Nggak Cuma Bonjour: Suka Duka Kuliah dan Adaptasi di Prancis, Kisah Alumni UB

Kamis, 3 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Pengembangan Website Kampus Daily
+ Donasi

Kampus Daily |Saat mendengar tentang kuliah di Prancis, hal pertama yang terlintas di benak orang biasanya adalah hal-hal seperti Menara Eiffel, croissant hangat, dan bahasa yang tampaknya indah tetapi sulit dipelajari. Namun, setelah mendengarkan wacana santai antara Tricia Ayumi dan Rosa Mistica di podcast Ruang Tamu RRI Malang, saya menyadari bahwa gambaran itu hanyalah bagian atas. Sebenarnya, mengucapkan “Bonjour” dengan lancar jauh lebih menyenangkan dan, sejujurnya, lebih sulit untuk dilakukan.

Tricia telah menjalani program double degree, kuliah di Universitas Brawijaya (UB) dan Université Polytechnique Hauts-de-France (UPHF) di Prancis. Meskipun Rosa adalah pendiri komunitas Malang Ngomong Prancis dan juga seorang tutor bahasa Prancis yang memahami bagaimana belajar bahasa dari nol. Dari percakapan mereka, jelas bahwa hidup di Prancis bukan hanya menguasai bahasanya; ada sistem pendidikan yang sangat berbeda, budaya sosial yang harus dipelajari, dan pentingnya memiliki kelompok yang dapat berfungsi sebagai tempat “pulang” di negeri orang.

Kelas Besar, Diskusi kecil, dan Berani untuk Ngomong

Selama sembilan bulan kuliah, Trisia melihat metode belajar yang sangat berbeda dari yang biasa kita lihat. Cours Magistraux (CM) adalah kelas kuliah umum yang dapat diisi ratusan siswa sekaligus, seperti kuliah umum di aula. Selain itu, ada juga Travaux Dirigés (TD) dan Travaux Pratiques (TP), yang merupakan kelompok yang lebih kecil yang bertanggung jawab atas latihan dan praktik yang jauh lebih rumit.

Baca Juga :  Fakhriya Hafal 30 Juz dapat Beasiswa Kuliah di UAD, Ini Tipsnya!

Bukan hanya duduk dan menerima materi dari guru, tetapi dia juga diajak berpikir, bertanya, berdebat, dan bahkan menyatakan ketidaksetujuannya. Ini adalah kejutan budaya unik bagi mahasiswa Indonesia yang mungkin sudah terbiasa dengan budaya “manut”. Ternyata berani berbicara di kelas itu bukan hanya masalah psikologis; itu adalah bagian dari cara berpikir kritis yang telah diajarkan sejak awal.

Sertifikat B2 Tidak Cukup

Menurut pendapat saya, bagian ini paling relevan bagi siapa pun yang sedang belajar bahasa asing. Tricia memiliki sertifikat DELF B2, yang merupakan tingkat yang cukup tinggi bagi pembelajar bahasa Prancis. Namun, saat bekerja di lapangan, ternyata sertifikat tidak cukup untuk memudahkan komunikasi sehari-hari.

Sangat sulit untuk berbicara dengan orang asli. Logatnya berbeda, bahasanya berbeda dari yang diajarkan di kelas, dan kecepatan berbicaranya kadang-kadang membuat pusing. Saat ini, kemampuan untuk menyimak dan berbicara, bukan hanya menghafal kosa kata, sangat penting.

 Menurut Rosa, mendengarkan (listening) dan berbicara (speaking) adalah bagian paling menantang bagi pembelajar bahasa Prancis. Oleh karena itu, hanya mengingat kosa kata atau ngulik tata bahasa tidak cukup. Salah satu teknik yang dia sarankan adalah shadowing: dengerin orang asli dan terus meniru suara mereka, seperti meniru lagu. Belajar bahasa pada dasarnya memerlukan keberanian untuk membuka mulut dan terus mencoba meskipun sering salah.

Baca Juga :  Orientasi Pascasarjana FH PSDKU UB Jakarta Resmi Digelar

Belajar dari Kesalahan Sehari-hari

Yang membuat saya tertawa saat mendengar bagian ini adalah fakta bahwa kebiasaan sederhana dapat membantu kamu mempelajari budaya Prancis. Mengucapkan “bonjour” saat masuk ke toko dan “au revoir” saat keluar adalah bagian dari etika sosial yang sebenarnya. Jika terlalu banyak, itu bisa dianggap tidak sopan.

Kafe memiliki karakteristik unik sebagai tempat nongkrong di mana orang dapat berkumpul untuk berbicara dan berbagi ide. Selain itu, ada orang-orang yang menjadikan baca buku di transportasi umum sebagai bagian dari gaya hidup mereka. Ini adalah kebiasaan yang mungkin jarang kita lihat sehari-hari.  Hal-hal kecil seperti ini menunjukkan bahwa belajar Prancis tidak cukup untuk memahaminya. Budaya dan bahasa sangat berdekatan.

Prancis tidak sejauh yang dibayangkan

Kisah Tricia dan Rosa menunjukkan bahwa persiapan untuk ke Prancis memerlukan lebih dari sekadar keinginan untuk berangkat. Bahasa harus disiapkan dari jauh-jauh hari, dokumen seperti visa dan ijazah juga harus disiapkan, dan yang paling penting adalah membangun hubungan dengan komunitas sehingga kamu tidak merasa sendirian saat berada di sana.

Pada akhirnya, belajar Prancis tidak hanya tentang mengucapkan bonjour dengan pelafalan yang benar. Keberanian untuk berbicara meskipun belum fasih, kemampuan untuk berpikir kritis, kesiapan mental untuk beradaptasi dengan lingkungan budaya yang berbeda, dan yang paling penting, keinginan untuk terus belajar dari lingkungan sekitar.

Sebab, terkadang cara terbaik untuk mengenal sebuah budaya bukan hanya dengan membacanya, tetapi dengan mendengarkan orang-orang yang pernah mengalaminya.[]

 

Penulis : Banyu Bening

Berita Terkait

KKM Mahasiswa Universitas Islam Bogor Hadirkan Gerakan 1 Rumah 1 Pohon
Guru Besar FIKK UNJ Tampil Gemilang, Prof. Ramdan Pelana Juara Lecturer Single Open
Perjuangan di Balik IPK 3,99: Mahasiswa KIP-K UIJ Buktikan Keterbatasan Bukan Halangan
UPI Unjuk Inovasi Berkelanjutan di Kongres Internasional, Perkuat Jejaring dan Pengakuan Global
Mahasiswa SV Undip Belajar Table Manner, Bekal Etika untuk Dunia Profesional
Dari FISIP UNDIP ke Duta Inspirasi Indonesia, Perjalanan Inspiratif Amelia Rizky
Direktur Human Capital BPJS Ketenagakerjaan Raih Gelar Doktor di Universitas Bhayangkara
Lima Mahasiswa ITB Juara 1 Inovasi Produk Nasional Membuat Masker dari Limbah

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 11:25

Nggak Cuma Bonjour: Suka Duka Kuliah dan Adaptasi di Prancis, Kisah Alumni UB

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:22

KKM Mahasiswa Universitas Islam Bogor Hadirkan Gerakan 1 Rumah 1 Pohon

Rabu, 12 Agustus 2026 - 16:37

Guru Besar FIKK UNJ Tampil Gemilang, Prof. Ramdan Pelana Juara Lecturer Single Open

Minggu, 9 Agustus 2026 - 12:55

Perjuangan di Balik IPK 3,99: Mahasiswa KIP-K UIJ Buktikan Keterbatasan Bukan Halangan

Kamis, 25 Juni 2026 - 09:38

UPI Unjuk Inovasi Berkelanjutan di Kongres Internasional, Perkuat Jejaring dan Pengakuan Global

Berita Terbaru