSET kepada perwakilan PSC se-Jawa Timur.
Sosialisasi tersebut dilakukan melalui kegiatan Resuscitation Academy Leadership Workshop pada (6/7–7/7/2026). Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk menyamakan pemahaman mengenai evaluasi sistem kegawatdaruratan secara berkelanjutan.
Tidak sekadar memperkenalkan instrumen, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk membangun kesadaran bahwa peningkatan kualitas layanan kesehatan membutuhkan evaluasi yang dilakukan secara terukur dan berkesinambungan.
Tim UB Bertukar Pengetahuan dengan Pakar Singapura
Kolaborasi penelitian kemudian diperkuat melalui kunjungan akademik tim UB ke Singapura pada (25/8–28/8/2026).
Dalam kunjungan tersebut, tim peneliti berdiskusi langsung dengan para pakar UPEC mengenai pengembangan PECSET, penerapan sistem Emergency Medical Services (EMS), strategi peningkatan mutu pelayanan kegawatdaruratan, hingga rencana analisis data dan publikasi ilmiah bersama.
Pertemuan tersebut juga menghasilkan penandatanganan Implementation Agreement antara Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya dan UPEC Ministry of Health Singapore.
Kesepakatan ini menjadi landasan bagi penguatan kerja sama riset, transfer pengetahuan, serta pengembangan inovasi dalam pelayanan kegawatdaruratan.
Pengambilan Data 38 PSC Dimulai September
Penelitian kini bersiap memasuki tahapan utama, yakni pengambilan data pada 38 PSC di Jawa Timur yang dijadwalkan berlangsung pada (14/9–17/9/2026).
Pengumpulan data dilakukan melalui workshop daring yang menggabungkan sesi pengenalan instrumen dan pengisian PECSET oleh masing-masing PSC.
Data yang terkumpul nantinya akan dianalisis untuk mengetahui berbagai kekuatan sekaligus kesenjangan dalam sistem pelayanan kegawatdaruratan di masing-masing daerah. Hasilnya diharapkan dapat menjadi pijakan dalam menentukan langkah perbaikan yang lebih tepat sasaran.
Dorong Kebijakan Kesehatan Berbasis Data
Penelitian ini diharapkan tidak berhenti pada menghasilkan data akademik. Temuan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bahan bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam menyusun kebijakan kesehatan yang lebih efektif.
Dengan pendekatan berbasis bukti (evidence-based), kualitas pelayanan kegawatdaruratan di Jawa Timur diharapkan dapat semakin terukur dan memiliki standar yang lebih jelas. Tujuan akhirnya adalah memastikan masyarakat memperoleh pertolongan yang cepat, tepat, dan berkualitas ketika menghadapi kondisi darurat medis.
Upaya tersebut juga sejalan dengan komitmen Universitas Brawijaya dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 3 atau Good Health and Well-being yang menekankan peningkatan kualitas layanan kesehatan dan keselamatan masyarakat.
Penguatan sistem kegawatdaruratan menjadi bagian penting karena kecepatan respons dalam situasi medis darurat dapat menentukan keselamatan pasien.
Kolaborasi Internasional untuk Sistem Kegawatdaruratan
Di sisi lain, kemitraan UB dengan UPEC Ministry of Health Singapore turut mencerminkan semangat SDG 17: Partnerships for the Goals, khususnya dalam memperkuat kerja sama internasional menghadapi tantangan pembangunan di bidang kesehatan.
Pertukaran pengalaman antara Indonesia dan Singapura diharapkan dapat membuka ruang bagi lahirnya inovasi yang lebih relevan dengan kebutuhan pelayanan kegawatdaruratan di daerah.
Melalui penelitian ini, UB tidak hanya berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan di bidang Emergency Medical Services (EMS), tetapi juga berupaya menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.
Berbekal data, kolaborasi, dan inovasi, penelitian tersebut diharapkan menjadi pijakan menuju sistem kegawatdaruratan yang lebih terstandar, terintegrasi, dan berkelanjutan di Jawa Timur maupun Indonesia.
Sumber Berita: prasetya.ub.ac.id
























