Kampusdaily.com |- Menjadi finalis Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Tingkat Nasional 2026 menjadi pengalaman yang begitu berarti bagi Maudy Safitri Zaya. Mahasiswa Program Studi Usaha Perjalanan Wisata, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu menjadikan perjalanan Mawapres bukan sekadar kompetisi, tetapi sebagai ruang untuk mengenali potensi sekaligus menguji keberanian dirinya.
Sebelum mencapai tingkat nasional, Maudy terlebih dahulu meraih Juara Terbaik II Mawapres Tingkat Wilayah Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah III. Pencapaian tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan akademik dan pengembangan dirinya.
Bagi Maudy, keberhasilan tidak hanya dapat diukur dari penghargaan yang berhasil dibawa pulang. Lebih dari itu, proses panjang selama mengikuti Pilmapres membuatnya belajar menghadapi keraguan dan terus melangkah meski belum merasa sempurna.
“Lewat pengalaman perjalanan Pilmapres ini mengajarkan saya bahwa ternyata saya tetap bisa berjalan tanpa harus meragukan diri sendiri,” ujar Maudy saat diwawancarai Tim Humas UNJ pada 10/8/2026 di Ruang VIP Gedung Rektorat.
Belajar Mengenali Potensi Diri
Perjalanan mengikuti Mawapres membuka banyak pengalaman baru bagi Maudy. Ia harus mengembangkan karya tulis, membangun rekam prestasi, menghasilkan produk, sekaligus memahami lebih dalam potensi yang dimilikinya.
Pengalaman tersebut membuat Maudy menyadari bahwa setiap mahasiswa mempunyai perjalanan masing-masing. Tidak semua orang memulai dari titik yang sama, sehingga membandingkan proses diri dengan pencapaian orang lain bukanlah cara terbaik untuk berkembang.
Ia memilih menjadikan perbedaan tersebut sebagai alasan untuk terus belajar. Baginya, kesempatan untuk berkembang selalu tersedia selama seseorang berani mengambil langkah dan tidak membiarkan keraguan menjadi penghalang.
“Saya paham bahwa setiap orang memiliki titik mulai yang berbeda. Ke mana pun langkah dalam belajar membawa, kita selalu punya kesempatan baik untuk kita gapai tanpa meragukan atau diragukan,” katanya.
Pandangan tersebut menjadi salah satu prinsip yang membentuk perjalanan Maudy. Ia tidak ingin prestasi hanya menjadi angka atau daftar penghargaan, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter dan keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru.
Membawa Pariwisata Indonesia Lebih Dekat
Kecintaan terhadap dunia pariwisata menjadi bahan bakar utama bagi Maudy dalam mengembangkan berbagai gagasan. Salah satu perhatian yang ingin terus ia dorong adalah desa wisata.
Menurutnya, desa wisata memiliki potensi besar untuk menjadi bagian penting dari wajah pariwisata Indonesia. Kekayaan alam, budaya, tradisi, kuliner, hingga pengalaman lokal dapat menjadi daya tarik yang memiliki nilai bagi wisatawan.
“Saya ingin terus dapat berkontribusi bagi pariwisata Indonesia, khususnya desa wisata sebagai tempat pengembangan destinasi lokal yang begitu banyak memiliki potensi di dalamnya,” ujar Maudy.
Ketertarikannya terhadap sektor pariwisata juga didukung dengan berbagai pengalaman selama berada di bangku kuliah. Maudy telah tersertifikasi sebagai tour leader dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Ia juga aktif menjadi pembicara dalam berbagai webinar dan seminar, baik tingkat lokal maupun nasional. Selain itu, Maudy dipercaya menjadi moderator dalam sejumlah kegiatan berskala nasional hingga internasional.
Jejak prestasinya semakin lengkap dengan kepemilikan lebih dari lima Hak Kekayaan Intelektual (HKI), pengalaman sebagai penulis buku ber-ISBN, serta penghargaan dalam program internship bidang pariwisata melalui pengalaman di Ground Handling Operation untuk Resort World One International Cruise Ship.
Berawal dari Rasa Takut
Di balik sederet pencapaian tersebut, Maudy ternyata tidak memulai perjalanan sebagai mahasiswa yang sejak awal dipenuhi prestasi. Ia justru mengakui pernah dihantui rasa takut dan merasa tidak pantas berada dalam berbagai kesempatan besar.
“Saya bukan siapa-siapa sejak awal, bukan mahasiswa dengan segudang prestasi perlombaan, bukan mahasiswa yang terlalu pintar di bidang karya ilmiah dan semacamnya,” katanya.
Namun, rasa ingin tahu membuatnya terus bergerak. Keinginan untuk belajar dan mencoba pengalaman baru perlahan membawanya menuju berbagai kesempatan yang sebelumnya mungkin tidak pernah ia bayangkan.
Pengalaman tersebut kemudian ingin dibagikan kepada mahasiswa lain yang mungkin sedang berada dalam fase penuh keraguan. Menurut Maudy, seseorang tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk mulai berkarya.
“Terkadang hal terpenting itu bukan hasil akhir, tetapi bagaimana proses tersebut membentuk diri kita menjadi versi yang terbaik,” ujarnya.
Dalam prosesnya, Maudy juga menghadapi tantangan finansial dan kondisi emosional. Dukungan keluarga, dosen, pembimbing, pembina, hingga teman seperjuangan menjadi kekuatan yang membuatnya tetap bertahan.
Peran Dosen dan Lingkungan Pendukung
Salah satu sosok yang memiliki peran penting dalam perjalanan Maudy adalah dosen pembimbingnya, Lala Siti Sahara. Maudy menyebut sang dosen selalu memberikan dukungan ketika dirinya mulai meragukan kemampuan maupun produk yang sedang dikembangkan.
“Beliau selalu mengajarkan dan mengingatkan saya untuk memberikan yang terbaik yang kita bisa tanpa menuntut sesuatu dari diri saya,” katanya.
Lala juga membantu Maudy mengembangkan produknya hingga dapat diperkenalkan kepada masyarakat lokal di desa wisata untuk dikembangkan dan dijalankan.
Selain dosen pembimbing, Maudy turut mengapresiasi dukungan dari dosen Program Studi Usaha Perjalanan Wisata, pembina Forum Mahasiswa Berprestasi (Formapres) UNJ, serta rekan seperjuangannya dalam Pilmapres Nasional, Rangga.
Dukungan tersebut menjadi pengingat bahwa pencapaian individu sering kali lahir dari lingkungan yang ikut memberikan ruang untuk tumbuh.
Dukungan Keluarga Menjadi Fondasi
Keluarga juga menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan Maudy. Ia berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi sederhana dan dapat melanjutkan pendidikan tinggi melalui dukungan beasiswa.
Menurutnya, orang tua tidak pernah membatasi dirinya untuk mengambil kesempatan positif. Sebaliknya, ayah dan ibunya memberikan kepercayaan agar Maudy dapat mencoba berbagai aktivitas yang sesuai dengan minatnya.
“Segala kepercayaan yang keluarga saya berikan telah membentuk diri saya hingga sekarang. Saya menjadi seseorang yang tidak takut untuk mengambil segala kesempatan baik yang ada dan datang,” ujarnya.
Kepercayaan tersebut menjadi modal berharga bagi Maudy dalam menjalani berbagai tantangan. Orang tuanya juga selalu mengingatkan agar ia melibatkan Tuhan dalam setiap perjalanan yang dilalui.
Deswita, Jembatan Digital Desa Wisata
Tidak hanya berbicara tentang desa wisata, Maudy juga mencoba menghadirkan solusi melalui inovasi digital. Ia mengembangkan aplikasi bernama Deswita yang dirancang untuk mempertemukan wisatawan dengan desa wisata di berbagai wilayah Indonesia.
Platform tersebut menyediakan informasi mengenai desa wisata berdasarkan sejumlah kategori, seperti wisata alam dan budaya. Wisatawan dapat menemukan informasi tentang destinasi, atraksi, homestay, hingga paket wisata.
“Intinya saya ingin menghubungkan desa wisata dengan jembatan digitalisasi agar setiap orang bisa menemukan desa wisata,” ujar Maudy.
Pengembangan aplikasi Deswita telah diujicobakan di Desa Wisata Sukamandi Masagi, Kabupaten Subang. Maudy juga menghadirkan fitur Deswita.AI yang berfungsi sebagai asisten rekomendasi perjalanan.
Fitur tersebut memungkinkan wisatawan memperoleh rekomendasi desa wisata berdasarkan minat, termasuk informasi kuliner khas dan daya tarik yang tersedia. Di sisi lain, aplikasi ini dirancang membantu pengelola desa wisata dalam mencatat data kunjungan secara lebih terorganisasi.
Selama ini, sebagian desa wisata masih menghadapi tantangan dalam pencatatan data pengunjung yang terintegrasi. Kehadiran platform digital diharapkan dapat membantu mengisi kebutuhan tersebut.
Maudy berharap Deswita dapat terus berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi pengelola maupun wisatawan. Lebih jauh, inovasi tersebut menjadi upayanya untuk membuat potensi desa wisata semakin mudah ditemukan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya dan pengalaman lokal Indonesia kepada masyarakat yang lebih luas.
























