Riset Yoseph Herwindo Ungkap Potensi Skandium di Laterit Nikel Konawe Utara

Rabu, 24 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Pengembangan Website Campus Daily
+ Donasi

dok. upnyk.ac.id

dok. upnyk.ac.id

Portalmahasiswa.com |- Perkembangan teknologi modern dan transisi menuju energi bersih mendorong kebutuhan terhadap berbagai mineral kritis yang memiliki nilai strategis tinggi. Salah satu mineral yang kini menjadi perhatian dunia adalah skandium, unsur tanah jarang yang berperan penting dalam berbagai sektor industri berteknologi tinggi, mulai dari energi hidrogen, pertahanan, hingga kedirgantaraan.

Di tengah meningkatnya kebutuhan global tersebut, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta kembali menunjukkan kontribusinya dalam pengembangan ilmu kebumian dan eksplorasi sumber daya mineral nasional. Melalui penelitian doktoral yang mendalam, Yoseph Herwindo Paskarino berhasil menghadirkan model ilmiah baru terkait proses pengayaan skandium pada endapan laterit nikel di Indonesia.

Penelitian tersebut menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat pemahaman mengenai potensi mineral kritis yang selama ini belum banyak dikembangkan secara optimal. Temuan ini sekaligus membuka peluang baru bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah industri pertambangan nasional.

Raih Gelar Doktor dengan Penelitian Mineral Strategis

Yoseph Herwindo Paskarino, yang dikenal sebagai profesional geologi sekaligus Exploration Expert Specialist PT ANTAM (Persero) Tbk, resmi meraih gelar Doktor Teknik Geologi setelah sukses mempertahankan disertasinya dalam Sidang Terbuka yang digelar pada 23 Juni 2026.

Disertasi yang diangkat berjudul “Model Pengayaan Skandium dalam Laterit Nikel di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.” Penelitian tersebut menjadi perhatian karena membahas salah satu unsur strategis yang memiliki prospek besar dalam mendukung perkembangan teknologi masa depan.

Skandium saat ini termasuk dalam kelompok mineral kritis yang dibutuhkan berbagai negara untuk mendukung pengembangan industri berbasis teknologi tinggi. Namun, hingga kini penelitian mengenai proses pembentukan dan pengayaannya masih relatif terbatas, terutama di Indonesia.

Karena itulah hasil penelitian Yoseph dinilai memiliki nilai ilmiah dan ekonomi yang sangat penting.

Skandium dan Perannya dalam Teknologi Masa Depan

Banyak masyarakat yang masih asing dengan nama skandium. Padahal, unsur ini memiliki peranan besar dalam mendukung berbagai inovasi teknologi modern.

Skandium banyak dimanfaatkan dalam pengembangan Solid Oxide Fuel Cell (SOFC), yaitu teknologi yang berkontribusi dalam sistem energi berbasis hidrogen. Teknologi ini dianggap sebagai salah satu solusi masa depan dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Selain itu, skandium juga digunakan sebagai campuran logam aluminium-skandium yang mampu meningkatkan kekuatan material sekaligus memberikan ketahanan korosi yang lebih baik.

Baca Juga :  Mahasiswa PPG UPI Dukung Peningkatan Mutu Pendidikan di Kabupaten Garut

Karakteristik tersebut membuat skandium sangat dibutuhkan dalam industri pertahanan, penerbangan, hingga kedirgantaraan yang memerlukan material ringan namun memiliki kekuatan tinggi.

Melihat pentingnya peran unsur ini, pemahaman mengenai keberadaan dan proses pengayaannya menjadi sangat strategis bagi masa depan industri nasional.

Meneliti Laterit Nikel di Konawe Utara

Penelitian Yoseph berfokus pada empat blok laterit nikel yang berada di Kompleks Ofiolit Sulawesi Timur, tepatnya di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

Wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu kawasan yang memiliki cadangan nikel laterit cukup besar. Namun di balik potensi nikelnya, terdapat peluang lain berupa kandungan skandium yang selama ini belum banyak dieksplorasi secara mendalam.

Melalui pendekatan geologi, mineralogi, dan geokimia, Yoseph menganalisis hubungan antara batuan ultramafik sebagai batuan induk, proses pelapukan tropis yang berlangsung selama jutaan tahun, serta mekanisme terbentuknya mineral pembawa skandium.

Pendekatan multidisiplin ini memungkinkan peneliti memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai perjalanan unsur skandium sejak berada di batuan asal hingga mengalami pengayaan pada lapisan laterit.

Mengungkap Sumber dan Proses Pengayaan Skandium

Hasil penelitian menunjukkan bahwa batuan ultramafik seperti lherzolit, harzburgit, dunit, dan klinopiroksenit menjadi sumber utama keberadaan skandium.

Pada kondisi awal, kandungan skandium di dalam batuan dasar hanya berkisar antara 3 hingga 16 ppm (parts per million). Namun melalui proses pelapukan tropis yang berlangsung dalam waktu sangat panjang, kandungan tersebut mengalami peningkatan secara signifikan.

Di beberapa lokasi penelitian, kadar skandium pada zona limonit bahkan dapat mencapai lebih dari 100 ppm.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa proses alam mampu menciptakan konsentrasi skandium yang jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi awal batuan induk.

Menurut Yoseph, selama ini keberadaan skandium sering dianggap sebagai unsur ikutan tanpa adanya pemahaman yang jelas mengenai mekanisme pembentukannya.

“Selama ini, skandium di Indonesia sering kali hanya diperlakukan sebagai unsur ikutan tanpa kerangka genetik yang jelas. Penelitian ini membangun model berbasis proses untuk menjelaskan bagaimana skandium terbentuk, berpindah, dan terkonsentrasi dalam sistem laterit nikel,” ujar Yoseph. Seperti Dilansir upnyk.ac.id

Peran Penting Aluminium dalam Pembentukan Skandium

Salah satu temuan menarik dalam penelitian ini adalah peran unsur aluminium sebagai pembawa utama skandium pada batuan asal.

Penelitian menunjukkan bahwa aluminium memiliki hubungan yang lebih kuat dengan skandium dibandingkan unsur besi maupun magnesium.

Kesamaan sifat kimia dan valensi antara aluminium dan skandium membuat kedua unsur tersebut dapat berada bersama dalam mineral augit secara lebih stabil.

Baca Juga :  Alumni FHUP Resmi Menetapkan Dr. Sayuti Abubakar sebagai Ketua KAUP 2026–2030

Ketika proses lateritisasi berlangsung, skandium terlepas dari mineral asalnya dan mengalami perpindahan menuju lapisan limonit.

Pada tahap tersebut, unsur skandium kemudian terkonsentrasi melalui mekanisme adsorpsi dan substitusi pada mineral oksida besi sekunder seperti goetit dan hematit.

Penjelasan ini menjadi kontribusi ilmiah yang penting karena memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai proses geokimia yang mengendalikan distribusi skandium di alam.

Dukungan Akademik untuk Hilirisasi Mineral Nasional

Temuan penelitian ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak di lingkungan akademik UPN “Veteran” Yogyakarta.

Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta, Prof. Dr. Mohamad Irhas Effendi, M.Si., menilai riset tersebut menjadi bukti nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pengelolaan sumber daya alam secara ilmiah dan berkelanjutan.

“Riset ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyediakan dasar ilmiah bagi pengelolaan sumber daya alam. Temuan seperti ini dapat mendukung hilirisasi mineral, pengembangan teknologi, dan kemandirian energi bersih di Indonesia,” ujar Rektor.

Sementara itu, Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi UPN “Veteran” Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. R. M. Basuki Rahmad, M.T., menegaskan bahwa penelitian tersebut memberikan perspektif baru dalam bidang geologi ekonomi.

“Model yang dihasilkan dari penelitian ini dapat menjadi acuan penting dalam eksplorasi mineral kritis, khususnya skandium pada endapan laterit nikel. Hal ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mengoptimalkan potensi mineral strategis yang selama ini belum banyak dikembangkan,” katanya.

Membuka Peluang Baru bagi Industri Nasional

Dengan adanya model pengayaan skandium yang lebih jelas, Indonesia kini memiliki landasan ilmiah yang lebih kuat dalam merancang strategi eksplorasi dan pemanfaatan mineral kritis tersebut.

Ke depan, skandium berpotensi menjadi produk sampingan bernilai tinggi dari industri nikel laterit yang saat ini berkembang pesat di Indonesia.

Jika dikelola secara optimal, keberadaan skandium dapat meningkatkan nilai tambah sektor pertambangan nasional sekaligus mendukung pengembangan industri berbasis teknologi tinggi.

Temuan ini juga memperkuat posisi UPN “Veteran” Yogyakarta sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif berkontribusi dalam pengembangan ilmu kebumian, hilirisasi mineral, serta transformasi menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan.

Dedikasi Akademik yang Menginspirasi

Keberhasilan Yoseph Herwindo Paskarino meraih gelar doktor juga menjadi kisah inspiratif tersendiri. Seluruh jenjang pendidikan tingginya, mulai dari sarjana, magister, hingga doktoral, ditempuh di Jurusan Teknik Geologi UPN “Veteran” Yogyakarta.

Tidak hanya itu, ia juga memperkaya kompetensinya melalui pendidikan internasional dengan meraih Diplome d’Expert dan Master Science dari Ecole Nationale Superieure de Geologie, Nancy, Perancis.

Perjalanan akademik tersebut menjadi bukti bahwa konsistensi dalam belajar dan penelitian mampu menghasilkan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta kemajuan industri nasional.

Melalui penelitian ini, Yoseph tidak hanya meraih gelar akademik tertinggi, tetapi juga memberikan fondasi ilmiah penting yang dapat mendukung masa depan eksplorasi mineral strategis Indonesia di era transisi energi global.

Berita Terkait

3.596 Mahasiswa Baru UNY Dibekali Karakter dan Kepemimpinan Sejak Awal Perkuliahan
Lutfi Fitriyani Buktikan Mahasiswa TRKI UNDIP Bisa Berdampak bagi Lingkungan
UPI Kenalkan Teknologi VR-AI untuk Tingkatkan Literasi Kesehatan Mental Pekerja Migran di Jepang
Cara Kirim Artikel Mahasiswa di Media Online
UPI Hibahkan Teknologi Irigasi Cerdas Berbasis IoT untuk Petani Cibiru Wetan
UB dan Singapura Kolaborasi Evaluasi Layanan Kegawatdaruratan di Jawa Timur
UPI Latih Guru SIJB Produksi Media Pembelajaran Berbasis AI
20 Mahasiswa Resmi Jadi Duta Kampus UIN KHAS Jember 2026

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 13:30

3.596 Mahasiswa Baru UNY Dibekali Karakter dan Kepemimpinan Sejak Awal Perkuliahan

Sabtu, 5 September 2026 - 15:40

Lutfi Fitriyani Buktikan Mahasiswa TRKI UNDIP Bisa Berdampak bagi Lingkungan

Rabu, 2 September 2026 - 21:30

Cara Kirim Artikel Mahasiswa di Media Online

Rabu, 2 September 2026 - 12:08

UPI Hibahkan Teknologi Irigasi Cerdas Berbasis IoT untuk Petani Cibiru Wetan

Selasa, 1 September 2026 - 23:09

UB dan Singapura Kolaborasi Evaluasi Layanan Kegawatdaruratan di Jawa Timur

Berita Terbaru

Kampus

Cara Kirim Artikel Mahasiswa di Media Online

Rabu, 2 Sep 2026 - 21:30