KKNT IPB Perkuat Perhutanan Sosial Lewat Agroforestri dan Pemberdayaan Petani Hutan

Ikon Campus Daily web

Jumat, 7 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

dok. kompas.com

dok. kompas.com

Perhutanan Sosial Jadi Pilar Pelestarian Hutan dan Kesejahteraan Masyarakat

Pengelolaan hutan secara lestari menjadi salah satu langkah strategis untuk menjaga keseimbangan antara kelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim, degradasi lahan, hingga tekanan terhadap kawasan hutan, konsep perhutanan sosial dinilai mampu menghadirkan solusi yang berkelanjutan.

Melalui skema ini, masyarakat diberikan kesempatan untuk mengelola kawasan hutan secara legal dengan tetap mengedepankan prinsip konservasi. Tidak hanya menjaga fungsi ekologis hutan, perhutanan sosial juga membuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu maupun pengembangan tanaman produktif.

Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan pengelolaan hutan berbasis masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University melaksanakan berbagai kegiatan pemberdayaan di Desa Cisero, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Program tersebut mencakup sosialisasi perhutanan sosial, pelatihan pembuatan pupuk organik, hingga pembagian bibit tanaman produktif kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Wanariksa.

Kegiatan yang berlangsung pada Senin (3/8/2026) ini menjadi bagian dari komitmen mahasiswa untuk mendukung pengelolaan sumber daya alam yang lebih produktif sekaligus berkelanjutan.

Mahasiswa Hadir Mendampingi Kelompok Tani Hutan

Dalam pelaksanaan program tersebut, mahasiswa KKNT IPB tidak hanya berperan sebagai fasilitator edukasi, tetapi juga menjadi mitra bagi masyarakat dalam meningkatkan kapasitas pengelolaan kawasan hutan sosial.

Koordinator KKNT IPB menjelaskan bahwa keberadaan mahasiswa di lapangan diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kelompok pengelola hutan, baik melalui transfer pengetahuan maupun pendampingan berbagai aktivitas yang menjadi kewajiban kelompok perhutanan sosial.

Pendampingan tersebut mencakup penguatan administrasi kelompok, edukasi mengenai tata kelola kawasan, hingga dukungan dalam pelaksanaan kegiatan teknis seperti pemasangan pal batas kawasan hutan. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan pengelolaan kawasan berjalan sesuai ketentuan sekaligus meminimalkan potensi konflik pemanfaatan lahan.

Baca Juga :  Mahasiswa ITB Ciptakan Mobil Balap CRT-02, Siap Tampil di Formula Student Jepang 2026

Selain itu, mahasiswa juga mendorong masyarakat untuk memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan kelestarian lingkungan agar manfaat kawasan hutan dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Perhutanan Sosial Bukan Sekadar Hak, tetapi Juga Tanggung Jawab

Ketua KTH Wanariksa, Tedi Lesmana, menegaskan bahwa perhutanan sosial merupakan instrumen penting dalam menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

“Perhutanan sosial merupakan pengelolaan hutan lestari yang dilaksanakan oleh masyarakat dan harus mampu mewujudkan kesejahteraan sekaligus menjaga kelestarian hutan. Di dalamnya terdapat hak, kewajiban, dan larangan yang harus dipatuhi,” ujar Tedi dalam keterangan resmi dikutip Jumat (7/8/2026).

Menurutnya, keberhasilan program perhutanan sosial tidak hanya bergantung pada pemanfaatan kawasan hutan, tetapi juga pada kepatuhan masyarakat terhadap berbagai aturan yang telah ditetapkan pemerintah.

Kesadaran tersebut menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan kawasan hutan agar tetap mampu memberikan manfaat bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang.

Agroforestri, Solusi Produktif yang Ramah Lingkungan

Selain sosialisasi mengenai tata kelola perhutanan sosial, peserta juga mendapatkan pelatihan mengenai sistem agroforestri sebagai model pengelolaan hutan yang mampu menggabungkan fungsi ekonomi dan konservasi.

Agroforestri memungkinkan masyarakat menanam berbagai jenis tanaman dalam satu kawasan tanpa mengurangi fungsi ekologis hutan. Sistem ini tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga membantu menjaga kesuburan tanah, mengurangi erosi, serta mempertahankan keanekaragaman hayati.

Alumni IPB University, Yayat Nurkholid, menjelaskan bahwa pemilihan komoditas harus mempertimbangkan kondisi iklim, karakteristik lahan, serta potensi pasar agar memberikan manfaat ekonomi yang optimal.

Menurutnya, pola agroforestri ideal diterapkan berdasarkan stratifikasi vegetasi. Lapisan bawah dimanfaatkan untuk tanaman pangan dan tanaman obat, lapisan tengah diisi tanaman produktif seperti kopi, kakao, maupun jeruk yang dapat dipanen secara berkala, sedangkan lapisan atas ditanami pohon bernilai ekonomi tinggi seperti alpukat.

Baca Juga :  Maudy Safitri Zaya, Finalis Mawapres Nasional 2026 yang Dorong Desa Wisata Go Digital

“Jika pola ini diterapkan dengan baik, masyarakat dapat memperoleh peningkatan pendapatan tanpa mengurangi fungsi ekologis kawasan hutan,” ujar Yayat.

Konsep tersebut diyakini mampu menciptakan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan.

Pelatihan Pupuk Organik dan Pembagian Bibit Produktif

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas lahan, mahasiswa KKNT IPB juga mengadakan pelatihan pembuatan pupuk organik berbasis bioenzim.

Pelatihan ini memanfaatkan bahan-bahan alami yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan masyarakat sehingga lebih hemat biaya dan ramah lingkungan. Selain mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, penggunaan pupuk organik juga dinilai mampu memperbaiki kualitas tanah dalam jangka panjang.

Setelah sesi pelatihan selesai, mahasiswa membagikan bibit tanaman produktif kepada anggota KTH Wanariksa. Bibit tersebut diharapkan dapat dikembangkan melalui pola agroforestri sehingga memberikan nilai ekonomi sekaligus mendukung rehabilitasi kawasan hutan.

Program pembagian bibit juga menjadi bentuk dorongan agar masyarakat semakin aktif melakukan penanaman pohon produktif yang memiliki manfaat ekonomi tanpa mengurangi fungsi konservasi kawasan.

Kolaborasi untuk Masa Depan Hutan yang Berkelanjutan

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa KKNT IPB University berharap pengelolaan perhutanan sosial di Desa Cisero semakin berkembang menjadi contoh praktik pengelolaan hutan yang berkelanjutan.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, kelompok tani hutan, pemerintah, dan masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam mewujudkan pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab. Dengan sinergi tersebut, berbagai tantangan seperti kerusakan hutan, perubahan iklim, hingga keterbatasan ekonomi masyarakat dapat dihadapi secara bersama-sama.

Lebih dari sekadar program pengabdian masyarakat, kegiatan ini menjadi wujud nyata peran perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat.

Ke depan, penguatan kapasitas kelompok perhutanan sosial melalui edukasi, inovasi pertanian, serta pendampingan berkelanjutan diharapkan mampu menciptakan kawasan hutan yang tetap lestari, produktif, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat sekitar. Dengan demikian, perhutanan sosial tidak hanya menjadi konsep pengelolaan hutan, tetapi juga menjadi jalan menuju pembangunan yang lebih inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Jika diperlukan, saya juga dapat membuat 3 judul SEO, meta deskripsi, dan tags format koma untuk artikel ini.

Follow WhatsApp Channel campusdaily.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bupati Garut Lepas Mahasiswa KKN UPI, Fokus Tingkatkan Pendidikan
Mahasiswa UPI Ciptakan Netravest, Rompi AI untuk Bantu Tunanetra
UGM Bagikan Strategi Merawat Tanaman Pakan Ternak di Musim Kemarau
Mahasiswa Mappi di UNJ Digembleng untuk Jadi Pribadi Tangguh dan Berani
PORSI JAWARA II Diikuti 18 PTKIN, UIN KHAS Kirim 125 Kontingen
Baznas Siapkan Rp22 Miliar untuk Beasiswa 200 Mahasiswa Palestina
Sunday Market UMKM Banyumeneng Hadirkan Ruang Baru untuk Produk Lokal
Riset UGM Eksplorasi Kesumba Keling, Bahan Alam untuk Kandidat Terapi TNBC

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 00:04 WIB

Bupati Garut Lepas Mahasiswa KKN UPI, Fokus Tingkatkan Pendidikan

Jumat, 11 September 2026 - 15:12 WIB

Mahasiswa UPI Ciptakan Netravest, Rompi AI untuk Bantu Tunanetra

Jumat, 11 September 2026 - 12:53 WIB

UGM Bagikan Strategi Merawat Tanaman Pakan Ternak di Musim Kemarau

Kamis, 10 September 2026 - 18:29 WIB

Mahasiswa Mappi di UNJ Digembleng untuk Jadi Pribadi Tangguh dan Berani

Kamis, 10 September 2026 - 13:28 WIB

PORSI JAWARA II Diikuti 18 PTKIN, UIN KHAS Kirim 125 Kontingen

Berita Terbaru

Kampus

Cara Kirim Artikel Mahasiswa di Media Online

Rabu, 2 Sep 2026 - 21:30 WIB

dok.megapolitan.antaranews.com

Kampus

UI Dorong Standar Nasional Pengelolaan Asrama Mahasiswa

Senin, 19 Okt 2026 - 10:42 WIB

Opini

Media Sosial Mengubah Cara Mahasiswa Berkomunikasi

Selasa, 13 Okt 2026 - 20:13 WIB