Keterbatasan Kapasitas dan Minimnya Kenyamanan Musholla di Pusat Perbelanjaan

Anggita Sifa Wulandhari (Mahasiswa Universitas Pamulang)

Kamis, 23 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

πŸ™ Ayo Dukung Pengembangan Website Campus Daily
+ Donasi

Portalmahasiswa.com | Setiap akhir pekan, banyak warga Indonesia memadati pusat perbelanjaan untuk berbelanja, makan, atau menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman. Namun di balik kemegahan dan kenyamanan fasilitas hiburan yang ditawarkan, kebutuhan dasar berupa tempat ibadah yang layak, memadai, dan nyaman masih kerap terabaikan.

Musholla di dalam mal memang diwajibkan secara regulasi, tetapi implementasinya sering belum optimal. Kapasitas yang terbatas, fasilitas yang kurang terawat, lokasi yang tersembunyi, serta antrean panjang saat waktu salat menunjukkan bahwa keberadaan musholla belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan pengunjung.

Kapasitas yang Tidak Sebanding dengan Jumlah Pengunjung

Salah satu keluhan utama pengunjung mal adalah kapasitas musholla yang terlalu kecil, hanya mampu menampung sekitar 20–40 jemaah meski jumlah pengunjung mencapai belasan ribu per hari. Hal ini menyebabkan antrean panjang, terutama saat waktu salat Zuhur dan Asar di akhir pekan atau hari libur. Ironisnya, luas area untuk tenant komersial terus bertambah, sementara alokasi musholla tetap terbatas. Padahal, sudah ada regulasi yang mengatur rasio fasilitas ibadah, namun pengawasannya masih lemah.

Baca Juga :  Peran dan Strategi Retail Modern Summarecon Mall Serpong dalam Mendukung Perekonomian

Masalah Kenyamanan yang Terus Berulang

Selain kapasitas, kenyamanan musholla di mal juga masih menjadi masalah serius. Banyak musholla berada di lokasi terpencil dengan ventilasi buruk, minim petunjuk arah, serta perlengkapan ibadah yang kurang terawat.

Fasilitas wudu yang sempit dan kotor, tidak adanya petugas kebersihan, serta penanda arah kiblat yang kurang akurat juga sering terjadi. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kekhusyukan, tetapi juga menunjukkan rendahnya perhatian pengelola terhadap kebutuhan ibadah pengunjung.

Permasalahan Umum yang Sering Ditemukan

  • Kapasitas musholla masih belum mencukupi saat waktu salat padat
  • Lokasi musholla sering tersembunyi dan sulit ditemukan
  • Kondisi tempat wudu sempit, kotor, dan kurang terawat
  • Mukena dan sajadah jarang dibersihkan secara rutin
  • Sirkulasi udara di dalam ruangan terasa pengap dan lembap
  • Fasilitas belum ramah bagi penyandang disabilitas
  • Penanda arah kiblat tidak jelas atau kurang akurat
  • Tidak tersedia petugas yang rutin menjaga kebersihan

Kesenjangan antara Mal Mewah dan Mal Kelas Menengah

Perlu diakui, tidak semua mal mengabaikan kualitas mushollanya. Sejumlah pusat perbelanjaan premium di kota besar sudah menghadirkan musholla yang luas, bersih, dan estetis. Namun kondisi tersebut masih menjadi pengecualian, bukan standar. Sementara itu, mal kelas menengah yang lebih sering dikunjungi masyarakat umum justru banyak yang menyediakan fasilitas ibadah yang jauh dari memadai.

Baca Juga :  Transformasi Digital dan Dampaknya terhadap Model B2B2C

Apa yang Bisa Dilakukan Pengunjung?

  • Sampaikan Kritik Resmi: Laporkan kondisi musholla ke pengelola.
  • Bawa Perlengkapan Sendiri: Gunakan mukena dan sajadah pribadi.
  • Hindari Jam Puncak: Salat lebih awal untuk menghindari antrean.
  • Beri Ulasan di Google: Tulis review agar pengelola terdorong berbenah.
  • Dukung Advokasi: Ikut dorong peningkatan fasilitas ibadah.
  • Laporkan ke Pemda: Adukan jika tidak sesuai standar.

Solusi dan Desakan untuk Pengelola

Masalah ini sebenarnya tidak sulit untuk diperbaiki – jika ada kemauan. Pengelola mal perlu memahami bahwa musholla yang nyaman bukan sekadar kewajiban regulasi, melainkan bagian dari pelayanan terhadap pengunjung. Menambah kapasitas ruang salat, menjaga kebersihan secara rutin, menyediakan petunjuk arah yang jelas, serta memastikan fasilitas wudu yang layak adalah langkah sederhana dengan dampak besar.

β€œMal yang benar-benar menghormati pengunjungnya adalah mal yang memastikan mereka bisa beribadah dengan layak β€” bukan sekadar menyediakan ruang sempit di sudut yang terlupakan.”

Referensi

  1. Jakarta Islamic Centre (JIC), kajian musholla di mal (2016)
  2. Syuaib dkk., aksesibilitas musholla (Jurnal Linears, 2019)
  3. Masjid Nusantara, perbedaan masjid & musholla (2024)
  4. Kompas Klasika, kenyamanan ibadah di mal (2018)
  5. GoToMalls & DetikTravel, daftar musholla/mal (2019)
  6. Hukumonline, regulasi rumah ibadah (2019)
  7. Bimas Islam Kemenag RI, data musholla (2024)

Berita Terkait

Menguji Kelayakan Debitur: Analisis Kualitatif dan Prinsip Dasar Pemberian Kredit
Dampak Subscription Economy terhadap Keuangan Gen Z
Ketika Hutan Terbakar, Seberapa Siap Sumber Daya Manusia Kita?
Terlalu Cepat Berkomentar, Terlalu Lambat Memahami
Perilaku Investor Individu dalam Mengelola Portofolio dan Aktivitas Trading di Era Digital
Memahami Logika Produsen di Balik Pasokan Pasar
Strategi Manajerial Kunci Bertahan dan Berkembang di Era Kompetisi Internasional
UMP dalam Menjaga Daya Beli Buruh vs Keberlanjutan Finansial Industri Padat Karya

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 10:35

Menguji Kelayakan Debitur: Analisis Kualitatif dan Prinsip Dasar Pemberian Kredit

Kamis, 3 September 2026 - 14:02

Dampak Subscription Economy terhadap Keuangan Gen Z

Kamis, 3 September 2026 - 11:39

Ketika Hutan Terbakar, Seberapa Siap Sumber Daya Manusia Kita?

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:36

Terlalu Cepat Berkomentar, Terlalu Lambat Memahami

Selasa, 23 Juni 2026 - 20:31

Perilaku Investor Individu dalam Mengelola Portofolio dan Aktivitas Trading di Era Digital

Berita Terbaru

Kampus

Cara Kirim Artikel Mahasiswa di Media Online

Rabu, 2 Sep 2026 - 21:30